Namanya Syabila Hanun Balqis.
Syabila artinya Jalan, Hanun berarti lembut dan Balqis adalah seorang ratu. Seorang Ratu yang berjalan dengan lembut.
Entah kenapa, bayangan gadis itu yang selalu ada dibenak Ikhwan. Mungkinkah dia jatuh cinta dalam seminggu pada gadis itu? Ataukah dia mulai jatuh cinta ketika pertama bertemu?
"Kak Abi, Ayo berangkat." kata Inayah.
"Berangkat sekarang dek?"
"Iyalah kak. Masa besok? Inay udah punya janji nih. Temenku pasti udah nungguin."
"Iya , Ayo."
~~
Sampailah mereka pada tempat tujuan.
"Kakak mau pulang apa nungguin aku kak? Paling cuma dua jam-an aja"
"Gak, kakak mau ke perpustakaan aja, dekat kok darisini."
"Yaudah kak, Hati-hati. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ikhwan segera mengemudikan mobilnya menuju perpustakaan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Ini Hanun kan? Ya Allah, kamu berubah banget ya sekarang. Kakakku baru saja pergi, aku mau ngenalin kalian berdua, tapi lain kali aja deh."
Hanun mengamati sahabat lamanya itu.
"Inayah tetap sama ya? Banyak bicaranya. Udah berapa bulan Nay?"
"Iya Han, aku sama aja kayak dulu, kamu yang banyak berubah. Udah jalan 7 bulan Han."
Mereka tertawa bersama setelah lama tak bertemu. Mereka melewati Acara itu dengan Hikmat sampai tiba waktunya pulang .
"Kamu yakin gak mau bareng aku sama Abi Nay? Kakak kamu kan belum jemput." kata Hanun.
Inayah masih berdiri sambil celingukan.
"Boleh pinjam ponsel kamu Han? Mau telepon dia."
Hanun menyodorkan ponselnya pada Inayah.
"Kak, ada dimana? Kan Inay udah bilang. dua jam lagi jemput."
"......"
"Yaudah kak. Cepetan ya? Assalamu'alaikum."
"...."
"Ini Ponsel kamu Han. Makasih ya? Maaf ngerepotin. Tadi aku lupa bawa ponselku."
"Iya, kalau begitu aku temenin kamu sampai dijemput ya?"
"Gak usah Han, ayah kamu udah nunggu tuh."
"Ga-papa. Abi ngerti kok."
Sepuluh menit setelah itu mobil Ikhwan datang.
"Itu mobil kakakku Han." seru Inayah.
"Yaudah, kakak kamu kan udah datang, aku pamit dulu ya Nay? Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ikhwan melihat dari kaca mobilnya, semua wanita di majelis itu rata-rata memakai cadar. Namun sosok yang bersama adiknya itu begitu familiar dimatanya. Namun dia berfikir itu tidak mungkin.
~~
"Kak, kalau tadi kak Abi datang lebih awal, aku mau ngenalin kakak sama sahabat aku. Aku kagum lho kak, sama dia. Udah cantik, kaya, pinter, shalihah lagi. Masak tadi waktu ketua Majelis berhalangan hadir, dia yang gantiin. Ceramahnya bikin adem setiap hati kak. Semoga aja nanti anakku kayak dia."Inayah mengusap perutnya.
Ikhwan hanya tertawa.
"Emang dia ceramah apa?"
"Gini kak,temanya tentang keutamaan wanita. ceritanya tentang beberapa wanita yang menunggu disebuah taman untuk menuju syurga. Ada tiga wanita yang hendak masuk syurga. Wanita pertama bertanya kepada dua wanita lainnya. Kenapa mereka bisa berada ditempat yang sama. Kedua wanita itu menjawab kalau amalan yang mereka lakukan sama seperti dia. Namun kedua wanita itu berlari hendak masuk kedalam syurga. Wanita pertama itu dapat melihat syurga namun tak dapat menggapainya. Dia terus berlari, namun syurga itu tampak semakin menjauh. Lalu wanita itu bertanya. Kenapa aku tidak bisa menggapai syurga? Kedua wanita itu menjawab, karena sewaktu didunia kau tidak menutup auratmu. Percuma saja kita shalat dan menjalankan semua ibadah kalau kita tidak menutup aurat."
Ikhwan tersenyum. Senang mendengar adiknya bercerita.
"Aku janji kak, gak akan pernah buka jilbab aku lagi."
"Ya, bagus kalau begitu. Kakak senang banget dengarnya."
"Kakak pernah dengar tentang kisah umar bin khattab yang istrinya suka marah-marah itu."
Ikhwan mengangguk.
"Saat itu ada seorang pria yang menemui umar untuk mengadukan istrinya yang cerewet dan menuntut banyak hal. Namun saat pria itu tiba dirumah umar, istri umar sedang marah dan mengomeli umar. Namun lelaki itu heran karena umar hanya diam dan tidak melakukan apapun. Padahal umar adalah seorang yang sangat tegas kan?" Jawab Ikhwan.
"Kakak tahu? Benar banget itu. Kalian memang cocok kak. Gak salah aku mau ngejodohin kalian berdua."
"Maksud kamu apa, dek?"
"Aku pengen kakak kenal lebih jauh sama teman aku itu."
"Sebenarnya kakak lagi gak mikirin itu dek."
"Kenapa kak? Apa kakak suka sama orang lain?"
Ikhwan hanya diam sambil fokus menyetir.
"Siapa kak? Dia mahasiswa kakak dikampus ya?"
"Gak dek. Jujur aja kakak mengagumi salah satu mahasiswa kakak dikampus. Dia baik, sopan dan pandai. Tapi cuma sebatas kagum saja."
"Yah... Padahal aku pengennya kakak sama temenku."
Siapa yang tahu kalau wanita yang mereka bicarakan adalah orang yang sama. Takdir Allah memang selalu pada jalannya. Begitu pula takdir Cinta Hanun dan Ikhwan. Mereka ditakdirkan untuk hidup bersama.