Tidak seperti keadaan nyaris chaos yang terjadi di depan kantor utama tambang batu bara Ruiz Tbk di Kalimantan. Di ibukota keadaan cukup tenang dengan cuaca cukup terik untuk seseorang yang bekerja dengan gandola yang bergelantungan di samping gedung apartemen untuk membersihkan jendela dari luar. Andaru dengan partner-nya yang masih sama, namun sekarang berubah menjadi kelewat ramah itu sekarang tengah bekerja dalam diam hingga Dane kambali memberitahu mereka ia akan menarik naik gandola mereka untuk istirahat makan siang.
Andaru menanggapi informasi itu melalui walkie-talkie setelah tetangga gandola mereka melakukannya. Sambil mengalihkan pandangannya dari sang partner yang juga melakukan hal yang sama. Mereka menyipitkan mata akibat sinar matahari yang langsung menimpa wajah mereka ketika mereka kembali di puncak dengan Dane di sebelah mesin yang masih berderik itu. Andaru melepaskan pengaitnya, melompat turun tepat di sebelah Dane yang mengawasinya dengan dahi mengerut.
Tanpa kata para lelaki itu melepas harness dan merapikanya ditempat yang ditunjuk Dane. Namun kali ini Dane sudah menyiapkan uang makan siang mereka dan langsung membaginya seperti seorang ibu membagi uang jajan kepada anak-anaknya. Andaru menyelipkan uang itu di saku celana wearpack-nya. Dan sama-sama mereka menuju lift karyawan dan berimpitan di sana. Andaru menyaksikan keempat pria lain secara serentak mengendus bau badan mereka begitu berada dalam lift yang dingin itu.
Masih dengan tanpa percakapan itu, Andaru mendongak untuk melihat nomor petunjuk lantai yang terus berganti. Begitu lift berhenti di nomor lantai yang ia kenali, ia mendengar suara dehaman keras. Ia menoleh ke arah Dane yang jelas-jelas dengan sengaja mengalihkan pandangan darinya. Tapi langsung berbalik begitu pintu lift membuka. Ketika ia mengira menemui orang yang mereka tunggu-tunggu. Namun ternyata yang muncul adalah seorang ibu tua petugas kebersihan dengan kereta dorong berisi alat-alatnya.
Terdengar suara dengusan keras dan Andaru tidak perlu mencaritahu siapa yang melakukannya.
Jadi kelima pria bertubuh besar itu membuat ruang kepada ibu petugas kebersihan yang dengan percaya diri mengambil tempat di tengah-tengah mereka. Andaru terdorong di sudut kanan lift dengan belakang kepala sang partner tepat di depan matanya. Dalam lift yang penuh itu mereka berimpitan menunggu hingga lift sampai di lantai dasar.
Untungnya mereka pergi ke arah yang tidak sama dengan ibu petugas kebersihan. Begitu mereka berada di jalan kecil di elakang gedung apartemen mewah yang berisi dengan jajanan murah-meriah itu. Sekarang nampak ramai dengan berbagai orang dengan seleranya masing-masing. Andaru merasa Dane mengikutinya.
“Kau masih tidak memberitahuku apa yang terjadi denganmu tadi pagi!” Dane berjalan berdampingan dengan Andaru sekarang. “Jadi benar kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?”
Andaru tiba-tiba menghentikan langkah. Ia melihat sosok yang tidak ia lihat di lift tadi. Sekarang sedang mengobrol seru dengan istri dari pemilik warung mie ayam dengan senyum mengembang. Wanita memakai pakaian santai dengan jaket hoodie yang Andaru kenali dengan baik.
“Oh, jadi itu alasan kenapa kau suka makan di sana.” Dane menghela napas panjang.
Andaru mengerjap. Tanpa berbalik dan mata masih tertuju kepada wajah yang sedang tertawa itu ia meraih tubuh Dane pada kedua lengan pria itu. Memaksanya berbalik hingga nyaris tersungkur dengan kakinya sendiri. “Sana, cari makan di tempat lain.” Andaru lalu mendorong Dane ke arah yang berlawanan.
“Sialan kau! Baiklah. Tapi ingat kau punya utang penjelasan denganku!”
Andaru hanya menggumam lalu berjalan cepat, namun berusaha untuk tidak terlalu kentara. Mendekat ke arah warung mie ayam. Melewati wanita itu yang duduk di meja terdekat dari gerobak. Menunggu mie ayamnya sedang disiapkan. Andaru langsung mengambil meja terdekat agar ia bisa mendengar apa yang tengah mereka sedang bicarakan. Ternyata hanya soal bagaimana cuaca ibukota sekarang sedang panas-panasnya. Tidak ada yang spesial kecuali gadis itu tampak sangat brsemangat dan sesekali tertawa.
“Jadi mana pria bule yang biasa dengan Mbak itu?” tanya sang istri pemilik warung sambil menyaring mie ayam yang baru direbus.
“Ah?” Dari belakang Andaru menyadari pundak wanita itu merosot begitu mendengar pertanyaan itu. “Sedang tugas ke luar kota. Sepertinya ia akan lama di sana.”
“Ah... Dan?”
“Di hari liburku pula! Dan bukannya ini bukan kali pertama ia melakukannya, tapi tetap saja.”
Jadi itu alasan kenapa ia tidak berqngkat bekerja hari ini. Pesanan wanita itu akhirnya selesai dan ia memutar tubuhnya ke arah Andaru ketika mangkuk penuh mie ayamnya dihidangkan. Andaru merasakan jantungnya berdegup menyakitkan sekali karena mereka sekarang makan saling berhadapan walau dari meja yang berbeda.
“Oh, mas. Mie ayamnya mau pakai bakso?”
Andaru butuh waktu lama untuk menjawab karena fokusnya teralihkan. Ia langsung mengangguk cepat ketika sang istri pemilik warung sekali lagi mengulang pertanyaannya.
“Oh, Mbak Eris mau minum apa?” Istri sang pemilik warung kembali pada sang wanita.
Eris. Namanya Eris.
“Es jeruk.”
Andaru ikut berseru tanpa sadar, “Saya juga!”
Kedua wanita itu menatap ke arahnya bersamaan sekarang. Sang istri pemilik warung menatapnya dengan dahi mengerut walau begitu ia mengiyakan. “Akan saya sampaikan pesanannya ke dalam sebentar.”
Si istri pemilik warung kemudian melewati Andaru ketika ia menuju ke balik tirai untuk mengabari siapapun yang ada di dalam. “Tunggu sebentar, ya Mas?”
Andaru mengangguk dan merasa tidak masalah sama sekali untuk menunggu. Karena ia bisa memerhatikan wanita itu – Eris - makan dengan lahap. Ia menyumbat mulutnya penuh-penuh dengan mie menggunakan sumpit hingga pipinya menggembung. Andaru bahkan harus menunduk untuk menahan senyumnya karena ternyata wanita itu makan dengan sangat berantakan. Ia bahkan nyaris menjatuhkan kotak sendok untuk meraih tisu..
Andaru terlalu serius memerhatikan Eris makan sehingga ia berjengit terkejut ketika gelas jus jeruk tiba-tiba diletakkan di depan wajahnya oleh sang pemilik warung. Ia buru-buru mengucapkan terimakasih kepada pria yang sudah tidak memusatkan perhatian padanya itu untuk meletakkan gelas kedua di meja Eris. Wanita itu mendongak mengucap terimakasih dengan mulut penuh....
Pada saat itulah Andaru menyadari sesuatu yang tidak beres dengan si pemilik warung. Pria itu membungkuk sambil meremas dadanya sebelum ambruk ke lantai dengan mata terpejam. Menimbulkan suara seruan dan jerit dari pengunjung warung yang lain. Begitu juga sang istri yang langsung membuang peralatan masaknya ke tanah dan berteriak
Eris berdiri saat itu juga. Meneguk minumnya banyak-banyak sebelum menghempas diri bersimpuh di dekat pria yang tidak sadarkan diri itu...
Andaru juga ikut berdiri menghampiri pria yang tidak sadarkan diri itu ketika Eris mendorong sang suami ke belakang tubuhnya. Membuka paksa kemeja pria itu sebelum menunduk, mendekatkan telinganya ke d**a pria itu.
Andaru yang memiliki sertifikat first aid itu tercengang dengan pemandangan yang ada di depannya itu. Eris sedang melakukan CPR dengan ekspresi penuh tekad.
“Stay alive..stay alive...”
Melihat napas terecekat Eris, membuat Andaru tahu mereka harus bergantian. Ketika ia melakukan CPR, ia mendengar suara isak sang istri...
“Ayolah!” teriak Andaru sebelum meletakkan telinganya sendiri di d**a pria itu. Kemudian melanjutkan CPR-nya...
Andaru menjaga ritmenya tetap sama dengan lagu yang masih digumamkan oleh Eris itu. Dan ketika ia menyadari Eris memberinya isyarat untuk bertukar. Pria itu tiba-tiba terbangun dan menghirup napas panjang seakan-akan seperti baru keluar dari air. Andaru melempar dirinya ke belakang. Si istri langsung memeluk sang suami dengan berurai air mata. Saat itulah Andaru menyadari banyaknya orang yang mengelilingi mereka.
“Kita masih mengantar nya ke rumah sakit!” Eris sambil mendongak.
“Mobil saya dekat!” Seru seorang pria dengan seragam berlogo perusahaan taxi ternama sambil mengangkat tangan. “Saya bersedia mengantar ke rumah sakit.”
Eris mengangguk, menarik sang istri dari tubuh suaminya itu. “Ayo, Bu.”
Eris sangat tenang bahkan ketika menarik sang istri bangun dengan Andaru yang dibantu oleh pria sang yang baik hati membopong sang suami menuju mobil sedan berwarna biru itu. “Ibu tahu nomor telepon saya,” ucap Eris sebelum menutup pintu. Sang suami pemilik warung mie ayamterbaring berbantalkan paha sang istri dengan wajah masih bersimbah air mata “Biar warung saya yang jaga sampai anak ibu pulang sekolah. Setelah itu saya menyusul.”
Mobil langsung melaju dengan cepat meninggalkan keduanya dan para penonton yang akhirnya membubarkan diri. Eris tiba-tiba mengerang, akhirnya berjongkok sambil memegang kepalanya. Ia membuat Andaru berjengit terkejut hingga gadis itu mendongak ke arahnya.
“Ini sama sekali bukan hari libur yang ideal. Bukan begitu?”
Andaru yang tidak benar-benar sempat memikirkan jawaban itu berkata seadanya, “Paling tidak menegangkan?”
Wanita itu memandang Andaru dengan pandangan tidak percaya...
***