Bab 7

1106 Kata
"Ngapain kamu keluyuran jam segini?" tanya Gio akhirnya, dengan nada lebih pelan, meski masih terdengar tajam. "Ngapain?" ulang Kania, membusungkan d**a sedikit, "Aku loh cariin kamu! Malam minggu kemarin kamu di club. Kenapa tadi gak ada? Ini kan juga malem minggu? Aku nungguin dari sore loh sampai club tutup gak nemuin kamu!" "Aku ada," jawabnya datar. "Dimana? Kamu ngumpet ya?" sindir Kania mendengus kesal. "Hem." "Kenapa?" tanya Kania lagi dengan nada penuh tuntutan. Ia hanya asal tebak, ia pikir Gio sibuk atau sedang ada acara di lain tempat. Tapi ternyata tebakan nya benar, ngapain cowok itu ngumpet? Pikir Kania. Gio hanya diam. Pandangannya tetap lekat menatap Kania, tapi mulutnya terkunci. Wajahnya seperti menyimpan seribu kata yang tak sanggup dia ucapkan. Hingga tak lama, pria satunya yang sejak tadi diam setelah berkelahi mendekat sambil membuka helmnya. "Jadi ini dia?" tanya Indra, sahabat Gio, dengan senyum menggoda yang terlalu jelas maknanya. "Aku kenapa?" tanyanya polos. Indra malah terkekeh, "Kenapa baru dateng sekarang, cantik? Kenapa gak dari kemarin kemarin?" "Eh, bukannya Gio cuma perform malam minggu aja?" balas Kania cepat. Indra lagi lagi tertawa kecil, "Bukannya kamu janji mau dateng malem Senin kemarin?" "Iya sih, tapi katanya Gio gak perform, jadi percuma dateng." Jawab Kania menganggukkan kepala nya. "Padahal Gio nungguin kamu dari malem senin kemarin loh!" celetuk Indra, setengah bercanda, tapi cukup lantang. ‘’Bangsattt !’’ Mata Gio langsung melotot, menatap tajam ke arah Indra. ‘’Hehehe keceplosan gue !’’ Indra menyengir lebar seperti kucing baru mencuri ikan. Sementara Kania langsung membelalak, lalu tersenyum manis seperti anak kecil menemukan harapan baru. "Sumpah? Demi apa? Jadi kamu juga nungguin aku? Kamu cariin aku? Kamu—" "DIEM!" potong Gio cepat, "Jangan dengerin dia." Nada suaranya datar, tapi telinganya sudah merah. Lehernya tampak tegang menahan malu. Indra menahan tawa keras keras, sampai harus menoleh ke arah lain agar tidak semakin dipelototi Gio. Kania tak berhenti tersenyum sambil menatap Gio dengan mata berbinar binar. Dalam hati, ketakutan, marah, dan kesalnya malam ini lenyap. Yang tersisa hanya satu, jantungnya yang berdetak terlalu kencang, untuk seseorang bernama Gio. "Dimana alamat rumah lo?" tanya Gio, berusaha mengalihkan pembicaraan. Nada suaranya sudah tidak setegang tadi, tapi masih terasa dingin dan malas. Tapi berhasil membuat Kania yang masih berdiri di samping pintu mobil langsung menoleh, senyumnya kembali mengembang. "Rumahku deket sama tempat kita beli mie Ayam waktu itu!" jawabnya ringan, sambil menyilangkan tangan di d**a, seolah ingin terlihat santai. "Kenapa bisa lewat jalan ini?" tanyanya curiga. Gio mengerutkan kening. Sorot matanya kembali tajam, penuh tanya. Kania menghela napas berat, seperti baru ingat sesuatu. Ia buru buru membuka ponselnya, "Nih, aku mau ke alamat ini," katanya sambil menunjukkan layar ponsel, "Rumah temenku. Mereka mabuk di tempatmu, terus ngotot pengen nginep di rumah Putri. Ya aku ngikut aja." Gio melirik ponsel itu sekilas. "Lo belum pernah kesini?" "Belum," jawab Kania polos. Tidak merasa bersalah sama sekali, padahal dia baru saja hampir dirampok di jalan yang bahkan dia sendiri gak kenal. Gio langsung menggeram pelan, rahangnya mengencang. Wajahnya tampak menahan emosi yang hampir meledak. Disisi lain, Indra hanya bisa terkekeh geli. Ini baru pertama kalinya dia melihat Gio, si pria super dingin itu, begitu, sabar. Bahkan belum kabur dari gadis cerewet ini. "Dahlah Gi, anterin aja gih!" usul Indra, menahan tawa. "Bolehhh!" seru Kania cepat, matanya berbinar binar seperti anak kecil baru dibelikan es Krim, "Ayok! Anterin aja, sekalian biar aman!" tambahnya sambil setengah melompat kecil ke arah Gio. Gio mendelik ke arah dua manusia di hadapannya itu, termasuk Indra yang sedang menikmati tontonan ini, dan Kania yang begitu semangat seperti tak sadar nyawanya hampir melayang sejam lalu. "Masuk!" perintah Gio ketus, lalu langsung masuk ke dalam mobil, menduduki kursi kemudi dengan gerakan kesal tapi pasrah. ‘’Yesss!!’’ Kania bersorak kecil dalam hati. Ia segera membuka pintu penumpang depan dan masuk dengan langkah ringan, seolah sedang dalam perjalanan road trip bersama pacar sendiri. "Good luck, bro," gumamnya sebelum naik ke atas motor dan menyalakan mesin. Indra kembali tergelak, lalu menggeleng sambil memakai helm nya. Tanpa banyak kata, Gio mulai menginjak pedal gas. Mobil melaju mengikuti arah dari maps yang ditunjukkan Kania. Suasana di dalam mobil sempat hening, hanya suara AC dan suara peta digital dari ponsel yang memecah keheningan. Di kursi belakang, dua sahabat Kania sudah tertidur dengan mulut setengah terbuka. Di depan, Gio fokus ke jalan. Sementara Kania, duduk bersandar sambil mencuri curi pandang ke arah Gio mencoba membaca pikirannya yang sedingin es. Dalam hati, Kania tersenyum puas. Entah kenapa, malam ini tetap terasa hangat meski tadi sempat dihantui rasa takut. Karena ujung ujungnya, tetap Gio yang datang, tetap Gio yang menyelamatkan. "Sumpah, aku gak tahu harus gimana sekarang!" kata Kania sambil terus tersenyum menatap wajah Gio dari sisi samping. Matanya berbinar, penuh ketulusan dan sedikit rasa malu. Tapi tak ada rasa takut. Padahal baru saja mereka hampir jadi korban perampokan. Gio hanya melirik sekilas, ekspresinya tetap datar seperti biasa. Tanpa komentar, dia kembali fokus ke jalanan yang mulai sepi. Lampu lampu kota menyinari wajah mereka dari sela kaca depan. "Jujur nih ya," Kania melanjutkan, nadanya masih ringan tapi terlihat jujur. Antara jujur sama lugu, atau bodoh dan polos. Gio sama sekali tidak bisa membedakan itu di wajah Kania. "Aku takut banget karena perampokan tadi. Tapi sekarang, aku malah seneng. Aku malah ngerasa bersyukur karena mau dirampok!" imbuhnya, sambil tertawa kecil. Seketika, alis Gio bertaut. Ia menoleh cepat, menatap Kania dengan sorot aneh dan tidak percaya. Gila nih orang, pikirnya. Siapa yang bisa bilang senang saat hampir dirampok? Kania menyadari tatapan Gio, tapi justru malah tersenyum lebih lebar. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menghela napas pelan, lalu menatap lurus ke arah jalanan seperti sedang menikmati malam yang begitu panjang dan penuh kejutan. "Aku seneng karena yang nolong aku itu, kamu," katanya lembut, tanpa menoleh. "Dan aku seneng banget akhirnya bisa ketemu kamu lagi." Ucapan itu tidak berbalut gombalan, hanya kejujuran sederhana dari hati yang selama ini penasaran. Gio diam. Tidak membalas. Tapi rahangnya mengeras. Tangannya mencengkram setir sedikit lebih erat. Entah karena menahan emosi atau, rasa lain yang bahkan dia sendiri tak mengerti. "Oh ya!" ucap Kania tiba tiba, memecah keheningan. Suaranya semangat lagi seperti sebelumnya, "Biar gak ilang lagi, aku minta nomor telepon kamu dong." "Dan juga, follback akun aku ya. Plissss!" lanjutnya dengan nada manja. Kania menatap Gio penuh harap, dengan senyum imut dan mata berbinar seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Gio melirik sekilas ke arah Kania, lalu kembali ke jalan. Lagi lagi tak ada reaksi berarti dari wajah dinginnya. Tapi tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Sangat tipis. Hampir tak terlihat. Kania tidak menyerah. Dia terus menatap Gio, menunggu jawaban. Dalam hati, dia tahu, cowok dingin itu pasti luluh. Cepat atau lambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN