BERBUAH MANIS

1176 Kata
Malam menjelang, Yasmin tak langsung pulang dari acara pernikahan, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di tepi jalan ibu kota dengan lampu kerlap-kerlip yang glamour. Dia butuh hiburan sejenak, karena seperti biasanya, mendatangi resepsi pernikahan orang lain artinya menjawab pertanyaan-pertanyaan 'kapan menikah' siap menghujaninya. Matanya tanpa kedip menatap jajaran toko pakaian dengan pencahayaan yang sangat terang, memamerkan aneka sepatu, baju tunik dan gaun yang mewah. Tanpa sengaja, tepi matanya menangkap sebuah mobil Range Rover Sport warna putih, yang terparkir di depan toko tepat dia berdiri. Mobil itu persis seperti milik Dameer, namun ada sosok perempuan yang dia kenal masuk ke dalam mobil putih itu, seketika Yasmin terkesiap. 'Gladys?' Yasmin kemudian menggeleng kuat. Dia mencoba berprasangka baik, mungkin saja perempuan itu bukan Gladys, teman kuliahnya dahulu. Lagi pula, belum tentu mobil itu milik Dameer, karena tidak hanya lelaki itu satu-satunya orang yang memiliki mobil Range Rover. Gadis itu pun mencoba menghela napas, menenangkan diri kemudian melanjutkan jalan-jalannya. Tapi, lagi-lagi ada hal yang membuatnya tidak nyaman. Karena seolah ada seseorang yang tengah mengikutinya. Sesekali, Yasmin menoleh ke belakang namun tak ada sesiapa pun di sana, dan saat kembali melangkah, perasaan tidak enak itu muncul lagi hingga dia kembali menoleh dan sedetik menatap seseorang memakai hodie hitam yang sigap bersembunyi di balik dinding yang terhalang pohon dengan pencahayaan yang minim. Seketika jantungnya berdetak kencang. 'Benar dugaanku. Ada seseorang yang diam-diam mengikutiku!' batinnya cemas. Yasmin mempercepat jalannya, firasatnya tidak enak. Dia khawatir, orang itu berniat jahat padanya. Rasa khawatirnya terselamatkan dengan munculnya taksi, dia pun bergegas naik. “Agak cepat ya, Pak!” ujar Yasmin pada supir taksi. “Iya, Mbak.” Mobil mulai melaju, gadis itu menatap ke kaca belakang, tak nampak lagi orang asing itu mengikutinya. Dia pun menghela napas lega sambil mengelus dadanya. Tanpa setahu Yasmin. Orang misterius berhodie itu merasa lega, karena Yasmin pulang dengan selamat. **** Keesokan harinya. Yasmin benar-benar diajak dinner oleh Dameer. “Apa aku pulang dulu untuk ganti baju?” tanya Yasmin. Baginya tak pantas, dinner pertama dengan kekasih memakai baju kerja. Dameer mengulas senyum lembut. “Nggak usah, kamu pakai baju apa pun tetep cantik kok. Mending kita pergi sekarang biar kamu pulang gak kemaleman banget.” Nyes! Ada yang terasa dingin di d**a Yasmin. Dia kagum dengan kepekaan dan perhatian Dameer, semakin yakin kalau lelaki itu pantas untuknya dijadikan calon suami. “Hei! Kok, bengong?” Yasmin mengerjapkan mata karena terkejut. “Eh, ng-nggak kok. Oke deh, yuk kita jalan sekarang.” Dameer mengangguk dan membukakan pintu mobil. Saat masuk, gadis itu tampak takjub dengan desain interior mobil Dameer. “Wow! Ini sangat mewah. Pasti kamu banyak mengeluarkan banyak uang untuk merubah ini semua.” Lelaki tampan itu hanya terkekeh. “Kalau udah hobi, seberapa banyak pun kita mengeluarkan uang, bukan masalah.” Yasmin hanya menyeringai. 'Ya iyalah, kamu kan anak sultan,' batin Yasmin. Sesampainya di restoran. Dameer banyak menanyakan hal tentang Yasmin. Dan gadis itu pun menjawab dengan apa adanya, tak ingin secuil pun dia tutupi. Agar kelak menikah, lelaki itu tidak kaget terutama tentang keadaan dirinya yang serba sederhana. “Kalau hal itu suatu masalah bagiku, aku gak akan melangkah seserius ini sama kamu. Maksudku, sejak pertama jujur tentang perasaan ini, niatku sejak awal bukan mengajakmu pacaran tapi mau langsung ke jenjang pernikahan. Ingat?” ucap Dameer. Yasmin pun mengiyakan. Dan hatinya pun lega luar biasa. “Makasih ya Dam. Kamu mau sama aku, padahal gadis cantik, dan sepadan denganmu banyak. Tapi malah lebih memilih gadis sederhana sepertiku.” Dameer merengkuh kedua tangan Yasmin sambil menatapnya dalam-dalam, membuat hati Yasmin kebat-kebit tak karuan. 'Huft! Dia sangat tampan. Ini sangat nggak baik untuk kesehatan jantungku.’ “Bagiku kamu istimewa dibanding gadis lainnya. So, apakah kamu mau menerimaku?” Ucapan itu sukses membuat Yasmin seolah terbang di udara. Tanpa pikir panjang, dia mengangguk berkali-kali. “Iya, aku terima. Makasih ya Dam.” “Aku yang harusnya berterima kasih karena mau menerimaku. By the way, secepatnya aku bakalan kenalin kamu sama orang tuaku, habis itu lamaran dan kita nikah.” Yasmin menelan saliva dengan susah payah. Dia ingin menampar pipinya, takut kalau semua ucapan Dameer hanyalah mimpi. “Ka-kamu ... serius? Secepat itu?” “Ck! Kamu masih ragu?” “Sedikit.” Dameer kembali terkekeh. “Aku akan buktiin, tunggu aja.” Yasmin kembali tersipu. “Ayo, dimakan beef steak-nya, Yas,” imbuh Dameer. “Eh, i-iya.” **** Lilis tengah merajut sweater untuk Yasmin saat anak perempuan satu-satunya itu baru pulang dinner. Dia menggigit bibir bawahnya, sambil sesekali memilin tepi blazernya. “Lembur Yas! Tumben ampe malam?” tanya Lilis. “Ng-nggak Ma ... maaf lupa mengabari.” Yasmin menggaruk kepalanya, saking bahagianya berduaan dengan Dameer, sampai lupa tidak menghubungi Lilis. “Iya gak apa-apa. Trus, kalau nggak, kenapa pulang larut?” Lilis kembali bertanya. Pandangannya masih tertuju pada jarum dan benang rajut yang meliuk-liuk. “Ng ... sebelumnya, ada hal yang mau aku bicarakan ke Mama.” Lilis melepas kaca matanya. “Hm, oke. Duduklah.” Yasmin mengangguk dan duduk di sofa tepat di depan ibunya. “Biasanya kamu kalau mau ngomong gak izin dulu. Tumben,” cetus Lilis. Ia yakin, anaknya akan mengatakan hal yang cukup penting. “Hehe, iya Ma. Ini soal ....” “Hm?” Yasmin memperbaiki tempat duduknya. “Soal, pernikahan Ma.” “Pernikahan? Wah, apa kamu udah punya calon?” “Bisa dibilang begitu. Atasanku naksir aku, namanya Pak Dameer. katanya sih, serius Ma. Menurut Mama gimana?” “Kamu ditaksir CEO? Wah, kayak di drama-drama Korea dong!” goda Lilis. “Ih, Mama. Jangan buatku malu!” Yasmin sedikit menggerutu dengan pipi memerah. Lilis terkekeh. “Apa dia baik?” “Setauku sih, baik. Kadang emang galak sama karyawan yang buat salah, tapi baik sama karyawan yang rajin, juga profesional. Kira-kira Mama setuju gak?” terang Yasmin. Lilis mengangguk-anggukkan kepala. Sebuah kebahagiaan tersendiri baginya jika ada lelaki mapan dan kaya mencintai Yasmin. Tapi, tentu baginya ada hal yang lebih penting dari itu. “Mama setuju aja, asal ilmu agamanya juga bagus. Karena kan dia bakalan jadi pemimpin kamu dan anak-anak kelak. Pernikahan tanpa ilmu agama akan rapuh, karena rumah tangga itu ibarat bahtera, banyak gelombangnya.” Yasmin menghela napas berat. Itu tidak terpikirkan sama sekali baginya. Karena yang dia lihat, Dameer baik dan mencintainya, itu cukup. “Aku yakin Dameer baik. Soal ilmu agamanya bagus atau nggak kan hanya dia dan Allah yang tau. Masa ibadah dipamerin.” “Ya. Kamu udah dewasa, Yas. Dan Mama yakin, kamu bisa menilai lelaki itu, baik nggak nya buatmu.” Seketika Yasmin berhambur memeluk Lilis. “Makasih, ya Ma, udah merestui.” “Sama-sama. Ajaklah dia kemari, kenalkan Mama padanya.” “Oke, Ma.” Kebahagiaan membuncah di dadanya. Yasmin yakin, ini adalah buah kesabaran darinya menunggu jodoh. Saatnya nanti Dameer mengenalkannya dengan kedua orang tua lelaki itu. Baginya takkan ada lagi penghalang bagi kebahagiaanya. Dia menatap dirinya di cermin, senyuman seperti bulan sabit terukir manis di bibirnya. “Tinggal selangkah lagi, aku akan melepas masa lajangku. Aku akan menikah dan mempunyai suami, setelah itu gak ada lagi yang bully atau merendahkanku,” ucapnya bersenandika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN