Adinda sendiri tidak pernah mau hidup seperti ini. Dia ingin diperhatikan namun tidak seperti ini juga. Perhatian yang diberikan ibunya suangguh berlebihan. Padahal di laur sana ada yang selalu minta diperhatikan seorang ibu. Namun, Adinda sendiri sudah muak dengan segala bentuk perhatian dari ibunya itu.
Pasalnya, bukan karena Adinda bosan dengan perhatian dari seorang ibu. Hanya masalahnya, perhatian ibunya ini kadang – kadang membuat Adinda merasa tertekan karena jika ibunya sudah perhatian seperti ini Adinda tidak bisa lepas dari yang namanya interogasi.
Ibunya akan terus bertanya kenapa, mengapa, bagaimana, oleh siapa dan kok bisa?
Adinda sendiri susah menjelaskan detailnya karena tidak mungkin Adinda harus mengatakan jika dirinya di bully oleh orang – orang yang bahkan Adinda tidak terlalu kenal. Jangan lupakan kenapa Adinda di bully. Jika ibunya tahu, kemungkinan besarnya Adinda tidak sekolah di sekolah formal seperti ini lagi.
“Aku kejedot pintu.” Kata Adinda pada akhirnya lalu menutupi lukanya dan mulai menulis asal rumus yang ada di kepalanya.
Kursi putar milik Adinda di putar untuk menghadap ke arah ibunya sehingga Adinda mau tidak mau harus bertatapan dengan mata ibunya yang menatap luka Adinda dengan sangat jeli dan cukup dekat.
Ludah Adinda sangat terasa melewati tenggorokannya. Mungkin karena gugup jadi ludah Adinda sendiri susah untuk di telan. Adinda menatap matai bunya yang terus memperhatikan luka dari bibir Adinda.
Kemudian, Adinda mundur.
“Kenapa sih, Ma ? Aku ga nyaman diliatin kayak gitu.”
Ibunya terdiam. “Beneran itu kejedot pintu ? Kok bisa ?”
Adinda berdecak, “ya bisa. Makannya kayak gini juga.”
Lalu, di dalam hati Adinda berdoa agar ibunya percaya. Kemungkinan tidak percaya dari kepala ibunya itu adalah 80% dan kemungkinan percaya ada 20%. Jika tidak ada 20% yang itu mungkin Adinda tidak akan berbuat apa – apa lagi. Namun, ketika meliat peluang sebanyak 20% itu, Adinda cukup percaya diri jika ibunya kemungkinan akan percaya.
Setidaknya, ada kemungkinan dulu dari pada tidak sama sekali.
Adinda menatap ibunya yang menepuk kedua lututnya berbarengan kemudian mengalihkan pandangan dari Adinda. Lalu ibunya berdiri dan berdecak pelan.
“Makan dulu. Nanti mama obatin.”
Setelah pintu di belakang Adinda tertutup menandakan bahwa ibunya benar – benar sudah keluar dari kamarnya, Adinda melirik pintu itu dengan nafas lega. Hembusan nafasnya benar – benar keluar dengan lega. Adinda tidak perlu menutupi ini lagi. Setidaknya, Adinda bisa bebas untuk makan di hadapan ibunya.
Adinda lekas keluar dan duduk di meja makannya sambil membawa buku latihan dan pensilnya. Mengerjakan beberapa soal sambil sesekali menatap ibunya yang sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga Adinda.
Sebenarnya, Adinda sudah malas dengan pembelajaran seperti ini. Namun, Adinda harus terus mengulang agar tahu celah dan lancar dalam pengerjaannya. Apalagi, pelajaran ini sudah pernah di kerjakan Adinda di tempat les yang di jalankan oleh ibunya.
“Yudha itu gimana di sekolah ?”
Pertanyaan dari ibunya itu membuat Adinda berhenti dalam pengerjaan soal yang ada di buku itu. Kemudian, berdeham kecil.
“Emangnya kenapa ?”
Ibunya Adinda menatap Adinda yang masih mengerjakan soal – soal yang ada di buku latihan dengan air putih ditangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang pensil. Adinda sduah dikatakan jenius. Bisa mnenggunakan dua tangan dan bisa mengerjakan segala sesuatu oleh tangan kanan dan tangan kiri. Namun, sepertinya Adinda memang menyukai tangan kirinya.
Namun, faktanya Adinda memang sengaja memakai tangan kirinya hanya di ahdapan ibunya. Adinda tidak kidal, namun tangan kiri adalah sebagai bentuk bahwa tangan kanannya tidak bisa dipakai lagi karena tangan kanannya selalu sering kesemutan dan sakit ketika di pakai.
Di sekolah, Adinda memakai tangan kanan seperti biasanya. Karena di sekolah biasanya, Adinda tidak pernah megerjakan soal dan menulis sebanyak ia menulis dan mengerjakan soal di rumah. Adinda sudah lelah dengan tangan kanan dan belajar menggunakan tangan kiri dan kemudian, itu menjadi salah satu kebiasaan Adinda di depan ibunya.
“Mama lihat, Yudha anak yang baik. Tapi kenapa dia butuh les ?”
Adinda mengumpat dalam hati.
Nilai ujian miliknya lebih di atas rata – rata atau bisa dikatakan sempurna di setiap mata pelajaran kecuali olahraga. Selalu menang di dalam olimpiade. Selalu berhasil memenangkan kompetisi yang bahkan bisa dikatakan sulit.
Namun, seoranga Adinda seperti itu saja masih memerlukan les ? Kenapa ibunya tidak bertanya tentang Adinda saja ?
Adinda mengangkat kedua bahunya dengan berbarengan. “Dinda ga terlalu kenal sama Yudha, jadi ga tau apa – apa.”
Ibunya Adinda menyimpan beberapa bahan makanan untuk makan malam hari ini kemudian duduk sambil mengangguk di hadapan Adinda. “Bagus.”
Adinda mengerutkan keningnya tidak mengerti, “apanya yang bagus ?”
“Kamu jangan kenal dulu sama yang namanya laki – laki. Kamu harus bisa buktiin dulu kalo tempat les mama berhasil mengeluarkan orang – orang pintar.” Kata ibunya, “setelah itu, kamu juga harus masuk ke fakultas kedokteran supaya bisa buktiin bahwa mama lebih berhasil lagi memasukkan anak ke fakultas itu.”
Adinda benar – benar mengeratkan kepalannya di gelas yang masih ia pegang. Adinda tidak ingin masuk ke fakultas kedokteran. Adinda tidak ingin belajar kedokteran. Adinda tidak ingin menjadi dokter.
“Bisa ‘kan, Din ?”
Adinda menatap ibunya yang bertanya kemudian mengangguk ragu, “ga tentu tapi aku akan berusaha.”
“Harus bisa.”
Hembusan nafas lelah dari Adinda menajadikan Adinda beanr – benar sudah tidak bisa melawan ibunya lagi. Entah, Adinda hanya bisa menurutinya dulu sekarang. Untuk nanti, biar Adinda pikirkan lagi.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kehidupan Yudha juga tidak semulus siswa lain di sekolahnya. Banyak hambatan yang sering kali di alami oleh seorang Yudha. Di mulai dari kehiduapannya yang merasa sendiri lebih baik. Namun nilai – nilai di sekolahnya sangatlah meresahkan sehingga ibunya sendiri harus turun tangan untuk menghadapi sekolah Yudha.
Yudha sendiri memang bukan anak dari orang yang terpandang. Ibunya hanya seorang dokter spesialis ‘orang sakit jiwa’ jika kata Yudha. Padahal sebenarnya, ibunya Yudha ini bukan hanya memberi saran kepada orang yang sakit jiwa. Namun, dia juga bisa membantu orang – orang yang memiliki gejala depresi ringan sampai akut. Tapi, Yudha tidak mengakuinya.
Dia sendiri punya ayah yang terus menerus bekerja di kehidupannya. Bahkan jika di tanya nama lengkap Yudha, ayahnya tidak akan hafal. Padahal Yudha adalah satu – satunya anak laki – laki di keluarganya. Yudha tidak punya seorang adik atau kakak. Dia anak tunggal dan mulai sejak ibu dan ayahnya terpisah. Bukan bercerai, hanya terpisah. Dirinya juga ingin memisahkan diri dari ibu dan ayahnya.
Pada akhirnya, Yudha berjalan untuk dirinya sendiri.
Kemarin, saat Yudha bertemu dengan Adinda di tempat les bersama ibunya. Yudha terpaksa ke sana. Jika bukan masalah sekolahnya, Yudha tidak akan pernah mau ada di sana.
Ibunya mengatakan jika Yudha bebas menjalani hidup yang seperti apa asal tidak membuat masalah. Hal itu yang membuat ibunya mengijinkan Yudha untuk tinggal sendiri. Sering kali Yudha tidak membutuhkan uang orang tuanya. Yudha sudah bisa mencari uang sendiri. Bermodalkan dua motior sport yang dipinjamkan teman – temannya, Yudha bisa menghasilkan uang dari balapan motor. Sehingga sekarang, koleksi motor milik Yudha sudah banyak dan Yudha bisa mengembalikan motor yang dipinjamnya dari teman – temannya itu.
Yudha mendapat uang dari hasil berjualan motor yang di dapat dari taruhan setiap kali balapan dan juga kadang – kadang ada uang yang di terima Yudha setelah balapan selesai dengan pemenangnya adalah dirinya sendiri.
“Malam ini, Adrean cari lawan.” Kata teman Yudha.
Yudha tersenyum kecil, “gue oke. Dimana ?”
Teman – temannya Yudha ini juga pembalap. Namun tidak sejago Yudha. Terkadang, mereka jatuh akibat motor dan tikungan yang terlalu tajam. Namun Yudha berbeda. Dia kalah dalam hitungan jari. Lagi pula, lawannya adalah orang – orang itu saja. Termasuk yang bernama Adrean ini.
Dia adalah lawan dari dulu yang ingin sekali mengalahkan Yudha. Namun sering kali gagal. Yudha juga sudah bersiap jika kapan – kapan Adrean akan melakukan hal licik untuk menang darinya.
Maka dari itu, Yudha selalu menyiapkan rencana cadangan.
“Eh, kemarin katanya lo nolongin adek tingkat. Siapa ?”
Yudha tersenyum kecil ketika mengingat Adinda. Rasanya, baru kemarin namun dirinya ingin melihat Adinda lagi. Bukan rindu. Hanya saja, wajah Adinda yang terlalu enak untuk di pandang.
“Adinda namanya.”