Dia, Fairel

1111 Kata
Fairel mengerjap. Meraba-raba ponsel di atas kasur. Diliriknya layar ponsel yang menampilkan keterangan jam saat ini. Pukul 02.55 pagi. Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi. Ia menoleh dan mendapati Gibran yang masih tertidur. Berarti yang di dalam kamar mandi itu Adli. Fairel mendudukkan tubuhnya, serentak dengan pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan Adli di sana. "Sholat malam, Ad?" tanya Fairel. Adli tersenyum sembari mengangguk. Kemudian Fairel melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sepertiga malam sudah seperti sholat fardhu yang hukumnya wajib bagi Fairel dan juga kedua temannya. Mereka sangat bersyukur, bisa membangun pertemanan yang bermanfaat. Semakin menjadikan diri lebih baik, saling mengingatkan satu sama lain saat berbelok arah. Fairel menggelar sajadah sedikit berjarak dari Adli. Saat kedua laki-laki itu tengah khusyuk dalam sholatnya, Gibran terbangun dan langsung mengambil air wudhu. Ketiganya berdzikir kepada Allah sampai waktu subuh tiba. Dilanjutkan menunaikan ibadah sholat subuh dengan Adli yang menjadi imamnya. "Assalamualaikum warahmatullah...." Adli mengucap salam setelah membaca tahiyat akhir. Setelah selesai menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Ketiganya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Lari pagi yuk," ajak Adli. "Ayo! Lagian kemarin gue belum sempat keliling-keliling," sahut Gibran. Setelah bersiap, mereka mulai berolahraga di pagi hari. Berbeda dengan Adli dan Gibran yang mengalungkan sapu tangan di lehernya, Fairel justru mengalungkan kameranya. Fairel tidak pernah berniat ingin menjadi seorang fotografer. Ia hanya hobi membidikkan kameranya. Dan itu sudah berlangsung sejak ia duduk di bangku kelas XI SMA. Dilain tempat, Zhaira dan Salsa tengah membuat video untuk konten Youtube-nya. Zhaira mengenakan dress bunga-bunga di atas lutut dan topi pantai yang bertengger di atas kepalanya. Ia membiarkan kaki telanjangnya menginjak pasir putih. Rambutnya yang panjang melambai-lambaikan tertiup angin. Penampilan Salsa pun tidak beda jauh dengan Zhaira saat ini. "Oke, guys! Video kali ini kita cukupkan, ya. Sampai jumpa lagi di video selanjutnya," ucap Zhaira menatap kamera sembari tersenyum sumringah. "Jangan lupa like dan subscribe ya, guys! Bye!" Salsa melambaikan tangan ke arah kamera sembari tersenyum. "Biasa ya, Zha. Lo bagian edit mengedit, ahayy...." cengir Salsa. "Ashiyap, BosQ!" seru Zhaira sembari tertawa. Keduanya berjalan beriringan menyusuri pasir putih. Membicarakan apa saja yang bisa menghasilkan tawaan. Mereka sudah seperti kakak beradik, mungkin karena faktor kedekatan mereka yang sudah terjalin cukup lama. Ditambah lagi dengan hubungan keluarga yang sudah saling mengenal, membuat persahabatan mereka semakin erat. "Sal, gue mau ke toilet dulu deh. Kebelet banget nih," ucap Zhaira. "Mau gue temenin?" "Nggak usah. Gue sendiri aja," tolak Zhaira. Salsa mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya udah, gue tunggu di sana." Salsa menunjuk ke arah pondok kecil yang berada di tepi pantai. Zhaira mengangguk dan segera berlari menuju toilet untuk mengeluarkan apa yang ia tahan. Setelahnya, Zhaira keluar dari toilet hendak berjalan menghampiri Salsa. Namun, secara tiba-tiba seseorang mencekal tangannya dari arah belakang. Zhaira menoleh, seorang pria berbadan besar dengan goresan bekas luka di dahinya. "Lepas!" pekik Zhaira berusaha melepaskan cekalan pria itu. Alih-alih cekalan itu terlepas, justru semakin kuat, membuat Zhaira gemetar ketahuan. Ia mengedarkan pandangannya, tidak ada orang lain di sana. Suasananya begitu sepi. "Lepas!" Zhaira tidak pantang menyerah untuk bisa lolos dari cekalan pria itu. "Tolong! Tolong!" teriak Zhaira, berharap ada orang yang datang menolongnya. "Diam!" sentak pria itu semakin mengeratkan cekalannya. Cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Zhaira sangat ketakutan. Ia berdoa dalam hati, agar ada orang yang datang menolongnya. "Ah! Nggak mau!" teriak Zhaira saat pria itu mencoba membawanya pergi. "Tolong!" Bugh! Seseorang menendang punggung pria itu hingga terhempas. Zhaira memundurkan tubuhnya. Ia menangis tersedu-sedu. Pria itu menyorot tajam ke arah orang yang sudah berani melawannya. Ia segera bangun dan bersiap melawan orang itu. Dalam hitungan detik, keduanya saling beradu pukul. Zhaira di belakang sana, semakin mengencangkan tangisannya. Jantungnya berdetak kencang. Air matanya mengalir semakin banyak. Harusnya tadi ia meminta agar Salsa menemaninya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Pria itu kembali tersungkur. Ia mengumpat lalu berlari meninggalkan Zhaira dengan orang itu. Zhaira menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Orang tersebut berjalan mendekati Zhaira. "Kamu nggak apa-apa?" Zhaira menggeleng. Dengan gerakan slow motion, ia menurunkan telapak tangannya dari wajah untuk melihat siapa orang yang telah menolongnya. Zhaira terbelalak kaget melihat orang yang berada di depannya. "Lo?!" jerit Zhaira tak menyangka. Ternyata, orang yang telah menolongnya itu adalah laki-laki yang kemarin menceramahi cara berpakaiannya dengan Salsa. Laki-laki tersenyum, menatapnya sekilas. "Ini akibat dari karena kamu masih berpakaian kurang bahan seperti ini." Zhaira menganga tak percaya menatap laki-laki itu. "Jangan-jangan ini ulah lo! Iya?!" Laki-laki itu tersenyum kecut. "Kamu nggak ada niatan buat berterima kasih sama saya?" Zhaira mengusap pipinya. "Ngapain gue harus berterima kasih sama orang yang mau mencelakai diri gue sendiri? Cih, nggak guna!" Laki-laki itu menyisir rambut kebelakang. "Terserah kamu. Saya hanya mau mengingatkan. Kejahatan bisa datang kapan aja dan kamu harus ekstra hati-hati. Cara berpakaian kamu yang seperti ini, semakin memancing orang-orang untuk melakukan tindak kejahatan sama kamu." "Lo kok malah nakut-nakutin gue sih?!" sentak Zhaira. Laki-laki itu mengangkat bahunya acuh. "Assalamualaikum." Lantas mengambil langkah untuk pergi dari hadapan Zhaira. Sekitar satu meter jarak mereka, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Dengan gerakan slow motion, ia memutar kepala ke belakang untuk melihat Zhaira yang ternyata masih berdiri di tempat dengan mata menyorot padanya. "Fairel Adzikra Muhammad," ucapnya sebelum benar-benar pergi. "Fairel?" gumam Zhaira. Zhaira mengerit menatap kepergian laki-laki bernama Fairel itu. Pikirannya kosong. Tatapannya tertuju pada punggung lebar yang semakin menjauh itu. "Woy!" seru Salsa, membuat lamunan Zhaira buyar. "Ish, ngagetin aja sih!" sentak Zhaira sembari melayangkan pukulan pelan pada lengan Salsa. "Lagian lo lama banget ke toiletnya. Gue khawatir, takut lo kenapa-kenapa." Zhaira menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya ke belakang telinga. "Udah kenapa-kenapa kali, Sal." "Ha?! Maksudnya?!" heboh Salsa membuat Zhaira memutar bola matanya malas. "Gue hampir diculik sama orang tahu. Serem banget," cerita Zhaira. "Lo lihat nih mata gue, abis nangis beberapa menit yang lalu." Salsa memegang kedua bahu Zhaira. Menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Ya ampun, Zha. Beneran? Harusnya gue nggak biarin lo pergi sendiri." Zhaira tersenyum sembari menurunkan tangan Salsa. "Nggak apa-apa kok, Sal. Ya udah yuk, kita balik lagi ke pantai." Zhaira merangkul pundak Salsa dan membawanya kembali ke pantai. ***** Fairel berjalan mendekati kedua temannya yang tengah bersantai di tepi pantai. Ia duduk di samping Gibran. "Lo abis dari toilet apa dari mana sih, Rel? Lama bener," cibir Gibran. Fairel terkekeh geli. "Sorry, Bro. Ada sedikit problem tadi." "Kayaknya lusa kita harus balik ke Jakarta. Selain karena gue punya Bini yang kudu dikelonin. Kita juga punya tanggung jawab pekerjaan yang nggak mungkin bisa di tinggalkan seenak jidatnya si Gibran yang lebar," ucap Adli membuat Gibran seketika menoleh tajam. Sedangkan Fairel dan Adli terkikik geli. "Lebar-lebar gini juga ciptaan Tuhan, Bro. Meski begitu, ketampanan gue nggak sedikit pun luntur," ucap Gibran. "Tapi iya, sih. Kita mesti cepet-cepet balik ke Jakarta. Kasian pasien gue nanti." Fairel kembali membidik pemandangan di depannya. Ia tersenyum puas dengan hasil fotonya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN