04

1199 Kata
"Wah, wah..." komentar si pemilik suara bariton. Topaz muncul tanpa menimbulkan suara detak sepatu bahkan desiran mantelnya pun tak terdengar. Ia mengambil duduk di sebelah Jadrian yang sudah menunggunya di dermaga kecil danau hijau. Jadrian segera menyodorkan satu gelas berisi cairan merah gelap yang masih dingin berembun kepada Topaz. Topaz segera menerimanya, mengamati Jadrian yang juga memiliki bagiannya sendiri. Sangat tidak biasa karena Jadrian tidak pernah berinisiatif lebih dulu untuk mengajak minum. "Hari ini ulang tahunmu, ya?" tanya Topaz dan Jadrian hanya tersenyum kecil. Mereka berdua sama-sama meneguk cairan asupan energi mereka. Seketika Jadrian merasa lebih hidup walau hanya dalam satu tegukan pertamanya. Pemikirannya menjadi lebih jernih dan kepekaannya terhadap indera-nya meningkat. Ia memandang gelasnya, menggoyangkan isinya dengan gerakan memutar. "Apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Jadrian. Topaz menghabiskan bagiannya. "Agak sulit mencari informasi Penyihir, Kapten," ia melapor. "Tapi aku menemukan data kependudukan seorang gadis yang mirip dengan Dami. Namanya Shana dan tinggal bersama neneknya di Varlas. Namun gadis itu sudah meninggal karena kecelakaan mobil sebulan yang lalu. Aku menyelidiki rumahnya, dan memang gadis itu mirip sekali dengan Dami. Jelas Dami pernah tinggal di rumah itu." "Sepuluh tahun..." "Hm?" Topaz menoleh pada Jadrian. "Sepuluh tahun Dami tinggal di sana. Di Varlas. Di sebuah rumah. Dan dia tinggal bersama dengan neneknya. Itu kedengaran lucu kan?" Jadrian mendengus geli. Topaz mengerutkan dahi. "Kau kelihatan gila," komentarnya. "Aku akan mencari lebih banyak informasi. Mungkin gadis itu bukan Dami." "Tidak. Sudah pasti Dami," kata Jadrian. " Ia segera menenggak habis minumannya, pikirannya semakin jernih. Ia terdiam sesaat membiarkan asupannya terserap dengan baik ke dalam tubuhnya. "Aku merasa Dami tidak bahagia bersamaku," kata Jadrian, menuangkan kegundahannya kepada sahabat Vampirnya. "Dia terus memintaku untuk membawanya keluar." "Kau mengurungnya," meskipun Topaz terlihat dingin dia tak begitu suka mengatakan hal yang bisa menyakiti sahabatnya. "Aku tidak mengurungnya," kilah Jadrian. "Aku hanya tidak ingin dia diculik lagi." "Eumm, kalau begitu cobalah membuatnya betah di dalam rumah." "Aku sudah melakukannya, namun ia tidak sama seperti dulu." Topaz tertawa. "Adikmu itu adalah manusia sekarang. Tentu permainan kanak-kanak antara kau dengan dia dulu sudah tidak berefek apa-apa." Jadrian memandang langit malam di atasnya, bintang bertaburan menghias membuat matanya dimanjakan oleh keindahan malam. "Aku merasa tujuanku dengannya sudah berbeda," kata Jadrian lagi dengan suara yang terdengar mengambang di udara, tertinggal, dan pelan-pelan menghilang dalam embus udara malam. Ragu. "Tentu saja, Jade..." Topaz terlihat bersimpati pada sang kakak yang sedang gundah. "Aku..." Kata Jadrian "Beberapa waktu yang lalu sempat berpikir untuk membunuh diriku sendiri, dan membiarkannya melanjutkan hidup sebagai manusia. Aku berpikir jika aku tidak lagi pantas untuk bisa menjaganya. Tapi aku berpikir kembali, dan bertanya kepada diriku, apakah dia bisa bertahan hidup sendirian? Dia tidak memiliki siapa-siapa selain aku." "Kau tidak boleh meninggalkannya." Kata Topaz. "Tapi bagaimana aku bisa memahami keinginannya?" Jadrian duduk tegak, menoleh pada Topaz. "Dulu dia selalu menurutimu, Jade," Topaz mencoba menengahi perseteruan di dalam kepala Jadrian. "Sekarang cobalah menuruti keinginannya. Dia adalah seorang manusia. Gadis. Belia. Kuharap kau tidak lupa bagaimana sifat manusia itu. Kau tidak perlu mengekang kebebasan Dami. Dia pasti punya banyak keinginan di usia belianya sebagai manusia. Dan itu wajar sekali." "Soal penculik, kita berdua tentu akan mengurusnya. Kita bisa menuntaskannya. Kurasa sudah saatnya kita minta bantuan kepada Neutralist, mereka mungkin bisa mencari tahu informasi yang berhubungan dengan Dami. Jadi jangan khawatir." Jadrian terdiam sesaat seperti sedang menyerap setiap kata-kata Topaz. Topaz memang kadang-kadang bisa lebih bijak daripada dirinya. Pada kenyataannya Topaz memang lebih tua darinya jika mereka mengabaikan usia Vampir, hanya menghitung usia sejak lahir hingga usia terakhir mereka ketika terjebak sebagai Vampir. Di usia Topaz, dia tentu sudah bekerja dan pernah melakukan banyak hal daripada dirinya. Jadrian mendengus geli setelahnya. "Kau mengingat masa mudamu, Topaz?" "Oh ya, tentu saja," kata Topaz. "Masa mudaku yang indah... Ketika menjadi manusia..." Ia berkata dengan sorot mengenang, memandangi langit malam. "Kau pasti sudah melewati begitu banyak hal..." Gumam Jadrian, ikut memandang bintang-bintang di langit. "Dulu... Ketika aku masihlah seorang manusia... aku hanyalah seorang pemuda yang harus tinggal di rumah. Menjaga Dami. Memerah s**u sapi. Mengambil telur-telur ayam, dan membantu ayahku memotong kayu." Topaz mendengus geli. "Semua yang kau katakan sudah menunjukkan jika kau sudah melewati banyak hal." Setelahnya mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Para Vampir yang sedang larut dalam pikiran masing-masing. "Jadi apa yang akan kau lakukan?" Tanya Topaz. Ia penasaran dengan keputusan sang sahabat. "Hmm," Jadrian tampak enggan untuk menyampaikan keputusannya. Dan pastinya ia sudah memikirkan hal tersebut berjam-jam lamanya hingga Topaz akhirnya datang bergabung. "Pertama-tama kita akan pindah." Jawab Jadrian. "Pergi ke kota yang jauh dari Varlas." Topaz mengangguk-angguk. "Sudah punya ide kota tujuan?" Jadrian mengangguk. "Ada beberapa Kota Percampuran yang menarik." "Dimana itu?" "Burdenjam," Jadrian menjawab. Ia melirik Topaz, mempelajari reaksi Topaz ketika mendengar kota pilihannya. Topaz mengerutkan dahi. "Aku pernah mendengar tentang kota itu." Ujarnya. "Kota itu dihuni mayoritas manusia. Walikotanya membangun sistem yang unik. Mereka menerima Eksisten bukan manusia dengan berbagai persyaratan yang rumit. Dan kota itu agak tertutup. Kau serius memilih kota itu?" Jadrian mengangguk. "Aku ingin Dami tumbuh menjadi remaja manusia yang baik. Kita membutuhkan tempat tinggal dengan kriteria Kota yang damai, kota dengan mayoritas manusia mungkin lebih baik, dan di sana pendidikannya dikabarkan sangat baik." "Jade, kita harus menjalani tes untuk bisa masuk ke sana," protes Topaz. "Dan tes terakhirku adalah ketika aku masih seorang manusia. Tes kepolisianku..." Erangnya. "Kita pasti lulus tes itu, demi Dami." Kata Jadrian. "Kau bilang sudah saatnya aku menuruti keinginan Dami. Dami butuh sekolah. Dia akan punya cita-cita. Dan dia ingin berteman. Juga... kurasa dia juga ingin menemukan seseorang untuk..." suara Jadrian tercekat. Topaz malah tertawa melihat ekspresi kaku di wajah Jadrian. "Aku masih perlu waktu untuk mempelajari sifat gadis manusia remaja," Jadrian membela diri. "Baiklah..." Topaz masih terlihat geli. "Kita coba saja." Ia terpaksa menyetujuinya karena ia akan selalu ikut kemana saja sahabat Vampirnya pergi. "Dan soal penculik Dami... aku khawatir si penculik itu akan muncul kembali. Mungkin ada alasan mengapa ia mengembalikan Dami kepadaku," Jadrian masih memiliki kekhawatiran. "Aku sudah menyelidiki, dan sama sekali tidak ada rumor yang menyebutkan adanya eksperimen ilegal terhadap Vampir," ujar Topaz. "Eksperimen merubah Vampir menjadi manusia kembali benar-benar tidak masuk akal." "Dami telah dijadikan kelinci percobaan," Jadrian menggeleng lemah. "Eksisten mana pun tidak boleh tahu mengenai perubahan Dami. Hal ini akan membahayakannya." "Kau benar. Dan kita memang harus pergi jauh-jauh dari Varlas." Jadrian mengangguk setuju. "Topaz, aku akan sangat membutuhkan bantuanmu." "Tentu saja, Sobat. Aku akan melakukan apa saja untuk menjamin keselamatan Dami. Kau cukup urus kebahagiaannya, sekarang dia adalah Manusia, kau harus ingat itu." Peringat Topaz. Jadrian tersenyum mendengarnya. "Ya, terima kasih sudah mengingatkanku." Diskusi itu berakhir ketika bulan purnama yang bersinar terang tersibak dari kabut awan. Jadrian mengamati mutiara besar yang sejak tadi bersembunyi kini menggantung bebas di langit malam, mengalahkan sinar para bintang yang sejak tadi menemani diskusi mereka. Kehidupan mereka telah berubah semenjak Dami menghilang. Dan ini adalah awal baru untuk dirinya dan Dami setelah sepuluh tahun berpisah. Dia tidak akan pergi dari Dami apa pun yang terjadi. Dan ia berjanji akan menemukan siapa orang yang bertanggung pada hal ini. Pun sebenarnya Jadrian sudah memiliki satu nama tersangka. Namun ia belum siap memberitahukan nama itu kepada Topaz. Yaitu, nama dari seorang terkutuk yang telah menghancurkan hidupnya, dan seharusnya sudah binasa sebelas tahun lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN