Maureen duduk ditepian ranjang, mengingat tentang semua hal yang dikatakan Gretta tentang ia akan tetap melakukan sesuai rencananya, meski ia dan Adeline sudah mengetahuinya, mengetahui niatnya yang akan membuat Arthur percaya dan tetap ada di sisinya meski tidak memilikinya sebagai suami. Maureen menghela napas, berusaha mengatur napasnya, ia sampai lupa pada kehamilannya, bahkan ia tak tahu harus mengatakan apa kepada suaminya, entah mengatakan kabar buruk duluan apa kabar baik duluan. Suara hentakkan kaki terdengar begitu sangar, Maureen tahu langkah ini adalah langkah suaminya, Arthur masuk ke kamar dan menaruh jasnya diatas nakas, membuka dua kancing bajunya agar tak pengap. “Sayang, ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?” tanya Arthur, menghampiri istrinya, dan duduk disamping Mau

