Bab 4

1688 Kata
Menikmati perempuan itu seperti nyanyi lagu dangdut. Bukan suara saja yang tetapi juga goyangannya.   Setelah pertemuan tidak sengaja itu akhirnya Ucca bisa tersenyum lega. Dia pikir dirinya akan lama selesai dari skripsi menyebalkan itu. Namun ketika kartu mati sang dosen sudah di tangan, bolehkah dia bernapas lega. Bukannya Ucca jahat memanfaatkan kekurangan orang lain. Tapi dia sendiri yakin kalau seandainya dia tidak tahu bagaimana kehidupan sang dosen di luar sana pasti skripsinya tidak akan selesai-selesai. Lalu kapan dia mendapatkan gelar sarjana? Akhh ... itu kan sudah berakhir. Kalau sekarang dosen itu masih saja bergeriliya, menyerang dengan kalimat-kalimat mesumnya, akan dia serang balik. Jangan pikir Ucca akan diam saja diperlakukan semena-mena. Mentang-mentang dospem alias dosen pembimbing tahu benar sedang dibutuhkan oleh mahasiswa menjadi sok jual mahal. Biasanya juga mengemis-ngemis minta kelas yang ada mahasiswanya. Kan tahu sendiri, dosen tanpa mahasiswa itu bagai kipas angin tanpa baling-baling. Kalau kata anak zaman sekarang, tidak guna!!! Tetapi mahasiswa tanpa dosen pun sama. Tidak akan ada sejarahnya mahasiswa menjadi pintar tanpa bimbingan dari seorang dosen yang ahli. Jadi kalau begini, keduanya bermanfaat kalau disatukan. Tapi benarkah Ucca dan Ami akan bermanfaat kalau disatukan? "Ca, lo kenapa sih? Dari tadi gue liatin cuma bengong kayak sapi abis dicemek-cemek susunya!!!" tanya s**u sambil mengisap minumannya. "Pusing gue mikirin mau buat judul apa?" "Yaelah judul lo pikirin. Apa cewek cantik kayak gue kalah saing sama judul," protes s**u. Wajah Ucca yang awalnya menunduk, kembali menatap s**u dalam. Perempuan di hadapannya memang begitu cantik yang rupawan. Tapi balik lagi, antara Ucca dan s**u tidak ada perasaan lebih dari sahabat. Mereka hanya seperti satu simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan satu sama lain. Lagi juga yang Ucca tahu, s**u itu punya tunangan. Bahkan tunangannya lebih sukses dari Ucca. Jadi untuk apa Ucca berharap hubungan mereka lebih dari teman. Ucca tidak sejahat itu. "Gila, malah ngelamun lagi lo!!!" seru s**u kuat. "Begini bro," s**u pindah duduk di sebelah Ucca, lalu merangkul bahunya erat. "Lo ibaratin aja judul skripsi lo kayak upil. Dan lo jari kelingkingnya. Kalau belum dapat ya kejar terus sampai terasa plong. Jangan cuma dipikirin doang, tapi lo juga harus bertindak. Susah sih bicara sama cowok tapi enggak pernah pacarin cewek. Cewek itu memang ditakdirkan nunggu. Dan cowok yang ngejar. Bukan malah sama-sama diem nunggu Tuhan satuin mereka. Lah iya kalau jodoh, kalau enggak. Mampus hati lo kering!!!" Sembur s**u. Ucca mengerjab beberapa kali. Melirik s**u yang masih duduk setia di sebelahnya. Wajah mereka begitu dekat hingga Ucca bisa melihat manik mata bulat milik s**u. Ternyata oh ternyata, s**u punya yang bulat selain dadanya. Yaitu manik matanya. Selama ini berteman dengan s**u kenapa Ucca baru sadar. "Omongan lo kayak wakil rakyat yang kayaknya bener tapi nyatanya palsu. Cuma janji manis doang." Susu tersenyum, mencubit hidung Ucca gemas. Mereka berdua seakan tidak sadar kalau menjadi bahan tontonan gratis di kantin kampus. Banyak sekali mahasiswi-mahasiswi yang ngefans berat sama Ucca harus baper melihat tingkah Ucca dan s**u. "Gue sih enggak mau jadi wakil rakyat. Lagi juga gue enggak suka janji-janji manis kayak mereka semua itu. Gue maunya itu jadi wali murid yang ambil raport anak kita aja besok," kedip s**u genit. Ucca menganga lebar. Ini benar s**u sahabatnya, kan? Kok bicaranya melantur ke mana-mana? "Hahaha ... jangan shock begitu dong. Gue bercanda kali. Baper banget lo jadi cowok. Lagian nih dalam sejarah hidup gue, enggak mau yang namanya sahabat jadi cinta. Karena lo enggak bisa segila biasanya kalau sampai itu kejadian." "Kenapa emangnya?" Susu menoyor kening Ucca gemas. Kok ada sih laki-laki usia hampir 22 tahun pikirannya masih bodoh begini. Apa semua ini efek Ucca belum pernah pacaran? "Ya lo pikir aja Ucca anaknya bapak Ganendra. Si pengusaha kaya raya. Yang namanya perempuan itu mau sekatro apapun dia, kalau di depan cowok yang dia cinta pasti akan jaim. Dan gue enggak suka itu. Lo kan tahu gimana ancurnya sikap gue. Tapi cuma sama lo gue tunjukin semua itu. Karena gue nyaman. Dan kalau sampai kita jadi pacaran yang ada gue jadi diri gue yang lain. Enggak banget deh. Jadi jangan berharap kita jadi pacaran ye." "Tapi lo mau enggak jadi pacar gue?" Tanya Ucca sambil tersenyum geli melihat perubahan wajah s**u. Perempuan berkulit kuning langsat dengan manik mata bulat itu terpaku antara kaget dan bingung. Mungkin dia tidak kepikiran kalau Ucca akan bertanya seperti itu. Lalu s**u harus jawab apa? "Enggak. Gue bilang kan enggak mau," jawab s**u sambil buang muka. Yah biasalah perempuan. Kalau sudah ditanya tentang mau atau tidak pasti jawabannya tidak. Tapi sikapnya seakan tidak rela menjawab seperti itu. Namun jika ditanya kembali kenapa? Pasti jawabannya tidak apa-apa. Ini sih gaya perempuan dari zaman Siti nurbaya dulu. Ingin dinikahi sama Datuk Maringgih tidak mau. Tapi coba ditanya lagi kalau sudah tahu rasa enaknya menikah, pasti dia bilang menikah sama yang punya pengalaman lebih enak. Hahaa. Kadang mulut dengan pikiran tidak pernah sinkron. Ada saja hal-hal yang mulut dibilang tidak suka tapi otak terus memikirkannya. Dan biasanya perempuan yang sering kali begini. "Akh lo, s**u. Jelek aja belagu," cibir Ucca. Sebelah tangannya merangkul s**u yang terlihat mengambek. Dia menggesek-gesekkan hidungnya di bahu s**u sambil tersenyum geli. Kok bisa sih s**u ngambek begini? "Tapi bener loh, Su. Kata orang banyak, orang jelek yang sok kecakepan lebih banyak sombongnya dari pada orang cakep yang beneran cakep," kekeh Ucca. "Kayak lo begini." sambungnya kembali. Susu mendelik marah pada Ucca. Mencubit perut laki-laki itu yang berada dibalik tshirt polos berwarna cokelat muda. Walau kesal digoda terus oleh Ucca, tapi s**u merasa senang. Setidaknya dia tidak pernah merasa sendirian di kampus jika ada Ucca. Begitupun sebaliknya. Mereka berdua saling mengisi satu sama lain. Bahkan tidak sadar kalau di antara persahabatan laki-laki dan perempuan pasti terselip cinta di sana. Walau keduanya sama-sama tidak mau mengakuinya.   ***   Napas Ucca terengah-engah berlari-lari di sepanjang koridor kampus. Bahkan beberapa kali tubuhnya menubruk orang-orang hingga dia lelah sendiri meminta maaf kepada mereka. Ucca bukan tanpa alasan berlari terburu-buru seperti ini. Tapi dia merasa pikirannya sedang On, dan dia juga sedang kepikiran suatu judul yang pastinya oke untuk skripsinya. Tapi judul yang berkualitas pun harus didukung dengan data-data yang lengkap. Karena itu Ucca buru-buru ke perpustakaan. Melengkapi bahan untuk judulnya kali ini. Sebelum lupa dari pikirannya. Maka lebih baik dikejar sekarang. Bukannya manusia itu tempatnya lupa. Mungkin kalau kepala tidak menempel dengan tubuh, pasti manusia lupa di mana meletakkannya. Tiba di depan pintu perpus, wajahnya terlihat sumringah. Akhh ... ini titik cerah kehidupan perkuliahannya. Dia yakin kali ini pasti berjalan dengan lancar tanpa perlu repot-repot meneror dosen itu menggunakan foto kurang ajar yang Ucca miliki. Hati dan pikiran yang begitu senang membuat Ucca tidak sabaran untuk masuk ke dalam perpustakaan. Dia menjelajahi setiap blok buku yang berada di dalam sana dengan senyuman tidak hilang dari bibirnya. Maklumlah mahasiswa semester tujuh kalau sudah dapat ide briliant rasanya tidak sabar menyelesaikan skripsinya. Padahal dibalik ide briliant ada segudang kegiatan lain yang harus dilakukan. Seperti mengetik semua bahan ke dalam satu file, lalu belum lagi uji coba dalam kehidupan nyata. Iya kalau yang ditulisnya bisa dipakai dengan baik dalam kehidupan, lah kalau tidak dia harus punya alasan kenapa menulis skripsi dengan tema ini. Masih banyak hal-hal lain yang Ucca sendiri tak memikirkannya. Ketika Ucca terhenti pada buku-buku bisnis, dia melirik dari sela rak buku besar itu sesosok perempuan yang tengah duduk di sebuah kursi dengan kaca mata yang membingkai wajah indahnya. Perempuan itu begitu rupawan dengan rambut hitam tergerai indah. Bulu mata yang berada dibalik bingkai kaca mata itu bisa Ucca lihat mengerjab beberapa kali. Akhh, kok rasanya semakin Ucca lihat perempuan ini semakin memikat. Tubuh besarnya bersandar, tanpa memikirkan sedikitpun kalau perempuan yang sejak tadi dia perhatikan sudah sadar akan kehadirannya. Yah namanya juga cowok lagi ngintai cewek. Pasti dikeker habis sampai tepat sasaran. "Ehmm...." Dehem Ami bersamaan dengan kibasan rambut panjangnya. "Ada apa cari saya?" tanya Ami tiba-tiba. Dia meletakkan buku yang sedang dibaca, kemudian menatap Ucca tepat sasaran. Bukan ke wajah Ucca. Tapi ke bagian di bawah sana yang tanpa tahu aturan sudah menonjol tinggi seperti tiang pemancar. "Car ... carii. Saya enggak cari ibu," jawab Ucca berkilah. Ami tertawa geli. Dia bangun dari duduknya. Mendekat ke arah Ucca yang masih saja jual mahal. Dasar Ucca masih aja sok-sok'an. Padahal kalau dikasih juga dihabiskan sama dia. Mama Ora selalu mengajarkan jangan menyisakan apapun selagi mampu melahapnya. Kalau melahap perempuan kayak Ami sih, Ucca masih mampu. Dagingnya pas. Tidak berlebihan kayak mama Ora. "Kenapa? Mau bimbingan? Sudah dapat judul?" "Ibu enggak usah belajar jadi serius. Saya tahu dipikiran ibu lebih sering menjurus! Menjurus ke hal-hal permesuman," balas Ucca kasar. Ami tertawa geli. Tangannya ingin menyentuh d**a Ucca, tapi Ucca sudah lebih dulu mundur satu langkah. "Begini Ucca. Saya tidak sedang belajar. Karena bagi saya buat apa belajar jadi serius, belajar mengerti isi hati kamu saja belum selesai saya pelajari." ucap Ami santai. "Saya kasih tahu ya, belajar itu bukan semuanya ditumpuk menjadi satu. Tapi satu persatu sampai menumpuk jadi banyak. Kamu itu bukan robot yang sekali diprogram langsung bisa. Tapi kamu itu laki-laki yang berusaha berulang kali untuk menjadi bisa. Bisa mencintai saya dengan tulus maksudnya," tutup Ami dengan kedipan genit. "Bu, bisa enggak sih serius? Saya ini mau lulus. Mau sarjana. Bukan mau sama ibu.” "Saya tahu kamu mau sarjana. Makanya saya terus kasih bimbingan yang tulus. Biar kamu bisa tahu bagaimana caranya mendapatkan sarjana seperti saya." "Maksudnya?" tanya Ucca sambil menaikkan kedua alisnya tinggi. "Kamu mau sarjana, kan? Saya ini sarjana. Sarang Janda Anak dua. Jadi kamu bisa dapatin sarjana sesuai dengan arahan saya." Mulut Ucca langsung terbuka lebar. Dia membalas kalimat Ami dengan tatapan tak percaya. Namun baru saja Ucca mau bicara lagi, Ami menutup mulut Ucca dengan sebelah tangannya. "Jangan protes! Saya enggak terima protesan. Apalagi kalau protesan kamu suruh saya melupakanmu. Mending saya ke kantor lurah sekarang juga. Kamu tahu untuk apa? Untuk minta surat keterangan tidak mampu. Lagian kamu mahasiswa yang enggak tahu diri. Dikasih jalan bebas hambatan, malah pilih jalan lain buat dapatin sarjana," tutupnya sedikit kesal. Ami langsung saja pergi meninggalkan Ucca yang terbengong sendirian. Padahal tadi mulut Ucca terbuka ingin bertanya serius pada Ami tentang sesuatu hal yang baru dia tahu. Ternyata oh ternyata, Ami. Bu dosen yang buat Ucca kayak cacing kepanasan adalah seorang janda. Kalau tahu begini dia tidak segan-segan untuk bertindak lebih jauh kepada Ami. Tahu sendiri kan perempuan itu seperti apa? Pura-pura jual mahal biar minta dikejar. Tapi kok rasanya Ami tidak jual mahal sejak awal. Ucca saja yang terlalu bodoh mengerti sikapnya. Ah ... Bolehlah bermain sedikit dengan dosen seksi itu. Siapa tahu sekali bertindak dua sarjana bisa dia dapatkan. ____ Continue Apakah cerita ini bisa jadi fenomenal juga kayak di w*****d?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN