Pukul dua dini hari.
[Assalamu’alaikum Mbak. Maaf ganggu malam-malam. Bu Lilis masuk rumah sakit, saya lagi nunggu kabar dari dokter sekarang]
Sebuah chat masuk ke ponsel Yasmin . Sayangnya, gadis itu tidak membukanya karena masih terlelap.
Saat pagi telah menjelang, sudah lebih sepuluh kali panggilan masuk.
‘Laras?’ Dahinya berkerut.
Dia memencet nomor untuk menelepon.
“Halo, Laras. Ada apa meneleponku? Maaf hp nya disilent, jadi gak kedengeran.”
“Mbak baca chatku semalam gak?” Laras balik bertanya di seberang telepon.
“Chat? Belum, ada apa?”
“Bu Lilis masuk rumah sakit. Kata dokter terkena serangan jantung, kondisinya sekarang masih belum sadarkan diri.”
“Hah? Mama gak ada riwayat jantung, tapi stroke.”
“Itu kata dokternya. Mbak bisa ke sini kan sekarang?”
“Bisa, bisa. Sekarang aku pulang.”
Bip!
Yasmin langsung menelepon Dameer untuk meminta izin pulang. Namun, lelaki itu melarangnya untuk pergi sendirian. Bahkan saat Yasmin akan ditemani maid-nya, tetap tidak diizinkan.
“Aku segera ke sana. Tunggu aja ya, nanti kita ke rumah sakit bareng-bareng.” Itu ucapan Dameer saat di telepon.
Yasmin benar-benar tidak tenang. Sepanjang hari terus saja mondar mandir seperti setrikaan.
Hari sudah sore, namun Dameer belum juga sampai di villanya.
“Ya ampun. Kamu kok belum datang ....” lirih Yasmin semakin khawatir.
Dia terus mencoba menghubungi Dameer, namun tidak diangkat juga.
****
Laras kembali menghubunginya, saat hari mulai gelap.
“Assalamu’akaikum Mbak.”
“Wa’alaikum salam. Laras, maaf aku belum bisa datang, tadi__”
“Bu Lilis meninggal dunia, Mbak. Sekitar setengah jam lalu, hiks.”
Deg!
Yasmin mendadak mematung.
“Dokter sudah melakukan yang terbaik. Tadi Bu Lilis sempat dibawa ke ruang ICU bahkan dibantu alat picu jantung, namun gak berhasil. Maaf, saya baru sempat menelepon, tadi genting sekali,” jelas Laras.
“Innaalillahi wa inaa ilaihi rooji’uun. Ya Allah ....”
Tiba-tiba saja Yasmin teringat Tuhannnya, yang entah sejak kapan dia lupakan.
‘Mama ....’
“Sebaiknya Mbak cepat pulang sebelum Bu Lilis dimakamkan. Pasti Mbak mau melihat beliau untuk terakhir kali kan?”
“Iya. Aku akan sewa mobil aja untuk ke sana.”
“Baik, saya tunggu. Yang sabar ya Mbak, hati-hati di jalan. Asalamu’alaikum.”
“Makasih. Walaikumsalam.”
Telepon berakhir. Yasmin terduduk lemas dengan derai air mata.
Terakhir dia menghubungi Lilis, tepat pada saat pernikahan mereka. Lilis menumpahkan kekecewaannya karena Yasmin menikah dengan Dameer. Sejak saat itu, ibunya itu sudah tidak pernah lagi mengangkat telepon darinya.
****
Tanpa membuang waktu lagi. Malam itu, Yasmin menyewa mobil sedan menuju ke Jakarta.
“Apa? Kamu ke Jakarta malam ini?” pekik Dameer.
Yasmin meneleponnya saat di perjalanan menuju Jakarta.
“Iya. Aku terpaksa Dam. Mamaku meninggal, dan aku harus ke sana malam ini.”
Dameer mendecih.
“Kamu pergi tanpa seizinku Yas!”
Yasmin mengerutkan dahi, bahkan Dameer tak sedikit pun terdengar sedih atau simpati atas meninggalnya Lilis.
“Kenapa kamu masih membahas soal itu? Kamu lupa ya, udah janji sama aku hari ini akan pulang dan menjemputku untuk ke Jakarta lihat Mama. Tapi, sampai malam begini pun, kamu gak datang. Mama malah keburu meninggal!” ujar Yasmin dengan nada kesal.
“Aku masih ada kerjaan tadi.”
“Ada hp, kenapa gak ngabarin? Kutelepon berkali-kali gak diangkat!”
“Sudah kubilang ada kerjaan. Itu artinya, aku sibuk. Paham omongan gak sih!”
Yasmin hanya terdiam dengan masih menahan emosi.
“Dan kamu gak berhak marah, aku ini suamimu! Lagi pula, aku datang atau nggak, tetap aja kita gak akan keburu lihat mamamu, karena sudah meninggal sebelum kita sampai.”
Air mata kembali membasahi pipi. Ucapan-ucapan Dameer sangat menyakitinya, dia tak menyangka Dameer bersikap seperti itu bahkan seolah tak peduli pada Lilis.
“Sudahlah ... gak usah diperpanjang. Aku gak mau berantem, suasana hatiku juga lagi berduka. Do’ain aja, supaya perjalananku lancar sampai Jakarta.”
Yasmin menutup sambungan telepon lalu menyeka air matanya.
Dia menarik napas dengan berat sambil mengalihkan pandangan ke arah tol dengan pepohonan yang lebat dihiasi lampu jalan. Mobil sudah memasuki tol Cikampek, keadaan jalanan tidak terlalu sepi.
“Kita langsung ke rumah sakit yang saya sebutin tadi ya, Pak!” ujar Yasmin pada sang supir.
“Oke, Mbak.”
Tepat jam dua dini hari, mobil masuk ke area parkir rumah sakit umum.
Setelah membayar mobil sewaan, dia bergegas menemui Laras yang tampak menunggu di koridor.
“Laras, aku benar-benar minta maaf.”
“Nggak apa-apa Mbak.”
“Mama mana?”
“Di kamar jenazah, ayo kuantar.”
Gadis itu masuk tanpa ragu ditemani Laras. Dia menatap paras pucat milik ibunya yang sudah terbujur kaku.
“Sebelum beliau pergi. Bu Lilis sering melamun. Kayaknya kangen sama Mbak.”
Yasmin menoleh ke arah Laras, mencoba mendengarkan apa yang akan dia ucapkan lagi.
“Bu Lilis curhat. Ia sedih, memikirkan Mbak, sejak Mbak nikah sama Pak Dameer. Kayak khawatir gitu. Sepertinya, hal itu yang memicu jantungnya ke-trigger.”
“Aku sering meneleponnya, tapi gak pernah beliau angkat.”
“Iya Mbak. Kayaknya bu Lilis kecewa banget, saya juga dilarang menghubungi Mbak.”
“Ya Allah ....”
“Satu jam sebelum meninggal, kata dokter beliau sebut nama Mbak Yasmin berkali-kali. Kalau saya tau pasti langsung menelepon Mbak.”
Kembali Yasmin menatap wajah Lilis lekat-lekat. Bertahun-tahun mereka hidup berdua dengan berbagai ujian yang dihadapi. Saling membutuhkan dan melindungi. Lilis adalah sosok ibu yang sering tempat curhatnya.
Betapa dibutuhkannya sosok ibu saat Yasmin terpuruk. Tapi dalam sekejap, dia mampu membuat wanita yang melahirkannya kecewa.
“Mama, maafkan aku ....”
Yasmin menyeka air matanya dan kembali menutup wajah ibunya. Mereka keluar dan meminta pihak medis untuk memasukkan Lilis ke ambulans.
“Mbak. Saya sudah minta bantuan beberapa warga untuk memandikan, mensalati, dan memakamkan bu Lilis saat sampai nanti. Jadi, Mbak boleh istirahat.”
Yasmin menggeleng kuat.
“Aku mau memandikan mama dan mensalatinya.”
Laras menatap dalam-dalam wajah Yasmin.
“Saya senang. Mbak mau melakukannya. Itu adalah salah satu bentuk berbakti pada orang tua.”
Air mata Yasmin kembali tumpah.
“Aku harap, mama mau memaafkanku, Laras ....”
“Minta ampunlah pada Allah. Sesungguhnya Dia maha pengampun. Rido Allah tergantung pada rido orang tua, begitu pun sebaliknya.”
Yasmin mengangguk-anggukkan kepala.
“Makasih Laras.”