Kita berdua boleh bermain dengan kata-kata kejam. Tapi jangan sampai kita terjerumus dalam rasa yang terpendam.
Monster day adalah hari dimana semua orang membencinya. Setelah dua hari libur dan bersantai-santai ria, akhirnya semua aktifitas kembali lagi pada hari senin.
Termasuk Ucca. Kejadian jum'at kemarin masih begitu dihafal oleh otaknya. Bagaimana dosen pembimbing gilanya memberikan coretan panjang, sepanjang dosa yang ayahnya miliki. Untung baru dosa yang diukur kalau yang diukur bagian lain dari ayahnya bisa kacau.
Sambil melirik sesekali pada arlogi jamnya, Ucca mendumal kesal kembali. Kapan dia bisa menemukan judul baru untuk skripshit-nya.
Bayangkan saja menemukan judul skripsi sama susahnya seperti menemukan perempuan yang masih perawan.
Apalagi di Bali coy. Kota yang penuh dengan kegiatan kebarat-baratan. Yang ada kalau mencari perawan di sini, habis dia ditertawakan.
Saking susahnya mencari judul yang menarik, Ucca sampai bingung sampai kapan dia harus mencari? Sedangkan dia sudah dikejar deadline.
Sejak lulus sekolah menengah pertama, Ucca sudah memberitahu keinginan terpendamnya pada sang mama. Mama yang mengandungnya 9 bulan dan mama yang sudah meninggalkan Daddy yang katronya minta ampun.
Namun sebelum lulus kuliah, dia mana bisa diberikan izin oleh sang mama untuk melakukan keinginannya. Yang ada Ucca bisa diganasi.
Karena itulah dia semakin terbebani untuk segera lulus kuliah.
Ketika sampai di parkiran kampus besar terbaik di Bali, Ucca melirik ke sekitar. Di sana, di sepanjang koridor kampus banyak para perempuan-perempun bening yang kadang membuat Ucca gerah.
Bukan gerah dalam arti dia napsu, tapi dia jijik.
Penilaian jijik Ucca terhadap perempuan-perempuan itu terdiri dari banyak faktor. Yang pertama, dalam radius terdekat saja jika bau badan mereka sudah sembriwing semakin membuat Ucca ingin menjauhi mereka semua. Entah Ucca bingung, apa para perempuan itu tidak mandi? Atau mungkin tidak memakai deodorant untuk tubuh mereka.
Atau jangan-jangan mereka memakai bubur ketiak sehingga ketika berkeringat menjadi lengket-lengket tidak jelas. Iyuuuuhh ... joroknya.
Lalu ada juga yang bau mulutnya beuuhhh ... mematikan semua orang yang ada di sekitarnya.
Dulu, Ucca pernah menaksir salah satu perempuan yang juga menyukainya. Namun ketika dia mencoba mendekati perempuan tersebut, bau busuk mulutnya tercium menyerbak ke seluruh indra penciumannya. Hingga akhirnya Ucca memilih mundur. Dari pada dia mati mencium bau mulut itu ketika berpacaran, lebih baik dia menjauh sejak awal.
Dan sekarang bagaimana kisah percintaannya. Hum ... dibilang menyedihkan, tidak. Karena kalau dia mau, perempuan-perempuan cantik itu tidak akan mampu menolak pesonanya.
Ya jelas, siapa yang berani menolak berkencan dengan seorang keturunan Ganendra. Ucca Ganendra selain mewariskan kekayaan dan kegantengan sang bos besar itu, Ucca memiliki nilai lebih dibandingkan ayahnya. Dia masih bisa menghargai perempuan.
Mana pernah dia digosipkan tidur dengan salah seorang perempuan. Tidak akan pernah ada gosip seperti itu. Baginya menghargai perempuan harus seperti menghargai ibunya. Karena nantinya perempuan-perempuan muda ini adalah calon ibu bagi anak-anaknya. Kalau dengan seenak hati dirusak, lalu bagaimana dosa yang ditanggungnya nanti di akhirat.
Pokoknya slogan bagi Ucca. Pantang membuat perempuan mendesah sebelum ada kata sah. Tapi kalau cium-cium sedikit mah boleh saja. Karena Ucca sendiri punya partner ciuman terbaiknya. Maklumlah sebaik apapun Ucca, dia hanya laki-laki biasa.
"Uccaaaaa...."
Tuh kan orangnya datang...
Ucca tersenyum, meraih tas ranselnya kemudian turun dari mobil. Dia menatap ke arah perempuan cantik yang sayangnya pendek itu. Perempuan itu adalah sahabat sekaligus TTM Ucca. Namanya Maharditha Susastra. Atau Ucca sering panggil s**u.
Kenapa s**u?
Karena susunya memang tumpeh-tumpeh. Ehh ... untuk ukuran badan sekecil dia, sangat tidak normal p******a yang perempuan itu miliki.
Namun bukan berarti Ucca omes ya. Sama sekali tidak. Sampai detik ini sudah tiga tahun mereka dekat dan menjadi TTM, tangan Ucca belum pernah menyentuhnya.
Kan tadi ingat slogan yang Ucca pakai. Pantang membuat perempuan mendesah sebelum ada kata sah.
"Ganteng banget hari ini," kedip s**u genit.
Lengan kecilnya langsung merangkul Ucca dengan nyaman. Menyandarkan kepalanya pada bahu Ucca di sepanjang perjalanan masuk ke dalam kampus.
Susu sengaja bertindak seperti ini setiap hari, agar yang lain tahu kalau Ucca dan dia pacaran. Padahal perempuan ini sedang membantu sahabatnya supaya tidak diganggu-ganggu perempuan nakal di kampus ini.
Dulu. Waktu mereka belum bersahabat, s**u juga melewati seleksi ketat yang Ucca buat. Mulai dari bau badan, hingga sikap perempuan itu.
Dan ternyata s**u lolos. Karena itu Ucca betah berada di sampingnya.
"Udah lewat kan," ucapnya sembari tersenyum.
"Gue gandeng lo tadi berasa kayak gandeng orang buta." Kekeh s**u sambil melepaskan kacamata Ucca.
"Sialan lo!!!"
Ucca kembali merangkul s**u, berjalan memasuki sebuah kelas yang menjadi jadwal mereka pagi ini. Mata kuliah terakhir mereka selain skripsi. Yaitu metode penulisan.
Namun baru satu langkah masuk ke dalam kelas, kedua manik mata Ucca membulat ketika melihat sesosok perempuan yang tengah duduk di kursi dosen. Perempuan yang sedang dia hindari sekali agar kejadian minggu kemarin bisa hilang.
Tapi ya bagaimana bisa Ucca menghindar. Perempuan itu dosen di kampus ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, Ucca harus pasrah bertemu dengannya.
"Kok si Ayam yang datang?" Bisik Ucca ketika sudah duduk di samping s**u.
"Kan bu Eni lagi cuti. Lo lupa?" Jawab s**u santai.
Perempuan itu tidak tahu kalau Ucca dan si Ayam sedang ada masalah coret mencoret. Coba kalau s**u tahu, bisa diketawai sampai ngompol.
"Gue cabut aja kalau gitu."
"Lo cabut mau ngapain? Bukannya lo lagi kejar kelas ini biar bisa fokus skripsi? Ya kecuali mau kayak gue, skripsi mundur tahun depan."
Ucca menelan air ludahnya dengan kuat. Aduuuhh dilema dia. Bisa tidak Ucca biasa-biasa saja selama jam kuliah berlangsung? Kalau ditengah jalan si Ayam menyindir ini dan itu bagaimana?
Kok Ucca baper duluan? Memangnya itu dosen ingat? Kan belum tentu. Jadi pura-pura bego saja! Teriak batinnya.
Karena tidak ada pilihan lain, Ucca memperingati hatinya untuk sabar. Cobaan ini tidak lama hanya dua jam.
"Pagi semua. Saya di sini menggantikan bu...." Perkataan dari dosen perempuan itu terhenti ketika melihat wajah Ucca yang pura-pura sibuk menunduk.
Sudut bibirnya terangkat sebelah. Ternyata pucuk dicinta, brondong pun tiba.
Dia pikir ini bukan kelas si brokat alias brondong kaya dan tampan. Makanya dia santai-santai saja. Namun melihat wajah gugup Ucca di sana, hatinya bersorak riang. Mengerjai brondong sekali-kali tidak ada salahnya.
"Oke. Saya menggantikan bu Eni di sini yang sedang cuti lahiran. Jadi selama kurang lebih tiga bulan ke depan saya yang mengajar kalian."
Uhuukk ... Uhuukk ... s**u langsung menepuk-nepuk bahu Ucca yang tersedak. Tidak sedang makan, tidak sedang minum kenapa bisa-bisanya Ucca tersedak begini. Apa jangan-jangan dia sedang tersedak cinta?
Masa iya?
"Lo kenapa sih? Aneh banget," tanya s**u.
Ucca meringis sedih. Andai s**u tahu dia kenapa, pastinya tawa setan yang perempuan itu miliki akan membahana di seluruh kampus Udayana ini.
Selama dua jam berlangsung, tidak ada perang antara dosen dan Ucca. Keduanya terlihat baik-baik saja. Dosen itu mengajarkan dengan baik, dan Ucca menenangkan pikirannya cukup baik.
"Oke. Sampai ketemu minggu depan. Jangan lupa tugas yang saya kasih," tutup bu dosen yang mengesalkan namun sayangnya seksi itu.
Baru saja Ucca ingin segera keluar dari ruang kelas, sebuah suara memanggil namanya dengan jelas.
"Ucca. Ikut ke ruangan saya."
Jeduuuarrrr ... hati Ucca langsung meledak seperti petasan tahun baru. Merasa kaget sekaligus kesal. Kok bisa-bisanya dosen satu ini meminta bertemu kembali.
"Ayo...." Ajaknya bagai perintah.
Ucca melirik s**u yang merasa tidak peduli dengan nasibnya. Sahabatnya itu malah asik cekikikan dengan teman yang lain tanpa peduli bagaimana nasib Ucca.
Sial ... sial.
***
"Bagaimana sudah ada judul baru?" Tanya Ami.
Wajahnya cukup serius bertanya kepada Ucca yang duduk saja tidak lurus. Laki-laki itu seakan salah tingkah dengan cara duduknya. Seperti ada sebongkah ambeien di pantatnya.
Oh ayolah Ucca. Di depanmu sekarang bukan seorang perawan. Tapi seorang emak-emak rupawan. Apa harus dia salah tingkah?
Padahal sejak tadi Ami nampak santai bertanya serius kepada Ucca tanpa embel-embel masalah kemarin. Tapi ya namanya juga Ucca kalau punya masalah jadinya baper sendiri.
"Saya kasih saran ke kamu. Cari judul itu tidak harus yang wah sampai membuat ledakan kagum orang ketika melihatnya. Tapi cari judul yang mampu kamu kuasai dengan baik. Karena yang suka meledak itu LPG, bukan hati kamu."
Bletekkk ... Dorr ... Doorr ... ini maksudnya apa coba? Kenapa hati Ucca dibawa-bawa.
Melihat Ucca yang merespon dengan tampang cengo, Ami hanya tertawa. Lalu membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu di dalam laci tersebut.
"Ini, saya pinjamkan flashdisk yang isinya beberapa bahan untuk menentukan judulmu nanti. Bisa kamu copy dari flashdisk ini ke komputer kamu di rumah. Tapi ingat jangan copy hati kamu ke sini. Karena hati saya sudah enggak sanggup menampung hati berondong," godanya kembali.
Ucca sama sekali tidak tergoda. Wajah tampannya hanya menampilkan ekspresi datar hingga Ami jadi salah tingkah sendiri.
Ya ampun, baru Ucca dan mungkin hanya Ucca yang tidak termakan rayuan dari si janda kembang. Biasanya mahasiwa yang lain sukanya mensuit-suit ketika Ami berjalan. Tapi Ucca. Dikasih umpan saja wajahnya hanya cengo.
"Makasih Bu," jawabnya datar.
Ucca panggil Ami apa? Ibu? Kok rasanya Ami tidak rela ya. Bibirnya sedikit cemberut ala-ala emak-emak ngambek sama suaminya. Tapi sejelek mungkin dia merajuk, Ucca semakin tidak peduli.
Tubuh Ucca langsung saja berdiri. Ingin pergi secepat mungkin dari sosok perempuan tidak tahu diri ini. Sudah berumur masih menggoda yang muda saja. Apa tidak malu dia?
Akan tetapi baru satu langkah tubuhnya berbalik, suara khas desahan-desahan setan kembali terdengar.
"Kamu diam saja aku sayang. Apalagi kamu udah goyang. Buat aku mati kegilaan."
Whaaatttt? Dosen gila ini bilang apa?
Goyang?
Ucca tidak perlu berbalik. Dia rasanya bisa melihat senyum menjengkelkan dari dosen itu. Awas saja! Mau dia jungkir balikpun Ucca tidak akan tergoda.
Tujuannya hanya satu. Meraih sarjana!
______ Continue.
Udah taplove belum kalian??