Kepulangan Rangga

1354 Kata
Di sebuah rumah petak sederhana milik Bibi Susi, seorang laki-laki tinggi berkemeja kotak-kotak mengetuk daun pintu. Ia menatap sekitar, tapi lingkungan di sana tidak seperti biasanya, serasa sepi. Tas ransel besar dan koper yang ia bawa akhirnya diletakkan di kursi panjang bawah jendela. Pria muda itu kemudian mengecek ponselnya, berniat menghubungi seseorang. Tapi belum selesai ia memencet nomor, seseorang lebih dulu mengejutkannya dari belakang. "Mas Rangga!" pekik Kiara menepuk bahu lebar si pria. Pria itu—Rangga, reflek berucap istigfar, tanda kalau ia terkejut setengah mati. Bahkan ransel di atas kursi panjang nyaris terdorong jatuh karena spontanitasnya itu. "Ya Allah, Kii! Copot jantungku!" pekik Rangga mendelik. Sayangnya, keluhan itu tidak digublis sedikitpun. Kiara tertawa kencang melihat wajah sengsara sang sepupu. Hari ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun tidak bertemu. Rangga memang jarang pulang, sekalipun kembali ke rumah, Bibi Susi terus menghalangi mereka agar tidak bertemu. Bukan tanpa alasan, keakraban antar saudara itu,membuatnya risih. Rangga adalah anak angkat, jadi Bibi Susi takut kalau nanti keduanya saling jatuh hati. Jadi untuk mencegahnya, Rangga dikirim ke luar negri setelah SMA. Sekarang sih, Bibi Susi sudah masa bodoh. Kiara memiliki suami dan tidak ada celah bagi mereka untuk menjalin hubungan cinta. "Ibu mana?" tanya Rangga sesaat setelah mereka saling menanyakan kabar. Meski secara fisik dan penampilan masing-masing sudah berubah, tapi baik Rangga maupun Kiara tidak punya kecanggungan sama sekali. Mungkin karena waktu perpisahan mereka tidak lebih lama dari kebersamaan masa kecil. "Aku juga baru mau menemui Bibi, aku pikir dia ada di sini. Aneh, padahal aku disuruh ke rumah tadi," ucap Kiara heran.Ia memeriksa sekeliling, tapi tempat itu terlihat sepi. Apa yang dimaksud adalah rumahku? Pikir Kiara berniat menghubungi Bibinya dulu. Tapi dengan cepat Rangga mencegahnya. "Ibu tidak tahu kalau aku pulang. Bagaimana kalau kita ke sana sekalian memberi kejutan?" usulnya memegang tangan Kiara yang masih menggegam ponselnya. Sentuhan kecil itu tidak berarti apapun, jadi Kiara tidak terkejut. Ia hanya memberi anggukan pelan sembari tersenyum kecil. Terbayang sudah wajah bahagia sang Bibi saat melihat kedatangan Rangga dengannya nanti. Jarak rumah Bibi Susi dan Kiara tidak begitu jauh. Mereka hanya harus melewati banyak gang sempit sebelum akhirnya sampai di lapangan, tempat di mana Kiara menikah kemarin. Setelah itu, berjalan sebentar saja, akhirnya sampai. Sejenak mereka bicara sebentar, Rangga tiba-tiba memutuskan untuk masuk belakangan. Ia tidak mau kalau disangka menemui Kiara duluan. Kiara setuju lalu berjalan masuk, sementara Rangga berdiri di samping rumah, menunggu timing yang tepat untuk mengejutkan sang Ibu. Sayangnya, rencana yang membahagiakan itu harus gagal. Begitu Kiara masuk, bukan sapaan yang didapat, melainkan tamparan keras. Sebenarnya dari jauh, Kiara sadar kalau Bibinya sedang marah, tapi gadis itu tidak menyangka kalau akan berakhir menyakitkan. Meski bukan pertama kalinya, tetap saja, siapa yang akan terbiasa dengan perlakuan kasar? Sedang di luar, Rangga terkejut dan urung masuk. Pria itu bersandar di balik tembok, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Bibi? Ke-kenapa?" tanya Kiara memegangi pipinya yang memerah. Itu bukan sekedar tamparan biasa, tapi pukulan keras. Ada bekas biru di sudut bibir, tanda pembekuan darah. Seandainya Kiara masih kecil, ia akan menangis keras dan meminta perlindungan Pamannya. Tapi Kiara sudah dewasa dan Paman Asmanpun tidak ada di sana sekarang. "Masih bertanya? Berani benar rumah ini kamu gadaikan!" pekik Bibi Susi seperti orang kesetanan. Kemarin, petugas bank berkunjung dan menagih kredit jatuh tempo yang belum dibayarkan. Terang saja, Bibi susi terkejut. Ia sangat kecewa karena rencana untuk menjual dan membagi harta warisan Kiara gagal. Melihat tidak ada celah untuk meminta maaf, Kiara kontan bersimpuh, memegangi kaki sang Bibi. Ia tidak menyangka kalau masalah itu ketahuan lebih cepat. Pikirnya, masih ada tenggat tiga hari sebelum angsuran pertamanya jatuh tempo. Tapi, rupanya hitungannya salah. Kemarin adalah hari terakhir pembayaran kredit. "Bibi, maafkan aku. Aku janji akan menebusnya tahun ini." Kiara menegadah, berharap mendapat pengampunan atas kesalahannya. Gadis itu terlalu bodoh sampai tidak bisa mengenali hak milik sendiri. Andai hal itu menimpa orang lain, jangankan minta maaf, Bibi Susi akan dituntut karena ikut campur dengan masalah properti. Dalam hal peninggalan orang tua KIara, tidak ada satupun orang yang berhak mencampuri urusannya lagi. Kiara sudah dewasa dan tidak butuh siapapun untuk bertanggung jawab atas hidupnya. Bibi Susi mengernyit kesal lalu meninggalkan Kiara untuk duduk di sofa. Ia tidak peduli dengan apa yang menimpa keponakannya. Yang jelas, kesempatannya mendapat uang besar,lenyap. Bagaimana dengan kelanjutan kuliah Rangga? Masa depan anak lelakinya akan terhambat gara-gara kecerobohan Kiara. "Pasti kamu ditipu sama mantan kekasihmu itu kan? Apa Bibi bilang, lelaki itu sudah bikin curiga dari awal!" seru Bibi Susi menghentakkan kakinya marah. Tingkahnya persis seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Geram dan sedih. Kiara merasa sangat bersalah. Baginya, Marten adalah awal dari kehancuran hidup. Dari menikahi Arga hingga menumpuk banyak hutang di mana-mana. Rumah itu adalah nadi masa lalu, mana bisa Kiara melepas semua kenangan manis dengan sang Ibu di sana? Menebus lalu menjual sangat mungkin, tapi Kiara tidak tahan untuk kehilangan. "Benar, tebus dan langsung jual saja. Itu lebih memungkinkan." Bibi Susi berkata sesuai dugaan Kiara. Mata gelap wanita paruh baya itu perlahan cerah, tanda punya solusi lain. Kiara kecewa, sadar kalau yang dipermasalahkan sang Bibi adalah uang. Kiara dengan tegas menggeleng, menolak usulan mengerikan itu. "Aku kan sudah janji akan menebusnya tahun ini. Kenapa harus dijual? Nanti di mana aku akan tinggal?" Kiara meninggikan suaranya, merasa kesal dengan sikap tidak masuk akal sang Bibi. "Apa? Bukannya kamu sudah menikah? Ikut saja sama suamimu! Jangan cari-cari alasan. Sudah, tebus saja lalu jual!" Bibi Susi kembali berdiri, menajamkan tatapan. "Suami? Kenapa aku harus menjual rumah ini karena sudah bersuami? Aku tidak akan menjualnya!" seru Kiara keras. Tidak peduli dengan pukulan atau apapun, kehilangan rumah adalah hal paling menyakitkan. Bibi Susi mendelik, tidak percaya dengan pendengarannya. Kiara jarang sekali membantah. Sekalipun tidak suka, gadis itu akan menurut kalau diperintah. Tapi sekarang, Kiara yang lemah siap bertarung untuk bertahan. "Inilah kenapa! seharusnya kamu menikah dengan duda kemarin! Satyo si doyan kawin lebih bisa mengaturmu dibanding pria muda itu!" teriak Bibi Susi kesal sekali. Ia terlihat hampir meledak karena rasa sabarnya telah habis. Untung saja, Rangga masuk di saat yang tepat. Ia yang syok dengan kabar pernikahan Kiara, langsung melangkah kemudian berdiri di antara keduanya. Wajah Rangga meraut kesal, tanda tidak suka dengan tindak kekerasan yang sedang terjadi di depan matanya. Tidak peduli bagaimanapun tanggapan akan sikapnya, Rangga memilih untuk memihak Kiara. Sejak kecil hingga dewasa, mereka tumbuh bersama. Tidak ada yang Rangga tidak tahu, termasuk cara Ibunya memperlakukan sang sepupu. "Rangga? Kapan kamu pulang?" tanya Bibi Susi gelagapan. Ia ingat, sang anak tidak suka kalau Kiara dikasari. Terakhir, Rangga mengancam tidak akan menurut kalau hal itu terjadi lagi. Sudah cukup dengan uang asuransi yang mereka habiskan. Masa iya? Rumahpun harus diributkan? Apalagi pernikahan Kiara terdengar tidak masuk akal di telinganya. "Jelaskan padaku, apa maksudnya kalau Kiara sudah menikah? Ibu memaksanya?" Rangga langsung meninggikan suara. Ia tidak menatap Kiara sedikitpun, takut kalau hatinya ikut sedih. Kenyataannya, Rangga memang punya perasaan pada gadis itu. Namun, ketertarikannya hanya sebatas saudara, seperti seorang kakak pada adiknya. Orang sekitar termasuk Ibunya salah menilai hubungan mereka berdua. "Memaksa? Dia yang memilih pengantinnya sendiri!" seru Bibi Susi tersinggung dengan tuduhan anaknya. Lebih dari itu, hatinya kecewa karena pertemuan mereka diisi perdebatan, bukannya pelukan penuh kerinduan. Ia juga seorang Ibu yang ingin melepas perasaan kangen setelah beberapa tahun tidak bertemu. Toh, apa yang sedang diperjuangkan untuk Rangga seorang. "Omong kosong, Kiara mana mungkin menikah tanpa mengabariku," ucap Rangga, kini ia berbalik menatap sang sepupu, berharap kalau tuduhan itu salah. Kontan Kiara kebingungan, antara ingin jujur, tapi takut memberi kekecewaan. "Kenapa kamu tidak katakan saja? Tentang penipuan mantan kekasihmu dan Arga yang datang untuk membantu memperbaiki segalanya." Bibi Susi benar-benar sudah hilang kesabaran. Tebakan liarnya tentang hubungan palsu Arga dan Kiara sudah terpatri lama. Kini, tidak ada celah bagi Kiara untuk menghindar. Tatapan mata Rangga dan Ibunya sudah terlalu menyudutkannya. Tidak seorangpun tahu, Arga sudah beberapa menit lalu berdiri di dekat pintu. Ia bisa membayangkan bagaimana kehidupan yang Kiara jalani pasca kematian orang tuanya. Percobaan bunuh diri di sungai itu adalah bukti kalau ada tidaknya Rangga, Kiara tetap tertekan dengan hidupnya. Haruskah aku masuk? Batin Arga menimbang posisinya sendiri. Kelihatan sekali kalau Rangga adalah pria labil yang susah dihadapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN