BAB 9 : PERTAMA KALI

1347 Kata
Adinda memang tidak biasa diperlakukan dengan tekanan menggunakan fisik. Adinda hanya bisa di tekan oleh ibunya. Mungkin karena sudah kebal dengan sikap ibunya yang menakan adinda untuk slealu menjuarai kelas dan beberapa olimpiade, Adinda tidak merasa takut lagi pada ibunya. Terkadang, Adinda hanya merasa tertekan dengan keadaan yang mengharuskan Adinda untuk selalu menjadi nomor satu dalam akademik. Sedangkan tekanan tadi sangatlah berbeda dengan apa yang biasanya dia dapatkan dari orang tuanya. Adinda merasa jika dirinya lemas ketika fisiknya di perlakukan seperti itu. Bibirnya juga sedikit perih saat Ria mengatakan jika ada darah di bibirnya. “Gue beliin lo minum dulu,” kata Ria sambil menutup pintu UKS yang baru saja dibuka oleh Yudha yang terus berada di samping Adinda. Adinda di sambut oleh perawat sekolah. Tidak kaget. Mungkin perawat sekolah sudah biasa menangani kasus seperti ini. Dimana banyak anak yang jadi korban bully. “Duduk dulu.” Katanya saat melihat Adinda pucat. Masih ada Yudha di samping Adinda. Rasanya, ada yang hilang dari tubuh Adinda. Tekanan yang tadi di dapatkan dari Isti menghilang begitu saja saat perawat ada di depannya. Sudah duduk dan mengambil beberapa obat untuk mengobati luka Adinda. Adinda sendiri kurang paham, namun obatnya tidak berwarna dan ketika di tekankan di luka sudut bibirnya, Adinda mundur. Perih. Kembali lagi luka Adinda merasa perih begitu kapas itu di tarik menjauhi bibirnya. Ada sensasi dingin ketika aing kecil bertiup menyapu bibirnya. Kemudian Adinda mencium bau alkohol. Ternyata cairan tidak berwarna itu alkohol. Adinda mempelajarinya. Cairan mudah menguap dan sering dijadikan desinfektan itu tadi menyentuh bibirnya. Iya. Jika ditanya, Adinda baru merasakan sensasinya sekarang. Adinda jarang terluka dan tidak mau terluka tentu saja. Apalagi ketika Adinda tadi merasakan bagaimana perihnya luka terkena cairan alkohol itu. “Beruntung, masih ada yang nolongin.” Kata perawat wanita itu, “mungkin akan lebih parah kalau ga ada yang nolongin.” Adinda kini menatap Yudha yang dengan cueknya menatap ponsel tanpa menghiraukan jika perawat itu memujinya secara tidak langsung. Atau mungkin Yudha dengar tapi pura – pura tidak mendengar. “Istirahat dulu aja di sini.” Kata perawat itu, “tenangin dulu hati. Jagain temen lo.” Ucap perawat itu pada Yudha. Yudha berdeham kemudian menatap perawat itu pergi, “mau kemana lo ?” Ariska cukup kaget mendengar Yudha mengatakan bahasa yang bisa di bilang kurang sopan ketika berbicara pada orang penting di sekolah dan tentu saja sang perawat lebih tua darinya pasti, “Persediaan obat abis, keluar bentar.” “Terima kasih, sus.” Kata Adinda membuat perawat yang tadi membuka pintu dan menutupnya kembali dan menatap Adinda. Perawat itu menatap Adinda lekat – lekat, “gue ga pernah liat lo. Baru masuk UKS ?” Adinda mengangguk ragu membuat perawat itu terkekeh, “gue lebih suka dipanggil kakak dari pada suster.” Setelah itu perawat itu membuka pintu dan menutupnya dari luar. Kesimpulannya adalah Adinda baru saja masuk UKS sekali ini. Di obati dan mengenal perawat sekolah dengan bahasa super gaul. Adinda juga merasa jika Yudha sudah mengenal perawat itu lebih dulu daripada dirinya. Apa kemungkinan besar Yudha sering di UKS ? Yudha menatap Adinda yang masih berfikir kenapa ruang UKS bisa sebagus ini. Mengapa juga Adinda baru masuk ke sini ? Padahal ruangan ini enak untuk di jadikan ruangan tidur siang atau bolos jam sekolah ? Semua itu tidak ada di kamus Adinda. Ruangan UKS adalah ruangan yang paling dihindari oleh Adinda. Bukan masalah apa, kebanyakan yang ada di ruangan ini adalah siswa atau siswi yang bolos pelajaran dan malah main game di sini. Lebih parahnya, ada gosip jika ruangan UKS ini dijadikan tempat m***m. Entah, Adinda memang menghindari itu semua. Yang paling terakhir menjadi alasan Adinda tidak pernah masuk ke ruangan ini adalah dimana dirinya harus terluka dulu untuk masuk ke sini. Seperti sekarang. Posisi Adinda ke sini adalah pasien. Di obatin dan sakit. Adinda menghindari dua hal itu. Tidak boleh terluka dan tidak boleh sakit. “Gue sering ke sini buat bolos.” Ucap Yudha membuka pembicaraan, “lo baru sekali ini masuk ke sini ?” Tanya Yudha dan langsung di angguki oleh Adinda, “serius ?” Adinda mengangguk lagi, “iya. Gue ngehindarin ruangan ini karena gue takut.” “Kenapa ?” Kata Yudha, menarik kursi Adinda lebih dekat dengannya, “takut ke gap lagi berduaan kayak gini ?” Tidak nyaman. Satu hal yang menjelaskan suasana di ruangan UKS ini. Berdekatan dengan Yudha seperti membuat Adinda tidak nyaman. Selain urusan ketahuan lagi berduaan, Adinda merasa tidak boleh seperti ini saat di sekolah. Adinda lantas mundur namun kursi dengan roda yang di dudukinya di tarik lagi oleh Yudha. Yudha tersenyum menatap Adinda yang pucat. Kemudian tangannya menekan kening Adinda pelan. “Tidur sana, muka lo pucet banget.” Ucap Yudha. Tidak tahu saja yang membuat lebih pucat wajah Adinda lebih dari sebelumnya adalah Yudha sendiri. Berbicara tentang pucat. “Isti itu emang cewek lo ?” Yudha yang tadinya mau berdiri dari tempat duduknya kini kembali duduk dan menatap Adinda dengan cukup dalam. “Emangnya, kenapa kalo dia cewek gue ?” Wajah Yudha yang serius membuat Adinda meneguk ludahnya susah payah. Kemudian gelagapan menghindari tatapan Yudha. “Ya- ya ga papa.” Kata Adinda gugup, “cuman penasaran aja.” Yudha terkekeh, “bukan. Gue ga punya cewek.” Kata Yudha. Lantas Adinda mengangguk – anggukkan pelan kepalanya kemudian terkaget lagi ketika Yudha menarik lagi kursinya untuk berdekatan dengannya. “Kalo lo jadi cewek gue, mau ga ?” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Botol minum yang dipegang Ria kini terjatuh dan membuat Adinda seketika menjauhkan diri dari Yudha. Bukannya sama – sama menjauhkan diri dari Adinda justru sekarang Yudha malah mendekati Adinda yang terus menerus menghindari Yudha. “Kasih minumnya sama dia cepet,” suruh Yudha kepada Ria yang masih mematung di pintu yang terbuka secara tiba – tiba tadi. Ria gelagapan kemudian duduk di samping Adinda. Tempat duduk perawat yang tadi pergi keluar. Ria menatap Yudha yang dekat dengan Adinda. Namun Adinda tidak nyaman dan juga merasa tidak enak pada Ria. Kemudian, Ria memberikan dua botol minuman yang tadi Ria beli. Maksudnya, agar Adinda dan Yudha minum. Ria sudah minum tadi di jalan ke sini. Maka dari itu, Ria menyisakan hanya dua botol. Adinda menerima botol minum itu kemudian memberikan satu botol pada Yudha. Yudha menerima itu kemudian Ria teriak. “Yak!” Kata Ria membuat Yudha dan Adinda tentu saja kaget, apalagi gesture tubuh Ria yang berdiri dan menunjuk botol minum yang sedang di pegang Yudha. Yudha dan Adinda tiba – tiba melirik apa yang ditunjuk ole Ria. Setelah itu, Adinda tersenyum kemudian bertos – ria dengan Ria. Sekarang hanya Yudha yang tidak mengerti. “Apaan sih ?” Tanya Yudha. Adinda menatap Yudha, “thank you, Yud. Bel udah bunyi sana masuk kelas.” Yudha semakin tidak mengerti, Adinda sudah tidak sepucat tadi. Yudha jadi senang karena Adinda sudah bisa tersenyum. Mungkin benar, teman baik akan membuatnya tersenyum. Kedatangan Ria membuat Adinda tersenyum dan bergembira. Yudha bersyukur tentang hal itu. “Ya udah, gue duluan.” Kata Yudha, “lo istirahat. Dan lo-“ tunjuk Yudha pada Ria, “jagain calon cewek gue.” Adinda ingin sekali memukul mulut Yudha yang dengan sembarangan memberikan title untuknya. Adinda tidak menyukainya. Title itu serasa geli untuk di dengar di telinga Adinda dan Ria. Setelah Adinda memastikan Yudha keluar, Ria dan Adinda terkekeh. “Lunas ya, tarohan gue.” Ria mengangguk kemudian memeluk Adinda. “Gue tadinya mau batalin itu sumpah.” Katanya. “Kenapa ?” Tanya Adinda. Ria melerai pelukannya sedikit kasar, “kenapa apa ? Lo sampai kayak gini gara – gara gue. Sori banget.” Adinda tersenyum kemudian menangkup tangan Ria di pipinya, “ga papa. Gue udah lunasin yang penting.” Ria mengangguk. “Untung Yudha mau dengerin gue.” “Eh iya, kenapa Yudha bisa pas gitu nolongin gue ?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN