Bab 3 - Penyerahan Diri

954 Kata
Gaun Tessa melorot ke lantai dengan desiran kain yang tipis, menyisakan wanita itu hanya dalam balutan pakaian dalam renda yang terasa asing di kulitnya. Udara dingin di apartemen Edward seolah menusuk, namun panas dari tatapan Edward yang menyapu tubuhnya jauh lebih membakar. Tessa berusaha menutupi dirinya dengan tangan, namun Edward menarik pergelangan tangannya, memaksa wanita itu untuk sepenuhnya terbuka di hadapannya. "Tidak perlu malu, Tessa. Setiap inci tubuhmu sudah kubayar. Apa kau lupa?" suara Edward rendah, namun mengandung ancaman yang jelas. Ia melangkah maju, menjepit Tessa di antara tubuhnya dan meja marmer dingin. Tessa merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seperti burung yang terperangkap. Pandangannya menelusuri d**a bidang Edward yang kini tak lagi tertutup kemeja, otot-ototnya yang terbentuk sempurna seolah memamerkan kekuasaan. "Aku... aku takut," bisik Tessa, pengakuan itu lolos begitu saja dari bibirnya. Edward menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Tessa. "Takut? Bagus. Rasa takut itu akan membuatmu mengingat malam ini lebih lama." Tangannya yang besar kini menangkup pipi Tessa, memaksanya menatap ke atas. "Lihat aku, Tessa. Aku ingin kau melihat siapa yang akan mengambil semua yang kau miliki." Mata mereka bertemu. Di mata Edward, Tessa melihat perpaduan antara gairah yang membara dan ketegasan seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Sementara di mata Tessa, Edward mungkin melihat campuran ketakutan, kepolosan, dan—mungkin—sepercik rasa ingin tahu yang tak berani ia akui. Tanpa peringatan, Edward mengangkat Tessa dari meja, menggendongnya dalam satu gerakan mulus. Tubuh Tessa menegang, namun ia tidak berani berontak. Edward membawanya melintasi ruangan, menuju sebuah kamar tidur yang diselimuti kemewahan minimalis. Saat Edward meletakkan Tessa perlahan di atas ranjang king size yang dihiasi seprai sutra hitam, Tessa merasakan empuknya kasur itu menelan tubuhnya. Cahaya remang-remang dari lampu samping ranjang menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding, menambah suasana intim dan mencekam. Edward naik ke atas ranjang, menindih Tessa dengan hati-hati. Tatapannya tak pernah lepas dari mata Tessa. Ia mengulurkan tangan, jemarinya membelai lembut pipi Tessa, lalu turun ke leher, dan semakin jauh. "Apa kau yakin tidak pernah disentuh siapa pun sebelumnya?" tanya Edward, suaranya kini terdengar lebih lembut, namun masih penuh d******i. Ada sedikit rasa tidak percaya dalam nada bicaranya. Tessa menggeleng, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Belum pernah." Edward mendesah, entah karena frustrasi atau kepuasan. Ia memosisikan tubuhnya lebih dekat, membiarkan kehangatan kulit mereka bersentuhan. "Kalau begitu, aku akan menjadi yang pertama. Dan kau akan mengingat setiap sentuhanku, Tessa. Setiap desahan yang keluar dari bibirmu malam ini adalah milikku." Ciuman Edward kali ini lebih lembut, namun penuh dengan janji akan sensasi yang tak terhindarkan. "Biarkan aku menunjukkan padamu dunia yang belum pernah kau bayangkan," bisik Edward di sela ciuman, suaranya seperti mantra yang memabukkan, perlahan-lahan menenggelamkan Tessa ke dalam jurang gairah yang belum pernah ia kenal. *** Di bawah temaram lampu kamar yang remang, Tessa bisa melihat dengan jelas bagaimana Edward mendominasi seluruh ruang geraknya. Setelah pria itu memuaskan hasratnya menciumi setiap lekuk tubuh Tessa, kini Edward mulai memberikan tekanan yang menuntut. Napas Tessa memburu, dadanya naik-turun dengan gemuruh yang tak terkendali. Tessa terbelalak, tangannya mencengkeram bahu Edward kuat-kuat saat merasakan sesuatu yang asing mencoba menembus pertahanannya yang masih suci. Edward kembali menjilati leher jenjangnya, berusaha membius kesadaran wanita itu. "Edward, tunggu... aku takut," bisik Tessa dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Edward berhenti sejenak, menatap lekat ke dalam mata Tessa yang basah. "Ini akan terasa sakit, tapi setelah ini, kau benar-benar milikku. Bertahanlah untukku, Tess," bisik Edward rendah, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman tepat di telinga Tessa. Dengan satu hentakan keras yang tak terelakkan, pertahanan itu hancur. Tessa memekik, rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya saat darah segar mengalir, menandai berakhirnya masa gadisnya. "Argh! Sakit... Edward, keluar... ini terlalu sakit!" rintih Tessa dengan isak tangis yang pecah. Ia mencoba mendorong bahu Edward, namun pria itu justru semakin merapatkan tubuh mereka. "Sst... diamlah, Sayang. Lihat aku," perintah Edward seraya membenamkan wajahnya di leher Tessa, menghirup aroma tubuhnya dengan rakus. "Kau begitu sempit... kau sempurna, Tess. Biarkan tubuhmu menerimaku." Edward membiarkan sejenak tubuh Tessa beradaptasi, meski napasnya sendiri sudah sangat tidak beraturan. "Oh Tuhan... ini nikmat sekali," gumam Edward saat ia mulai memompa miliknya dengan perlahan namun dalam. "Edward, tolong pelan-pelan... aku mohon..." pinta Tessa dengan suara serak, masih berusaha berdamai dengan rasa perih di bawah sana. Edward menatapnya dengan pandangan gelap yang dipenuhi gairah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang, Tess. Nikmati saja rasa sakitnya... karena sebentar lagi kau akan memohon untuk lebih," ucap Edward sebelum menyambar bibir Tessa, membungkam tangisnya dengan ciuman yang menuntut. Tangannya meremas dan mempermainkan d**a Tessa dengan posesif, seolah ingin meninggalkan jejak permanen di sana. "Ah... ah... Edward! Aku tidak tahan!" erang Tessa. Di antara rasa sakit yang masih tertinggal, sebuah sensasi baru yang memabukkan mulai merayap naik, membuatnya kehilangan akal sehat. Semakin Tessa mendesah pasrah, semakin liar gerakan Edward. Ritme itu kini berubah menjadi badai yang tak terkendali. "Edward, aku merasa aneh... aku mau sesuatu..." "Ikuti aku, Sayang. Jangan dilepaskan, kita akan mencapainya bersama!" seru Edward dengan suara parau, mempercepat gerakannya hingga menciptakan sensasi panas yang membakar. "Ah! Edward!" Tessa melengkungkan punggungnya saat puncak itu menghantam. Di saat yang sama, Edward mengerang hebat, melepaskan seluruh kehangatannya di dalam inti Tessa. Keduanya terengah-engah, terjebak dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara napas yang memburu. "Sialan... kau luar biasa, Tess," ujar Edward, menatap Tessa yang tampak berantakan namun cantik. Ia mencium bibir Tessa dengan rakus, dan kali ini, Tessa membalasnya dengan luapan emosi yang sama kuatnya. Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana Edward mengambil paksa kesucian Tessa, namun anehnya, Tessa merasa terikat. Dan Edward tidak berniat berhenti, ia masih menginginkan lebih. "Kau pikir ini sudah selesai? Aku baru saja memulai, Tess." bisik Edward dingin sebelum memulai ronda kedua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN