Dami merasa tidak nyaman sekaligus bersalah. Namun saudara Wern benar-benar ahli dalam mengendalikan suasana. Dael memberikannya teh hangat beraroma mawar yang menenangkan. Sementara Solaris telah mengajak Jadrian duduk di antara mereka, melingkari api unggun bak sekelompok muda-mudi yang sedang berkemah.
Dami tak ingin memandang Jadrian, dia menunduk saja pada gelasnya.
"Seharusnya kita membawa gadis-gadis ke sini," komentar Victor.
Solaris tertawa mendengarnya. "Ketika di Pirus, biasanya kita berkumpul di depan api unggun. Para pemuda dan pemudi dari masing-masing keluarga datang untuk bersantai bersama."
"Pirus?" Ulang Dami penasaran.
"Ya, Pirus adalah nama wilayah kami," jawab Dael mengangguk. "Pirus adalah kota terbesar werewolf. Ada sekitar seratus lebih keluarga yang tinggal bersama di sana."
"Kota itu tidak ada bagusnya," cemooh Victor. "Kampungan."
Dael melotot pada Victor. "Menurutku tidak begitu," ujarnya, menantang Victor. "Pirus masih memiliki keasliannya. Di sana ada banyak pemandangan indah. Kau akan suka melihatnya Dami."
"Apakah seperti di North Oak?" Tanya Dami.
"Lebih dari pada itu," ujar Dael, tersenyum.
"Wah, kedengaran menarik! Oh ya, kata Dael kau adalah calon alpha, Sol." Celetuk Dami, menoleh pada Solaris.
Solaris sedikit terkejut mendengarnya, lalu ia melirik pada Dael dengan sorot jengkel. Dael hanya tersenyum menyeringai.
"Aku kangen membicarakan tentang kota kita. Jadinya aku kelepasan ketika berbicara dengan Dami," aku Dael.
"Kau akan menjadi alpha?" Tanya Jadrian, tertarik mendengarnya.
Solaris menggeleng. "Akan diadakan pemilihan alpha untuk keluarga Wern. Ada banyak calon alpha, jadi belum tentu aku yang akan terpilih."
"Tidak, Solaris sudah jelas akan menjadi alpha. Semua orang pasti akan memilih Sol." Kata Dael yakin.
"Kedengaran menarik," komentar Topaz. "Apakah ayah kalian adalah alpha?"
"Bukan. Papa adalah Beta. Papa menggantikan Alpha yang meninggal akibat pemberontakan sepuluh tahun lalu." Jawab Dael.
"Oh," Jadrian mengangguk.
Jawaban Dael membuat mereka semua terdiam. Keheningan menyelimuti mereka karena teringat dengan peristiwa pemberontakan yang tidak mengenakkan itu.
"Jadi selama ini ayahmu yang menggantikan Alpha," komentar Topaz, mengusik keheningan. "Berapa lama pergantian Alpha?"
"Alpha memimpin sampai mereka tidak mampu memimpin lagi," jawab Solaris. Ia menambah potongan kayu pada api unggun. "Jika Alpha meninggal atau tidak mampu memimpin sebelum ada calon alpha terbaik yang dipilih, maka Beta akan menggantikannya sampai Alpha berikutnya terpilih. Pada kasus keluarga kami di sepuluh tahun lalu, pada saat itu memang tidak ada calon Alpha. Jadi Beta jantan dan Alpha betina yang akan memimpin keluarga."
"Alpha akan menikah lebih dulu," celetuk Victor. "Kau pasti akan menikah dengan salah satu putri dari keluarga Deep," ia menyeringai. "Payah ya, kalian seperti tidak memiliki pilihan lain saja. Kalau aku, lebih baik mati daripada menikah dengan gadis yang tidak kusuka."
"Kau serius?" Tanya Dami, terheran-heran memandang Victor.
"Dia hanya omong besar," kata Dael, mendengus tidak suka.
"Kali ini aku serius." Victor melotot pada Dael. "Jangan kira aku tidak bisa melakukan apa pun."
"Hei, sudahlah," Solaris menengahi.
"Jika kau resmi menjadi alpha, Sol," Victor mengabaikan Solaris yang mencoba menghentikan mereka berdua. "Bisakah kau mengubah tradisi werewolf yang konyol itu? Menikah adalah hak masing-masing makhluk hidup. Bahkan hewan saja memilih pasangannya masing-masing. Bukankah konyol sekali jika kita sebagai makhluk yang berakal tidak memilih pasangan yang kita inginkan?"
Kali ini Dael tidak menyahut. Sepertinya ia setuju dengan Victor.
"Aku belum tentu menjadi Alpha," Solaris tersenyum kecil. "Lebih baik kita fokus pada studi kita selama di Burdenjam. Ingat, Papa meminta pertanggungjawaban kita."
"Argh, sebentar lagi kalian akan kuliah kan? Tidak akan lama lagi kalian dipanggil untuk Pemilihan. Kalian berdua pasti akan masuk ke dalam sistem hirarki keluarga. Sementara aku hanya akan menjadi ujung dari ekor kalian. Tidak bisakah aku tetap tinggal di Burdenjam saja ketika masa itu datang?"
"Keluarga tidak boleh tinggal berjauhan, Vic." Solaris mengingatkan.
"Tapi aku memang bukan keluarga kalian!" Seru Victor.
"Apakah acara perburuan ini akan menjadi ajang perseteruan saudara?" Celetuk Topaz.
"Maaf, Topaz," kata Solaris segera.
"Diamlah, Vic," perintah Dael.
Victor mendengus kesal, namun akhirnya ia menutup mulutnya.
"Tidak masalah. Aku dan Jadrian juga sering bertengkar," ujar Topaz, menyengir pada Jadrian.
"Seperti apa jika Vampir bertengkar?" Tanya Victor ingin tahu.
"Hmm, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," Jadrian tersenyum saja.
"Sebenarnya di masa lalu agak mengerikan." Topaz berkata.
"Aku tidak ingat," Dami mengerutkan dahi.
"Memangnya apa yang kau ingat?" Tanya Victor heran.
Seketika mereka semua selain Victor menyadari jika rahasia perubahan Dami belum diketahui oleh Victor. Tentu Victor merasa heran mendengar pernyataan Dami.
Dami mengedikkan bahu, tertawa kikuk. "Aku tidak ingat bagaimana aku bisa diadopsi oleh Jadrian. Haha..."
"Kurasa sudah waktunya," Solaris berdiri, lalu meregangkan tubuhnya. "Apakah kalian sudah siap berburu?"
"Aku akan menunggu di sini saja," kata Jadrian, melirik pada Dami.
"Kenapa?" Tanya Dami kepada Jadrian, kedengaran tidak senang. "Aku di sini tidak untuk menahanmu atau apa!"
Victor malah tertawa mengejek Dami. "Apakah hewan buas suka darahmu, Dami? Saudara Vampirmu sepertinya akan terus menempel padamu!"
Seketika wajah Dami merona mendengar ejekan Victor.
"Kau seharusnya tidak terlalu cemas, Jade," kata Solaris. "Aku dan Dael sudah memilihkan lokasi api unggun terbaik, tidak akan ada hewan buas yang muncul di sini. Juga tidak akan ada werewolf yang bergabung di sini malam ini. Kami sudah memastikan jika wilayah ini hanya dikuasai oleh kita."
Dael mengangguk. "Kami punya kelompok perburuan werewolf. Karena Dami akan ikut, kami meminta mereka untuk tidak melakukan perburuan hari ini di sekitar Hutan Lembah."
"Tapi," Jadrian terlihat tidak akan goyah. Kedua tangannya bersedekap.
"Ayolah, Jade. Mari bermain-main. Kau kaku sekali. Atau kau hanya takut akan kalah dalam perburuan ini?" Cemooh Topaz.
"Yeah, Jadrian mungkin memang sudah sangat tua untuk berburu," kata Dami juga.
Jadrian memutar bola matanya. "Ini mengesalkan mendengar kau meragukan kemampuanku, Dami."
"Nah, kalau begitu tunjukkan kepadaku," tantang Dami.
Sepertinya Dami berhasil membuat si Vampir bergerak. Jadrian terpaksa berdiri.
"Yah, bagaimana permainannya?" Tanya Jadrian akhirnya.
"Wah, mengasyikkan!" Seru Victor. "Mungkin hari ini aku tidak akan menjadi pemburu terakhir!"
Jadrian tersenyum kecil, "sepertinya aku benar-benar diragukan di sini ya?"
"Ayo kita tunjukkan jika Vampir itu keren," kata Topaz, terdengar tidak sabaran.
"Sebelumnya kami akan melakukan transformasi," Solaris mengumumkan dan mendapat sorot tajam dari Jadrian.
"Jangan khawatir, Jade," kata Solaris, menyadari kekhawatiran Jadrian. "Kami bertiga tidak akan menyerang Dami."
"Ya, kami tidak akan melakukannya. Tapi entah kalau Victor." Dengus Dael.
"Hei, aku sudah terbiasa dengan bau tubuh Dami. Dia bukan seleraku." Kata Victor dengan senyum menyeringai.
Dami membelalakan mata pada Victor. Victor hanya tertawa melihat ekspresi ngeri di wajah Dami.
"Lebih baik kita dengar peraturannya dulu," kata Solaris. "Kali ini kita akan berburu bersama dengan dengan dua Vampir, tentu mereka tidak mengetahui aturan permainan kita."
Dael dan Victor mengangguk serempak. Lalu tanpa sengaja keduanya saling bertukar pandang sedetik, tak sampai sedetik berikutnya mereka berdua sudah memalingkan wajah masing-masing.
"Sebenarnya ini hanyalah tradisi permainan berburu para werewolf," Solaris menerangkan. "Biasanya setelah fase bulan purnama selesai, kami akan menjadwalkan perkumpulan perburuan. Paling sedikit pertemuan ini adalah tiga kali dalam setahun. Meskipun ini hanyalah permainan, kami menyambutnya dengan serius."
"Dalam Berburu kami menunjukkan kebolehan kami secara individu. Kadang-kadang kami membuat aturan dengan perburuan secara kelompok." Dael melanjutkan. "Pokoknya disesuaikan dengan kesepakatan kami jika kami bosan berburu sendiri."
Topaz mengangkat tangannya, membuat yang lain menaruh perhatian kepadanya. Solaris mengangguk untuk mendengarkan respon Topaz.
"Apakah pemenangnya adalah Alpha?" Tanya Topaz.
"Tidak selalu alpha," jawab Solaris. "Alpha tidak selalu menjadi yang terkuat dan tercepat. Dalam werewolf, Alpha adalah pemimpin yang tahu bagaimana cara melindungi kelompoknya untuk bertahan hidup. Dalam keluarga Wern, Dael adalah yang tercepat."
"Wah, fakta yang mengejutkan," komentar Jadrian sambil mengangguk-angguk.
"Tidak, aku tidak selalu menang," Dael merendah, walau begitu kedua pipinya sudah merona.
"Ya, tapi dia penakut," kata Victor meremehkan. "Dia hanya lebih dulu mendapatkan hewan perburuan, tapi dia takut melawan werewolf lainnya."
Dael hanya memutar bola matanya, mengabaikan ocehan Victor.
"Aku sudah menandai seekor rusa tadi sore," Solaris melanjutkan. "Seekor tusa betina, kami menandainya dengan pita merah yang kami tempelkan di lehernya. Sejak sore hingga sekarang, aku mau pun Dael tidak akan tahu dimana rusa itu berada. Dan kami memotong sebagian bulunya sebagai petunjuk." Solaris membuka sebuah kotak plastik dimana ada bulu kecokelatan di dalamnya. "Apakah kalian juga membaui mangsa kalian?"
"Yeah," Topaz menerima kotak itu. "Jadi kita akan mencari rusa ini yang entah dimana?"
"Yap. Bagi siapa pun yang berhasil menemukan mangsa lebih dulu, silahkan mengaum, atau suara apa saja untuk para Vampir." Jelas Solaris. "Apakah sudah cukup jelas?"
"Tunggu dulu, bagaimana jika hewan ini sudah dimakan hewan buas lainnya?" Tanya Topaz ragu.
"Dalam aturan kami, hal itu tidak masalah. Asalkan ada yang berhasil menemukan bangkainya sebelum tengah malam, maka dialah pemenangnya."
"Cukup menarik," Jadrian mengangguk-angguk.
"Sebelum tengah malam? Itu artinya kalian punya waktu sekitar tiga jam?" Dami membuka suara.
"Jangan cemas, Dami." Dael berkata pada Dami. "Kami tidak pernah beraksi selama itu. Biasanya tak lebih dari setengah jam. Asal tidak ada yang menyasar kemana-mana," dengusnya sambil melirik ke arah Victor. Untunglah Victor tidak menyadari lirikan Dael.
"Oke, kami sudah cukup paham," Jadrian mengangguk. "Mari kita mulai saja. Sebentar lagi pukul sembilan malam. Aku tidak mau terlalu lama di sini dengan Dami bersama kita."
Dami menahan diri untuk tidak mengerucutkan bibirnya. Sama sekali tidak nyaman menjadi seseorang yang merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi?
"Izinkan kami untuk bertransformasi," kata Solaris.
"Silahkan," Jadrian mengangguk.
Reflek, Dami segera mundur ke belakang Jadrian. Dan ketiga werewolf itu melepaskan atasan mereka masing-masing. Ia merasa tidak nyaman karena kedua pipinya merona melihat para werewolf yang bertelanjang d**a. Ia bisa membayangkan Lexa akan membunuhnya karena berada di sini bersama dengan Solaris dan Dael, apalagi melihat keduanya bertelanjang d**a.
Perubahan itu sekejap saja. Dael lebih dulu. Pria berambut perak itu telah digantikan seekor hewan serigala besar bersurai perak yang sangat memukau. Dami menutup mulutnya memandang serigala perak itu mengaum singkat ke udara malam.
Selanjutnya Solaris menyusul, berbeda dengan saudaranya, Surai Solaris berwarna kemerahan, magenta mungkin. Wujud serigalanya tak sebesar Dael namun wajah serigala Solaris terlihat sangat mengancam, pasang mata kuningnya menyala dalam kegelapan malam, moncongnya lebih besar daripada serigala Dael.
Victor baru saja melepas atasannya karena dia mengenakan pakaian berlapis. Ia menyusul perubahan dengan tergesa-gesa. Dan Victor manusia telah berganti wujud menjadi seekor serigala. Berbeda dengan kedua saudaranya, serigala Victor lebih kecil dan kurus, surainya berwarna abu-abu dan menggelap di bagian ujung tubuhnya, seperti di bagian telinga, ujung ekor dan ujung tangan dan kaki. Warna gelap itu keunguan, dan pasang mata serigala Victor berwarna ungu.
"Wah!" Seru Topaz terkagum-kagum. "Werewolf!" Ia bertepuk tangan.
"Mengagumkan," Jadrian tersenyum.
Serigala perak bergerak mendekati Dami. Dami semakin menyembunyikan diri di belakang Jadrian.
"Jangan takut, Dami," ujar Jadrian.
Dami muncul kembali di samping bahu Jadrian. Ia melihat serigala Dael menggeram lembut, mendekatkan ujung moncongnya. Ragu-ragu, namun Dami memberanikan diri menyodorkan sebelah tangannya, lalu perlahan menyentuh moncong si serigala perak. Hangat. Dami terkikik.
"Puas?" Tanya Jadrian, tersenyum mengamati Dami.
Dami menoleh kepada Jadrian, ia cekikikan lagi. "Ya!"
Dami telah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu melihat keajaiban para werewolf. Ia merasa tidak sia-sia dapat ikut dalam perkumpulan malam ini.
"Kami akan memulai perburuan," kata Jadrian kepada Dami. "Tunggulah di sini."
"Oke, tidak usah khawatir," Dami tersenyum meyakinkan Jadrian. Namun Jadrian masih memandang Dami dengan sorot meragukan. "Ada apa? Apakah menurutmu akan ada sesuatu yang buruk terjadi padaku?"
Dami tak berhasil mengartikan sorot mata Jadrian yang redup. Tapi ia berharap Jadrian bisa mempercayainya. Ia tahu mereka berdua sudah melewati hal yang buruk karena perpisahan mereka. Beruntung ia mengalami hilang ingatan, sementara Jadrian tentu mengingat setiap tahun yang terjadi akibat perpisahan mereka.
"Ayolah," bujuk Dami. "Kita sudah berada di Burdenjam, kota paling aman dan damai. Apalagi yang kau khawatirkan?"
Terdengar dengusan nafas keras dari salah satu werewolf, yang ternyata berasal dari serigala bersurai abu-abu keunguan. Victor pasti mengejek mereka berdua karena masih belum terpisahkan.
Jadrian tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah. Kau menang."
"Nah, mari bersiap-siap," Topaz sudah tidak sabaran.
Kelima makhluk itu berdiri dalam garis lurus.
Dami mengeluarkan ponselnya. "Aku akan menghitung waktu kalian," ujarnya terkikik senang karena bisa menyaksikan dua makhluk berbeda saling bersaing. "Nah, mulai!"
Ia menekan tombol stopwatch pada layar ponselnya, lalu embusan angin membuatnya terjatuh ke atas rerumputan yang lembut. Sekelompok makhluk bukan manusia itu dalam sekejap mata sudah melaju ke dalam mulut hutan.
Dami masih tertawa-tawa menyoraki kepergian para makhluk itu. Namun tak berapa lama, setelah mereka lenyap masuk ke dalam hutan, Dami menyadari kesendiriannya.