28

2042 Kata
Hari ini pun tak berbeda jauh dengan hari sebelumnya. Dami terbangun lagi bersama mimpi-mimpi buruk lainnya. Ia memimpikan wanita yang mengenakan blus berwarna biru itu lagi, yang sudah menjadi mayat karena kehabisan darah. Sementara kedua telapak tangannya dipenuhi darah. Ia ingat dengan jeritannya sendiri di dalam mimpi. Dami mencoba melupakan mimpi-mimpi mengerikan itu. Ia baru saja membuka pintu untuk berangkat, dan seseorang sudah berdiri di depannya. "Hai," sapa Victor. Dami mengerutkan dahi. "Kenapa kau di sini?" tanyanya. "Wah, kukira kau tahu," ujar Victor. "Aku di sini sebagai pengasuhmu." "Apa?" -- Dami berusaha menghubungi Topaz, namun panggilannya sama sekali tidak diangkat. Ia berjalan cepat, kesal setengah mati, sementara Victor berlari mengejarnya. Dami masuk ke dalam klinik, tanpa menyapa sama sekali. Dan sekarang ia sudah berada di depan Jadrian yang duduk di meja kerjanya. "Oh, kau sudah akan berangkat?" tanya Jadrian. "Di mana Topaz?" tanya Dami. "Halo," Victor telah berdiri di samping Dami, melambai pada Jadrian. Jadrian segera berdiri, lalu mendekati mereka berdua. "Kau datang menjemput Dami?" tanyanya pada Victor. "Yep, sesuai instruksi." Victor mengangguk. "Tunggu di luar," perintah Dami pada Victor. "Ap... apa?" Victor terlihat bingung. Namun ia segera menyadari aura tidak mengenakkan diantara Dami dan Jadrian. "Oke," ia segera menyingkir keluar. "Kau bilang tidak ingin diawasi oleh Topaz," Jadrian langsung menjelaskan sebelum Dami sempat bertanya. "Lalu kau meminta Victor untuk mengawasiku?" tanya Dami dengan nada sanksi. "Ya, karena kau bilang tidak ingin Dael dan Solaris mengawasimu." "Astaga, Jade..." Dami memandang Jadrian dengan sorot tak percaya. "Apakah kau akan terus berusaha?" "Jika bisa, aku sendiri yang akan mengawasimu, Dami." kata Jadrian. "Kau harus diawasi." "Kenapa?" tanya Dami. "Apakah kau takut orang itu datang kembali untuk menangkapku? Atau hanya karena ketakutanmu sendiri?" Jadrian tak langsung menjawab. "Ini tidak lucu, Jade. Tolong jangan mempermalukan aku!" "Aku tidak berniat begitu," Kata Jadrian. "Jika Victor menolak, kau pasti akan membayar siapa pun untuk mengawasiku kan?" "Dami..." "Kalau begitu jelaskan situasi yang kuhadapi," perintah Dami. "Apakah kau tahu siapa pelakunya? Apakah dia begitu... berbahaya?" "Kenapa kau berpikir aku mengenalnya?" Jadrian bertanya balik. "Aku hanya merasa kau perlu diawasi. Itu saja." "Tapi, Jadrian Alan...." kata Dami, menahan emosinya. "Bukan seperti ini caranya menjagaku. Maaf karena aku bukan lagi Vampir kecil yang selalu menempel kepadamu kemana-mana!" Dami segera berbalik pergi sebelum ia mendengar balasan Jadrian. Ia membanting pintu klinik dengan gusar. Victor terperangah. "Kau sedang dalam period-mu ya?" kejar Victor. "Aku tidak perlu pengasuh," kata Dami. "Haha," Victor tertawa. "Aku tidak menyangka kau akan semarah ini. Apa sih hubunganmu dengan Jadrian? Kalian terlihat agak mirip dari dekat. Bedanya dia...." "Sudahlah," sela Dami segera. Victor menyadari ia telah banyak berbicara, ia mengatupkan mulutnya lalu mengangguk. "Aku tahu situasimu." Dami melirik pada Victor, meragukannya. "Solaris dan Dael juga selalu berusaha membuatku kesal," Victor berkata. "Mereka seperti anjing pelacak yang terus saja membuntutiku. Seolah... akan ada banyak bahaya yang sedang menanti di hadapanku." Dami menghentikan langkahnya. Ia memandang Victor dengan sorot ragu. "Itu kedengaran menggelikan." Victor mengangguk setuju. "Benar-benar menggelikan." "Jangan kira aku akan dengan mudahnya bersimpati padamu," dengus Dami. "Memangnya bahaya seperti apa yang akan muncul?" "Ada banyak hal," Victor berjalan. Sekarang giliran Dami mengikuti pemuda itu. "Perubahan pada diriku membuat mereka berdua khawatir." "Jadi... orang-orang akan bersikap khawatir karena perubahan?" tanya Dami. Victor mengangguk. Ia menarik sebelah lengannya. "Sayangnya aku adalah wolfie," ujarnya, memamerkan pergelangan tangannya dengan bekas luka. "Astaga, kau...?" Dami membelalakan matanya. "Werewolf bisa menyembuhkan dirinya lebih cepat daripada manusia, tapi luka itu akan tetap berbekas." kata Victor. Dami mengamati bekas beberapa sayatan di pergelangan tangan Victor. Ini sama sekali bukan hal yang ia bayangkan dari Victor. Pemuda itu telah melalui banyak hal berat. "Aku dulu terlalu bodoh." Victor menutup lengannya. "Harusnya aku tahu jika werewolf tidak dapat mati dengan sayatan penggaris." "Yah, kau bodoh sekali." komentar Dami. "Dan sekarang? Apakah kau sudah berbaikan dengan dirimu sendiri?" Victor tidak langsung menjawab. "Aku tidak tahu." jawabnya. "Aku hanya melanjutkan kehidupanku dan melakukan apa pun yang kumau." "Mungkin itu penyebab kau bersikap seenaknya," Dami menilai. "Lalu? Hal buruk apa yang pernah terjadi padamu hingga Jadrian begitu posesif padamu?" Dami menghela nafas. "Aku pernah diculik." "Oh." Victor tampak terkejut. "Tapi kau selamat kan? Melihat kau masih berdiri di sebelahku, itu artinya kau selamat. Lalu? Apakah pelakunya sudah ditangkap?" Dami menoleh pada Victor, ragu untuk menjawab. "Belum." "Astaga," desah Victor. "Jangan jauh-jauh dariku, Dami." "Oh, ayolah!" protes Dami. "Kukira kau dipihakku!" "Tidak, sebelum pelakunya ditangkap." kata Victor. "Ngomong-ngomong bagaimana dengan perjanjian kita?" Ia mengalihkan topik. "Akhir pekan tinggal beberapa hari lagi." "Hei, apakah akan aman jika kalian tetap pergi berburu?" tanya Dami, ia nyaris melupakan satu masalah ini. "Tentu saja. Memangnya kenapa?" "Bukankah Burdenjam baru saja mendapat kasus mengerikan?" "Pelakunya sudah ditangkap, apalagi yang perlu ditakutkan?" Victor balik bertanya. "Korban ketiga juga sudah ditemukan mayatnya tengah malam tadi. Biar polisi dan pengadilan yang menghukum pelakunya. Kurasa semuanya akan baik-baik saja." "Hmm, ya, semuanya akan baik-baik saja." Dami mengangguk. Berharap. "Pastikan kencanku dengan Lexa berjalan lancar,"Victor mengedipkan sebelah matanya pada Dami. Terkekeh. Dami menarik napas. "Baiklah..." -- Keadaan hari ini kontras sekali dengan hari kemarin. Kemarin, Caranige terasa kelam, seperti dinaungi awan hitam. Semua orang membicarakan tentang penemuan dua mayat yang mati mengenaskan kehabisan darah. Tidak ada yang tertawa sama sekali. Namun setelah berita Pelaku pembunuhan itu berhasil ditangkap, Caranige kembali menjadi dirinya. Tidak ada kekelaman lagi, senyum telah kembali pada murid-murid. Perubahan itu pun tidak hanya terjadi pada Caranige, namun juga di seluruh Burdenjam. Satu kejadian mampu mengubah Burdenjam, itu artinya tindak kriminal sungguh sangat jarang terjadi di kota ini. Meskipun Caranige sudah kembali seperti semula, Alice masih belum masuk sekolah. Sementara Lexa tidak ingin repot-repot berteman dengannya. Dami pun tidak mempermasalahkan kesendiriannya. Ia memang butuh waktu untuk sendiri meskipun di tempat publik, maksudnya ia tidak ingin dipedulikan, tidak perlu disapa atau bahkan ditatap oleh siapa-siapa. Ia ingin punya ruang memikirkan mimpi-mimpinya. Ia masih ingat dengan mimpinya tentang wanita yang mengenakan blus berwarna biru. Ia tidak mengerti mengapa ia memimpikan wanita itu sebelum penemuan mayat diberitakan, padahal ia sama sekali tidak mengenal si wanita. Polisi tidak memberitahu identitas pelaku sebagai Vampir, namun menurut informasi Topaz, pelakunya adalah Vampir. Rupanya Burdenjam memang tidak ingin membuat keributan. Seseorang duduk di sebelah Dami. Dami menoleh terkejut pada Lexa yang duduk di sebelahnya. "Alice ingin kita menjenguknya," kata Lexa, terlihat sangat malas untuk berbicara kepada Dami. "Kita?" ulang Dami. "Ya. Kau dan aku. Nah, berdirilah. Kita berangkat sekarang." Lexa berdiri lalu pergi begitu saja. "Hei," panggil Dami bingung. "Kita masih punya mata pelajaran berikutnya!" -- Lexa tidak menggubris Dami. Mereka berdua telah melaju di dalam mobil yang dikendarai Lexa. "Kau belum pernah mengunjungi rumah Alice kan?" tanya Lexa. Dami mengangguk. "Apakah dia baik-baik saja?" "Kita akan tahu setelah kita melihatnya." jawab Lexa. "Nah, kita harus membeli buah-buahan untuk orang sakit." -- Sebuah gerbang besar menyambut kedatangan mereka, yang kemudian dibukakan oleh para penjaga pintu. Mobil bergerak memasuki gerbang, lalu parkir di samping bangunan rumah. Dami keluar dari mobil, ia terperangah melihat bangunan rumah yang bagaikan sebuah istana bergaya klasik kerajaan Victoria berdiri menjulang di depannya. "Aku tahu rumah ini terlihat kuno," kata Lexa. "Alice sudah berkali-kali meminta Ayahnya untuk memugar bagian rumah yang terlihat tua, tapi Ayahnya suka dengan gaya rumah macam ini. Rumah ini lebih terlihat rumah Vampir daripada rumah manusia." "Haha," Dami tertawa dibuat-buat. Ia tidak akan pernah terbiasa mendengar Lexa menyebut-nyebut Vampir sebagai candaan. "Nah, ayo." Dami mengikuti Lexa memasuki rumah. Ia menjadi kikuk ketika menginjakkan kaki di atas lantai marmer licin rumah itu. Sama seperti dari luar, di dalamnya ia benar-benar seperti masuk ke dalam istana. Ruangan yang ia jumpai luas dengan dekorasi klasik tua yang indah. Rumah itu terawat dengan baik karena tidak terlihat debu sama sekali. "Teman-teman," Alice muncul menyambut mereka, menuruni tangga bak seorang putri raja. Dami kembali terperangah dibuatnya. Alice mengenakan gaun tidur mewah yang membuatnya semakin menawan. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Lexa yang langsung memeluk Alice, menunjukkan ekspresi cemas yang belum pernah ia tunjukkan selama dalam perjalanan tadi. "Ya, aku sudah lebih baik." Jawab Alice. Pasang matanya berhenti pada Dami. "Kau juga pasti mencemaskan aku." "Eh, ya," Dami mengangguk gugup."Syukurlah kau baik-baik saja." ia sedikit terbata-bata ketika berkata, tampak jelas tidak memperdulikan keadaan Alice. Apakah sikapnya akan menyinggung Alice? Semoga tidak. "Ayo, temani aku makan siang." Ajak Alice. "Kebetulan aku kelaparan," Lexa mengangguk setuju dengan ekspresi riang. -- Ini pertama kalinya Dami berkunjung ke rumah orang lain, rumah temannya. Bahkan mereka makan siang bersama. Rumah keluarga Sullivan memang luar biasa bagaikan sebuah istana, ia sama sekali tidak menyangka ada bangunan seperti ini di Burdenjam. Sesuai keinginan Alice, mereka bertiga makan siang di ruang makan yang sangat luas dengan meja makan panjang, yang mungkin mampu memuat lebih dari sepuluh anggota keluarga. Tapi Dami tidak melihat adanya anggota keluarga yang lain. Yang ada hanya para pelayan yang berjalan dengan menundukkan wajah, sama sekali tidak mengeluarkan suara. Perut kenyang dan perasaan mengantuk, Alice mengajak Dami dan Lexa ke kamarnya. Dami semakin merasa gugup, bahkan Alice dengan mudahnya mengajak Dami begitu saja ke kamar. Mereka bertiga menaiki tangga spiral. Setiap langkah menimbulkan gaung di dalam rumah yang sepi. "Kau harus segera memasang lift," kata Lexa. "Kakiku pegal-pegal tiap pulang dari rumahmu." "Aku sudah memintanya pada Ayah. Aku bilang kau ingin ada lift di rumah. Ayah masih sedang memikirkannya. Dia terlalu suka dengan gaya kuno ini." "Apakah kau tidak ingin punya lift di rumahmu?" Tanya Lexa. "Hmm, aku suka ada tangga. Anggap saja kita sedang berolahraga." "Oh ya ampun..." decih Lexa tak percaya. Dami juga kelelahan menaiki tangga. Dia sepertinya tidak punya tubuh atletik karena baru naik tangga sebentar saja sudah merasa kewalahan. Lalu langkahnya terhenti. Ada lukisan besar seukuran manusia di dinding. Lukisan Alice bersama ayahnya, Andrew Sullivan. Ternyata benar, hanya ada mereka berdua anggota keluarga di dalam rumah ini. Mereka sampai di kamar Alice. Dami sudah mempersiapkan diri akan melihat hal yang menakjubkan lainnya dan ternyata benar saja. Kamar Alice bagikan kamar putri raja. Ruangan yang sangat luas dengan dekorasi mahal dan indah, ranjang yang besar dengan selimut sutra yang terlihat lembut. Lexa langsung melemparkan diri ke atas ranjang. Ia mengerang keenakan. "Aku pasti bermimpi indah tiap tidur di sini." Alice tersenyum saja, ia menoleh pada Dami yang masih berdiri di ambang pintu. "Masuklah," kata Alice pada Dami. Dami mengangguk, ia memasuki kamar, lalu Alice menutup pintu di belakangnya. Kemudian Alice bergerak menuju meja yang dikelilingi sofa kecil. Ia menuangkan jus jeruk ke dalam tiga gelas kosong. Ia mengambil satu lalu memberikannya kepada Lexa yang di atas ranjang. "Terima kasih!" Sambut Lexa girang. Sementara Dami berjalan pelan tanpa suara mengamati seluruh sudut ruangan. Ia berhenti di depan lemari yang berisi deretan figura. Foto-foto Alice dan ayahnya dari tahun ke tahun. Namun ada foto gadis dewasa lainnya yang tidak dikenali Dami. Di dalam foto itu menampilkan tiga orang, si gadis dewasa, gadis kecil dan Andrew Sullivan. Jika ia tidak salah, gadis kecil itu pasti adalah Alice. "Helena," Alice tiba-tiba sudah berada di sebelah Dami. Dami sedikit terperanjat kaget. Lantai berkarpet tebal meredam suara langkah kaki. Ia menatap Alice. "Siapa?" Tanyanya. "Saudaraku." Ia menyodorkan gelas berisi jus jeruk pada Dami. Dami berterima kasih ketika menerima minuman itu. "Di mana dia sekarang?" Ia tidak melihat gadis itu lagi selain dalam foto itu. "Dia sudah meninggal," jawab Alice namun ia malah tersenyum. "Dia mati kehabisan darah." "A... Apa?" Dami membelalakan matanya. "Tragis kan?" Tanya Alice. "Waktu itu kami masih tinggal di Varlas." Ia menunjuk foto seorang gadis kecil yang mungkin berusia tujuh-delapan tahun. "Ini aku, kau mengenaliku?" Dami mengangguk. "Kau benar-benar mengenaliku?" Pertanyaan Alice terdengar aneh. "Aku rasa kita berdua pernah bertemu," kata Alice. "Dulu, sewaktu kita masih kecil, di Varlas. Sebelas tahun lalu." Dami mengerutkan dahi. "Aku... tidak yakin..." Ujarnya. Sebelas tahun lalu ia masih seorang Vampir. Tapi untuk apa dia menemui seorang anak perempuan manusia? Dan biasanya ia tidak boleh dekat-dekat dengan para manusia. Jadrian melarangnya. Ia memandang kembali foto masa kecil Alice. Ia tidak mengingat apa pun. "Mungkin kau salah orang." Kata Dami kemudian. "Oh," ekspresi Alice terlihat kecewa. Namun kemudian ia tertawa kecil. "Kau benar. Mungkin aku salah orang." Ia mengangguk. "Aku masih mengingatnya. Dia adalah anak perempuan yang cantik. Dia datang bagaikan malaikat kecil setelah kematian saudaraku. Gadis kecil bermata emas. Dia menemaniku di saat kesedihanku. Aku tidak bisa melupakannya." Dami diam saja memandang foto masa kecil Alice. Jika Alice benar-benar pernah bertemu dengannya, sayangnya dia tidak ingat apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN