Cantik itu tumbuhnya dari hati. Bukan dari aurat yang dipamerkan untuk mendapat pujian laki-laki. Segelas kopi panas mengepul di atas meja. Memecah keheningan diantara kedua makhluk Tuhan yang mendadak bisu karena gelisah. Yang perempuan rindu karena sudah lama tidak dibuat mendesah. Sedangkan yang laki-laki sibuk karena merendahkan apa yang sudah basah. Ahh, dasar manusia. Sukanya malu-malu padahal keduanya sama-sama butuh. Apa fungsinya coba Tuhan menciptakan mulut bagi mereka berdua kalau tidak dipergunakan dengan baik. Tadi saja Ucca datang ke sini katanya sudah dengan tekad yang bulat. Tapi apa? Baru dipertemukan dengan Ami yang tampilannya acak-acakan sudah luntur tekadnya menjadi hal yang lain. "Saya..." Ucap keduanya kompak. Lalu tak lama mereka sama-sama tertawa. Memandang

