“Siapa kamu?” tanya seseorang dengan mahkota yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
“Sa-saya Adrasta, Om.” Pria di belakangnya segera menendang Adrasta.
“Dia yang mulia Raja Triton,” bisik pria berpakaian aneh yang sempat membawanya kemari itu.
“Ohh, saya Adrasta, yang mulia. Saya tersesat.”
Sang Raja percaya saja dengan perkataan orang asing itu. “Kamu tidak tahu jalan pulang?” Adrasta mengiakan pertanyaannya.
“Kamu mau mengabdi pada kerajaan Bergelmir?” Tanpa pikir panjang, Adrasta segera menerima penawaran itu. Dari pada ia harus mendapat masalah yang lebih serius? Begitu pikirnya.
“Tapi, yang mulia---” ucap salah satu prajurit kerajaan yang hendak membantah. Namun, segera disanggah oleh sang Raja.
“Saya percaya dengan ramalan kuno.”
°°°
Setelah menghadap Raja, Adrasta di antar ke ruangan khusus para prajurit berada. Ia diberikan seragam untuk prajurit pemula dan akan segera mengikuti pelatihan standar kerajaan Bergelmir.
“Ini pedang dan perisai milikmu, seriuslah dalam berlatih! Mungkin dalam waktu dekat kita akan dihadapkan dengan perang besar.”
“Hah?! Perang?! Jaman apa, sih ini, Ya Tuhan ...? Serem banget.” Dua puluh lima pasang mata menatap Adrasta bingung setelah pria itu berteriak tidak jelas.
“Shut! Cepatlah berlatih! Sebentar lagi panglima datang.” Prajurit dengan tombaknya itu pun berlalu meninggalkan halaman belakang istana dan anggota prajurit baru yang terlihat kebingungan itu.
Adrasta meraih pedangnya dengan kedua tangan, ia terlihat bingung, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya memegang pedang berat seperti ini secara benar? Jujur saja, ia tidak pernah memegang pedang berat seperti ini, jangankan memegang, melihatnya saja ia tidak pernah.
Ia melihat sekitar, terlihat pasukan prajurit itu memegang pedang dengan satu tangan dan terlihat sangat ringan. Apakah ada yang salah dengan pedang miliknya?
Ngiett!
Semua orang menatap pintu besi yang terbuka dan menampakkan seorang pria berparas tinggi yang membawa pedangnya. Semuanya terlihat membungkukkan tubuhnya hormat, kecuali Adrasta yang masih dalam posisinya, ia kembali merasa kebingungan. Siapa dia? Mengapa ia merasa tidak asing dengan wajah itu?
Dug!
Seseorang di samping kanannya terpaksa memukul punggung pria itu dan membuatnya mengaduh kesakitan, Adrasta belum juga membungkukkan dirinya.
Suara pukulan kembali terdengar, kini berasal dari orang di samping kiri Adrasta yang memaksa pria itu untuk membungkukkan tubuhnya.
Sang panglima kerajaan segera menghampiri keributan yang terjadi. “Siapa namamu?” Pria yang ditanyai mendongak, lalu menyebutkan namanya.
Panglima Styx mematung seketika setelah melihat wajah dari pemuda di depannya itu. Mengapa dirinya merasa bahwa wajah yang dimiliki Adrasta sangat mirip dengannya? Siapa dia sebenarnya? “Kamu ....” Kedua pria itu masih berada pada pikiran masing-masing, saling melempar tatapan yang sulit diartikan.
“Kamu ikut saya, yang lainnya silahkan lanjutkan berlatihnya! Nanti saya akan kembali ke sini lagi.” Tanpa menunggu jawaban dari pasukannya, Panglima Styx segera berjalan menuju pintu keluar dan diikuti oleh Adrasta.
°°°
Kedua pria dengan wajah yang bisa dikatakan mirip itu berjalan di tepi sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Kerajaan Bergelmir. Mereka pun duduk di sebuah balok kayu yang sengaja diletakkan di sana.
“Kamu berasal dari mana?” tanya sang Panglima kerajaan memulai topik pembicaraan.
“Saya juga tidak tahu saya ini dari mana, bahkan orang tua saja saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya dibesarkan di panti asuhan, lalu tinggal di sebuah kontrakan kecil di dalam g**g, dan sekarang saya tidak tahu saya di mana.” Pria itu kembali menatap sekeliling. Masih menjadi pertanyaan besar dalam benaknya, tempat dan pada zaman apa ini?
“Apa itu panti asuhan?” tanya pria di sampingnya dengan tatapan bingung. Mengapa orang baru ini terlihat begitu aneh? Baik dari segi wajah, cara berpakaian, hingga cara ia berbicara, semuanya terlihat berbeda dengan orang-orang yang hidup di zaman ini, pikir Styx.
Adrasta segera menjelaskan apa itu panti asuhan, ia mengatakan bahwa tempat itu adalah sebuah wadah yang menampung dengan suka rela anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak pada umumnya.
“Memangnya ada orang yang baik seperti itu? Di zaman seperti ini, ingin menghidupi dirinya sendiri saja sulit, kita harus berburu di hutan atau menanam pepohonan di kebun yang disediakan Raja, itu pun hanya lahan kecil, lalu untuk apa memikirkan orang lain? Tidak ada waktu untuk itu.” Setelah mendengar penjelasan sang panglima, Adrasta kembali mengernyitkan dahinya. Berburu? Lahan milik kerajaan? Memangnya tidak ada pihak yang memegang bidang peternakan atau pertanian di sini?
“Tunggu, sebenarnya saya ini berada di zaman apa?” Styx tersenyum miring, ternyata dugaannya benar, dan apa yang dikatakan peramal kerajaan itu terjadi sekarang.
Pria itu kembali mengingat-ingat kejadian beberapa bulan lalu, ketika ia akan memimpin jalannya perang perebutan wilayah. Ia datang kepada seorang peramal terkenal kerajaan. Sebagai seorang panglima perang, tentu dirinya khawatir akan menemui ajalnya di medan perang.
“Kamu akan mati di tangan serigala berdarah vampire, berhati-hatilah pada zaman di mana permaisuri Himalia mengandung,” ucap sang peramal kerajaan.
“Saya pasti mati di zaman itu?”
“Tidak ada jaminan, kau bisa merubah ramalan tentang kematianmu jika ada seorang bayi yang lahir di masa depan dengan tanda lahir yang sudah diramalkan dengan kematianmu.” Sang panglima berusaha mencerna kalimat wanita tua itu. Namun, otaknya tidak sampai.
“Kau adalah reinkarnasi yang ke enam. Maka, reinkarnasi yang terbentuk selanjutnya akan terlahir dengan tanda lahir yang menggambarkan penyebab kematianmu. Karena dia berada di urutan tengah, maka ada kemungkinan ia hadir di masa ini dan menyelamatkan masa depannya sendiri. Tunggu saja masa itu.”
Styx kembali fokus pada Adrasta yang ia percaya adalah reinkarnasinya. “Kau berada di zaman ke tujuh Kerajaan Bergelmir yang berada di bawah kekuasaan Raja Triton.” Pria yang mendengarnya hanya garuk-garuk kepala, apakah hitungan tanggal, bulan, dan tahun masehi belum ditemukan di sini?
“Ini sejarah negara mana? Jepang?” Adrasta berpikir ia berada di kebudayaan Jepang di masa lampau karena semua orang terlihat mengenakan pakaian yang hampir sama dengan kebudayaan Jepang yang ia tahu.
“Apa itu negara? Dan apa itu Jepang?”
Pria itu menepuk dahinya sendiri dengan kuat. “Ya Tuhan!”
“Maksudnya itu ... kita ini bangsa apa?”
“Tentu saja bangsa manusia.” Adrasta hanya meringis dengan wajah kikuk. Kalau mengenai dirinya adalah bangsa manusia ia sudah tahu. Namun, bukan itu yang ia maksudkan. “Kita ini bangsa manusia keturunan Bergelmir yang hidup berdampingan dengan bangsa iblis, serigala, dan juga vampire.
“Hah?!” Pria itu menatap Styx tidak percaya. Detik selanjutnya raut wajah Adrasta berubah panik, lalu ia membungkukkan tubuhnya dan menatap daun kering yang terbang hingga jatuh di atas kakinya. Pikirannya kacau, ia terlihat sangat ketakutan, bagaimana jika ia dimakan oleh serigala, iblis atau vampire? Apa ia akan berubah menjadi bangsa-bangsa pemangsa itu seperti yang diceritakan di film fantasy?
“Apakah saya akan mati di tangan bangsa-bangsa pemangsa itu?”
“Tenang saja, mereka hanya akan menyerang di malam hari. Jadi, jangan sekali-kali kamu keluar rumah di malam hari jika belum memiliki ilmu bela diri yang mumpuni. Kami pun para prajurit kerajaan akan selalu berpatroli di malam hari untuk meminimalisir korban dari gerakan pemusnahan keturunan Bergelmir ini.”
“Kenapa mereka mengincar keturunan Bergelmir?”
“Karena kami rakyat Bergelmir percaya bahwa di luar sana sudah tidak ada lagi bangsa manusia yang murni selain kami.” Sedikit demi sedikit Adrasta mulai paham dengan zaman yang ia tinggali sekarang.
Pria itu mengernyitkan dahinya. “Apa arti dari kata murni yang Anda maksudkan?”
“Di luar sana, darah para manusia sudah tercampur dengan darah iblis, serigala, dan juga vampire sehingga menjadikan mereka bagian dari bangsa-bangsa pemangsa itu.”
Kini Adrasta memikirkan seluas apa daerah kekuasaan Kerajaan Bergelmir itu? Jika seperti itu kenyataannya, berarti sama saja dengan mereka bertarung melawan seluruh dunia?
“Bukan, saya selalu percaya bahwa di luar sana masih ada kehidupan manusia murni, walaupun bukan dari keturunan Bergelmir.” Pria itu terperanjat kaget. Apakah sang panglima kerajaan ini bisa membaca pikiran orang lain?
“An-anda bisa membaca pikiran orang lain?”
Terdengar tawaan kecil dari dalam bibir tipis pria gagah itu. “Aku hanya menebak raut wajahmu, reinkarnasiku. Saya hanya pandai bertarung, bukan ilmu tanpa kepastian seperti itu.”
“Reinkarnasi?” Styx hanya berdeham menjawabi pertanyaan Adrasta.
Hening, hanya terdengar kicauan burung-burung yang terbang di hutan seberang sungai sana.
Styx teringat sesuatu. “Apa tujuanmu kemari?” tanyanya tiba-tiba.
“Tujuan? Saya ini tersesat, panglima. Yang saya ingat, saya ini tengah tidur di atas ranjang kostan saya, lalu tiba-tiba saya terbangun karena mendengar suara gesekan pedang, seperti orang bertarung.”
“Bertarung? Tidak ada laporan mengenai datangnya musuh malam ini. Apa maksud kamu?”