Ajakan bermalam

1511 Kata

Rangga pulang dengan wajah memerah karena marah. Ia tidak peduli dengan apapun, termasuk pekerjaannya yang kemungkinan hilang. Setiap memejamkan mata, yang diingatnya adalah wajah sedih Kiara saat menceritakan kejadian menyedihkan itu. Rangga tahu, meski tidak bisa dituntut secara hukum, tetap saja sang Ibu harus diberi pelajaran. Tadi Rangga sempat ingin membawa Kiara pulang, tapi setelah pertimbangan yang matang, ia mengurungkan niatnya itu. Arga pasti akan membuat ulah kalau Kiara tiba-tiba menghilang. Prioritas utamanya sekarang adalah membuat ibunya mengaku. Nasi memang sudah menjadi bubur, tapi tidak ada salahnya mencari tahu. Agar nantinya tidak terjadi kesalahan yang sama. Sesampainya di teras rumahnya yang remang, Rangga celingukan. Tempat tinggalnya itu nampak sepi. Tidak sepe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN