Setelah Arsya pulang, suasana rumah terasa semakin sepi. Gio masih terduduk di gazebo belakang rumah, ditemani batang rokok yang kini tinggal separuh. Asap tipis mengepul ke udara, perlahan hilang diterpa angin sore. Dadanya masih sesak memikirkan percakapan barusan dengan Arsya, tentang Indra, tentang pengkhianatan, tentang klubnya yang hancur. Ia menunduk, kedua sikunya bertumpu di lutut, sementara jemarinya sibuk menggulung-gulung puntung rokok. Kepala Gio penuh dengan tanya yang tak berjawab. Hingga tiba-tiba, suara getar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil sampingnya membuatnya terlonjak pelan. Gio buru-buru meraih ponsel, matanya langsung tertuju pada nama pengirim. Kania. Deg. Jantungnya berdetak lebih cepat. Sudah hampir seminggu Kania tidak menghubungi. Terakhir, merek

