Haidar benar-benar hanya diantar oleh Tahta pagi itu. Sementara Adara di rumah mempersiapkan jualan untuk nanti sepulang dari mengajak Haidar ke simpang lima. Tapi pikiran Adara tidak berada di sini, walau pun sejatinya ia sedang berada di warung, menatap beberapa camilan di etalase. Juga menyiapkan telur-telur beserta daun bawang dan saosnya. Tentu saja pikiran Adara masih berada pada kejadian tadi pagi. Sudah berusaha ia lupakan. Berusaha ia lewatkan. Tapi rasanya sulit sekali. Adara dibuat terkejut dengan suara gelas pecah. Langsung menengok ke sumber suara. Kesal, karena ternyata gelas itu tadi jatuh akibat tersenggol tangannya. Akibat ketidak konsentrasiannya, jadi lah begini adanya. Adara sebenarnya tidak punya muka untuk jualan hari ini. Setiap ada orang lewat, dan menyapanya,
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


