BAB 4 : TARUHAN

1118 Kata
Adinda harusnya tidak menyetujui taruhan itu. Adinda sudah percaya diri namun jawaban Adinda di kertas jawaban ujian harian fisika kemarin kurang tepat dan di kurangi lima point dari angka seratus sempurnanya. Dan di sinilah Adinda berakhir. Di tengah – tengah kantin dan di tonton oleh orang – orang yang menatapnya tidak enak seperti makanan siang hari. Di depan Adinda ada cowok dengan perawakan gagah dan tegak. Lebih tinggi dari Adinda. Kepala Adinda hanya mencapai pundaknya. Kulit tidak terlalu putih namun bersih menjadikan orang di hadapan sangat dikagumi oleh orang – orang terutama kaum hawa tergila – gila padanya. “Kenapa ?” Tanya orang di depan Adinda sekarang. Adinda gelagapan karena pada dasarnya, Adinda bukanlah orang yang bisa bersosialisasi banyak dengan orang – orang. Jika di suruh untuk memilih, Adinda akan mending melawati ujian dengan soal matematika jika harus memulai obrolan yang bahkan Adinda sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Lagi – lagi orang itu bertanya kenapa pada Adinda yang menghalani jalannya untuk keluar dari kantin. Adinda meneguk ludahnya susah payah kemudian memberanikan diri menyodorkan air mineral yang sedari dia pegang dengan erat. “Gue kalah taruhan dan hukumanya harus buat lo nerima minuman ini.” Kata Adinda pelan. Cowok di depannya tersenyum tipis kemudian menatap Adinda yang dari tadi terus menunduk. Adinda benar – benar menghindari orang di depannya saat ini dari dulu. Tidak ingin mendapat masalah dari orang – orang yang yang dengan seenaknya mengaku – ngaku jika cowok di depannya ini adalah pacarnya. Atau calon suaminya. “Kalo gue ga nerima ini gimana ?” Adinda kini menatap orang di depannya yang sedang tersenyum kecil, “ini kan rizki, kenapa ga di terima aja langsung ?” Orang di depannya kini tersenyum sedikit lebih lebar dari tadi, “gue bisa beli.” Kemudian orang itu melewati Adinda begitu saja tanpa menerima air mineral itu. Dan sialnya, setelah ini mungkin Adinda akan menjadi korban bully orang – orang yang mengatakan dengan terang – terangan kalau mereka menyukai cowok tadi. Adinda duduk lagi di sebelah Ria. “Lo sih, tarohannya kan ga ngada – ngada.” Ucap Adinda ketika Ria menyambutnya dengan tawa yang cukup menjengkelkan. Ria menyodorkan jus jambu biji kepada Adinda, “janji adalah janji.” Adinda mendengus, “lo ngapain juga nyuruh gue beginian.” Kata Adinda melempar botol air minum yang tadi di abaikan oleh cowok bahan taruhannya bersama Ria, “gue malu dan bentar lagi bakal ada yang ngelabrak gue.” Lagi, Ria terkekeh. “Lo udah janji dan lo harus tepatin.” “Iya. Nanti gue kasih lagi minumannya ke dia.” Ucap Adinda sebal kemudian beranjak dari sana dan meninggalkan Ria yang masih terkekeh. Sebenarnya, Ria meminta Adinda seperti itu agar Ria tidak sendirian lagi. Adinda harus belajar mendekati orang lain. Ria rasa, Adinda terlalu sibuk dengan pelajarannya dan Adinda tidak sempat mengenal namanya pertemanan bersama seorang laki – laki. Kenapa harus cowok itu? Ria juga sebenarnya tidak pernah berfikiran untuk menggunakan cowok itu untuk Adinda, hanya saja jika Adinda mengenal cowok itu kemungkinan besarnya Adinda mengenal teman – temannya yang lain. Itu akan membantu Adinda mengenal teman – temannya dan membuat zona baru untuk Adinda. Pikiran ini mungkin baik menurut Ria. Namun, pada kenyataannya Adinda tidak sebaik – baik itu. Harus mengantarkan botol minuman dan cowok bahan taruhannya itu harus menerima dari tangan ke tangan. Adinda sendiri harus menepati janjinya itu walau berat. “Jadi ini yang mau coba deket – deket sama cowok orang ?” Adinda yang sedang berjalan itu dihadang oleh orang – orang yang berpenampilan kurang rapi. Seragam yang dikeluarkan, rambut di cat dengan warna tidak hitam dan tidak terlalu mencolok, rok di atas lutut dan sepatu yang meyalahi aturan. Adinda di susul Ria di belakangnya cukup mengerti siapa dan apa yang dibicarakannya. Seolah tidak terjadi apa – apa, Ria dan Adinda berjalan melewati kumpulan – kumpulan orang itu. Selanjutnya, Adinda di tarik ke belakang. “Gue lagi ngomong sama lo.” Kata orang yang tadi menghadangnya. Adinda menunduk, begitu pula dengan Ria. Mereka sangat tahu jika orang – orang ini kemungkinannya tidak mungkin melepaskan orang atau yang disebut target untuk mereka pergi begitu saja. “Maaf kak.” Kata Adinda masih dengan sopan, karena orang yang menarik seragamnya tadi adalah kakak kelasnya. “Saya mau pergi ke kelas.” Orang yang menariknya tadi kini tertawa, “udah godain cowok orang masih nyaman aja hidup lo ?” Ria dan Adinda benar – benar tahu apa yang mereka lakukan adalah kesalahan yang fatal. Maka dari itu, Ria akan mencoba berbicara. “Maaf kak, saya yang nyuruh Adinda ngelakuin itu.” Kata Ria. Sebenarnya, Ria juga tidak berani melawan mereka namun melihat mereka melakukan hal seenaknya, Ria juga tidak bisa diam. Apalagi yang diperlakukan tidak enak itu adalah temannya sendiri. Tentu saja Ria tidak bisa menerima itu dengan mudah. Bahkan bisa dikatakan sulit untuk menerimanya. Tawa menyebalkan itu masuk ke gendang telinga Adinda dan Ria lagi. “Kenapa juga lo nyuruh ni anak ngelakuin itu ?” Ria akan menjawab namun di sela oleh Adinda, “saya tidak berencana merebut pacar orang.” Kata Adinda, “saya hanya menawarkan minuman. Itu saja.” Setelah orang yang menarik bajunya tadi menyingkir karena di dorong pelan oleh orang yang kini ada di depan Adinda, Adinda yakin bahwa orang di depannya saat ini yang mengatakan jika dirinyalah yang merupakan pacarnya dari cowok yang jadi bahan taruhan Ria dan Adinda. “Oh, ngasih minum doang ?” tanyanya yang langsung di angguki Adinda, “kenapa harus cowok gue ?” Adinda bingung harus menjawab apa. Tatapan orang itu seakan ingin memakan Adinda saat itu juga. Tajam dan sangat menyakitkan. “Maaf kak, kami pilih orang random.” Ucap Adinda asal. Tawa dari orang di depannya kini sangat meremehkan Adinda. “Sekali lagi lo deketin cowok gue, lo akan berurusan sama gue.” Adinda mengangguk kemudian menatap orang – orang itu pergi dari hadapannya. Ria dan Adinda kini menghembuskan nafasnya pelan dan lega. Adinda menepuk lengan Ria yang terkekeh setelah orang – orang yang tadi mengancamnya itu benar – benar menghilang dari hadapannya. “Lo juga sih, kenapa harus Yudha ?” tanya Adinda kepada Ria yang sudah berjalan menuju kelasnya sambil terkekeh. Ria mengendikkan bahunya kemudian mengatakan, “ga tau. Tiba – tiba aja terbesit di pikiran gue.” Adinda mendengus, “jadi gimana ? Tarohannya di udahanin ya ?” Ria menatap Adinda kemudian merangkulnya, “sebagai teman yang baik dan tidak menjerumuskan teman baiknya ke lubang buaya, maka taruhannya gue ganti.” Lengan yang tadi melingkar di leher Adinda kini di hempaskan begitu saja, “gue kira lo bakal udahananin tarohannya, ini malah di ganti. Nyebelin.” Ucap Adinda. “Tarohan adalah tarohan. Lo musti selesaiin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN