9. Serba Salah

975 Kata
Karena jabatanmu, membuatku merasa kau seperti langit. Yang begitu tinggi, hingga tak mungkin kugapai. Namun salahnya aku, kadang langit akan turun menghampiri bumi dalam bentuknya yang lain. Contohnya hujan. "Mbak Renata bisa dikonfirmasi ada hubungan apa dengan Pak Leon?" "Iya, Mbak. Beberapa gambar yang terekam rasanya nggak mungkin bisa untuk mengelak lagi." "Mbak, tolong jelaskan pada kami." Bukan hanya satu dua wartawan yang mendatangi apartementnya, melainkan puluhan wartawan sejak pagi sudah menunggu Renata keluar. Sampai wanita itu kesulitan sendiri ketika ingin pergi ke tempat pemotretan yang akan dia lakukan. Supir pribadi yang biasanya melindungi Renata seperti tidak mampu lagi. Tubuhnya terdorong ke sana ke sini saat mengawal Renata masuk ke dalam mobil. Memang butuh pengorbanan untuk melindunginya, tapi sosok supir itu tidak pernah mengeluh kepada Renata. Karena Renata tahu bagaimana caranya memperkerjakan orang lain dengan baik. Renata sama sekali tidak merasa supir dan asistennya orang lain. Ketika ia makan di sebuah restauran mahal, maka Renata tidak segan-segan mengajak mereka juga. Tidak hanya itu, Renata juga selalu ingat hari bahagia kedua orang terdekatnya itu. Hingga sampai akhirnya, asisten dan supirnya itupun merasa jika Renata bukanlah orang lain lagi. "Makin menggila wartawan kalau lo nggak kasih konfirmasi." "Konfirmasi apalagi sih?" jerit Renata lelah. "Bukannya di acara ulang tahun stasiun tv waktu itu gue udah jawab. Kalau gue sama Pak Leon nggak ada hubungan apa-apa." "Yah, tapi Re. Lo kayak nggak tau wartawan aja. Lo bilang nggak ada apa-apa, tapi gambar yang mereka dapat menunjukkan lo ada sesuatu sama dia." Renata diam. Mencerna kata-kata Dina. Setelahnya dia mencolek Dina. Tersenyum penuh arti pada asistennya itu. "Takut gue kalau lo udah senyum begitu." "Kenapa? Emang gue nggak boleh senyum." "Terus kenapa lo colak colek gue?" "Nggak papa. Lagi senang aja gue. Ternyata umpan yang gue kasih, dimakan bulat-bulat sama wartawan. Jadi kita tinggal tunggu aja tanggapan dia." Dina yang duduk di bagian depan kini mencolek sang supir yang sedang mengemudikan mobil. Supir itu memberikan kode tidak mengerti kepada Dina. "Dia siapa, Re?" "Sang Ibu negara kita." *** Sudah dibuat pusing dengan keadaan ekonomi yang belum stabil, kini Leon semakin dibuat pusing dengan wartawan yang ikut meneror dirinya akan aksinya tempo hari. Menikmati pertandingan bola dengan Renata Iris. Memang dampaknya tidak langsung terasa. Beberapa hari kemudianlah dia mulai pusing akan aksi wartawan yang terkadang terlalu nekad. Ternyata menjadi sosok yang dikenal itu tidaklah menyenangkan. Lalu bagaimana kondisi Renata saat ini? Batin Leon bertanya-tanya akan keadaan Renata sampai akhirnya pintu ruang kerjanya di ketuk seseorang. Salah satu ajudannya masuk. Memberitahu jika ada mertua Leon ingin bertemu saat ini. Seketika Leon mulai panik. Sudah beberapa bulan ini hidup Leon mulai tenang. Apalagi setelah semua keinginan mertuanya bisa Leon penuhi. Namun sekarang ini apalagi yang diinginkan oleh pria tua bangka itu? "Suruh dia masuk." Ajudannya menunduk mengerti. Dia langsung keluar, menyambut masuk Ayah mertua Leon yang dulunya pernah menjadi salah satu menteri di kabinet beberapa periode sebelumnya. "Malam, Yah," sapa Leon sambil menyalami tangan Ayah mertuanya. Fariz Mahawira, atau biasa dipanggil Pak Fariz merupakan salah satu politikus terkenal. Namanya selalu menjadi trending topik utama. Namun karena usianya sudah cukup tua, dia memilih untuk berdiri di belakang Leon. Sang menantu yang kini menjabat sebagai orang nomor 1 di negara ini. Banyak hal yang sudah Fariz lakukan demi mendukung Leon untuk bisa sampai di puncak. Salah satunya, Fariz berhasil mengumpulkan masa pendukung. Membuat suatu koalisi baru demi mendukung kemenangan Leon. Dan seperti yang sekarang terjadi, Leon sudah berhasil sampai di atas membuat pria tampan itu merasa semakin mempunyai banyak hutang kepada Fariz. Tapi Leon yakini satu demi satu hutangnya sudah mulai dia bayar sesuai keinginan Fariz. "Apa kabar dirimu? Kenapa jarang berkunjung ke rumah dengan Rini?" Leon nampak kikuk. Sehebat apapun dia menjadi presiden, Leon juga manusia biasa. Yang terkadang sering kikuk jika berdekatan dengan sosok mertua. "Baik, Yah. Hanya beberapa waktu ini Leon sibuk." "Jangan terlalu sibuk dengan urusan negara sampai melupakan tugasmu menjadi seorang suami dari Rini, putriku," sindirnya pedas. "Lagi pula hal negara apalagi yang membuatmu pusing? Tentang harga-harga barang yang mahal? Atau nilai tukar uang yang masih tidak stabil?" Leon tidak mampu menjawabnnya. Dia hanya menunduk, memilah-milah kata yang tepat. Tapi sayangnya sampai Ayah mertuanya kembali bersuara, Leon cuma bisa diam. "Jalan pintasnya, impor barang-barang pokok dari luar negeri. Buat rakyat tenang. Perlahan-lahan nilai tukar uang pasti akan turun." Sudut bibir Leon tertarik tinggi. Dia ingin menertawakan cara pemikiran singkat yang Ayah mertuanya ajarkan. Memang jika Leon menjalankan hal itu, barang-barang akan murah. Rakyat menjadi tidak memusingkan dengan nilai tukar uang. Tapi dalam jangka panjangnya, Leon kembali akan dipusingkan dengan hal lain. Yakni, hutang negara yang semakin besar. "Pikirkanlah yang sekarang terjadi. Jangan memikirkan yang akan datang. Karena ke depannya bukan dirimu lagi yang bertanggung jawab," tepukan kencang di bahu Leon menandakan jika ada sesuatu yang Fariz inginkan dari dirinya kali ini. "Hentikan, Leon. Hentikan caramu bermain-main. Jika kamu membenciku, jangan siksa putriku." Leon memejamkan kedua matanya sejenak. Kepalanya terasa semakin pusing setelah mendengar kata-kata Fariz. "Pikirkan baik-baik apa yang kukatakan kini, mungkin kamu bisa bermain-main dengan putriku. Tapi sampai kapanpun, kamu selalu digenggamanku," ucap Fariz penuh penekanan. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah catatan yang selanjutnya harus Leon penuhi. "Ayah tunggu kabar baiknya." Seolah apa yang dimintanya mudah, Fariz tertawa-tawa sambil melangkah pergi. Sejak awal menjadikan Leon menantunya, menjunjungnya sampai setinggi ini, memang sudah Fariz persiapkan dengan begitu matang. Sehingga tidak akan mungkin ada kesalahan di dalamnya. Termasuk, Leon berkhianat padanya. Rasanya tidak akan mungkin terjadi. "Aarrrrrgghhhh... " geram Leon kencang. Mendengar teriakan cukup kencang, asisten Leon masuk. Melihat kondisi Leon sudah begitu kacau. "Pak Leon, ada apa?" "Cepat hubungi investor luar negeri. Saya akan terima suntikan dana dari mereka untuk menutupi keuangan negara kita." "Ba... Baik, Pak." Saat Leon ditinggal sendiri, dia perlahan-lahan melirik kembali catatan yang Fariz berikan. Bibirnya meringis membaca sebuah dua kata di dalam catatan tersebut. Pulau intan. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar dalam catatan tersebut, Leon sudah paham maksud dari Ayah mertuanya. Leon harus menjual pulau tersebut demi memenuhi keinginan Ayah mertuanya. Walau dia tidak suka dengan cara Ayah mertuanya, tapi Leon sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Karena banyak sekali kekurangan Leon yang dipegang oleh Ayah mertuanya itu. ______ continue.  Nah loh... masih ada yang baca sampai di bab ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN