6. Jangan Bermain-main denganku

1106 Kata
Tolong perjelas hatimu untuk siapa. Jangan sampai aku dibuat buta akan rasa yang ternyata salah. "No. Re, lo gila mau pakai baju kayak gitu ke acara?" teriak Dina yang sudah beberapa tahun ini mendampingi Renata. Mulai dari Renata merintis karir sampai sesukses sekarang. Dari yang awalnya Dina menawarkan Renata dari satu majalah ke majalah lain. Dari satu perusahaan ke perusahaan mode lain demi mendapatkan job menjadi model busana. Sampai akhirnya kini ponsel Dina tidak pernah sepi dari panggilan masuk untuk job Renata. "Kenapa? Ada yang salah sama gaun gue ini?" "Re, please lah. Haters lo udah banyak karena gosip lo sama si Presiden ganteng itu. Sekarang jangan nambah lagi."        Renata melirik Dina dari pantulan cermin, senyum tipis di bibirnya terlukis indah. "Lo percaya nggak, Din. Apapun yang gue pakai ke acara itu pasti bakalan jadi komentar orang banyak. Yang nggak suka gue pun, pasti akan berkoar-koar paling besar di jejaring sosial. Meski gue menutup tubuh gue rapat-rapat. Jadi buat apa gue pencitraan menjadi orang lain. Karena dimata orang yang benci gue pun, mereka nggak butuh semua pencitraan gue." Dina mendesis kesal. Bukan begitu maksudnya. Dia hanya tidak ingin Renata diserang oleh para haters tersebut. Secara acara ulang tahun salah satu stasiun televisi ini juga memperbolehkan orang biasa untuk turut bergabung di sana. Dina hanya tidak ingin Renata terluka fisik. Apalagi kini para netizen itu sering kali bersikap anarkis. Mereka yang mencintai presiden tampan itu tidak akan ragu-ragu untuk menyerang Renata. "Oke. Oke. Gue ganti. Setidaknya yang sedikit lebih tertutup dari ini," ucap Renata mencoba mengerti kekhawatiran Dina. Dina mengangguk setuju. Dia membantu Renata memilih pakaian lain yang sekiranya cocok untuk datang ke acara mewah itu. *** Gaun putih rancangan salah satu perancang busana terkenal menjadi pilihan Renata. Gaun tersebut sangat indah dipakainya. Memang tidak terlalu terbuka, tapi berhasil menampilkan kesan seksi ketika Renata berjalan. Ketika mereka sampai di sana, puluhan wartawan sudah menyambut. Mereka berjalan di atas karpet merah seperti acara-acara besar di luar negeri. Kilatan kamera terus membidik pose Renata. Banyak juga yang memborong pertanyaan ke Renata. Wanita itu hanya mencoba tersenyum. Sesekali tangannya menyalipkan helaian rambut ke belakang telinganya. Memamerkan anting panjang yang menjuntai indah di atas bahunya. Saat pembawa acara tersebut menghadang langkahnya, mau tidak mau Renata berhenti. Berpose anggun di depan kamera yang terus merekamnya. "Renata Iris. Luar biasa cantiknya malam ini." "Terima kasih." "Ngomong-ngomong pakai gaun rancangan siapa malam ini? Indah sekali. Apa memang sengaja dipersiapkan untuk acara ini? Atau seperti apa?" Sebelum menjawabnya, Renata tersenyum. Dia menggeleng ke arah pembawa acara tersebut. "Ini gaun lama. Hanya saja jarang saya pakai." "Jadi bukan khusus untuk malam ini?" "Bukan. Saya bukan tipe orang seperti itu. Yang harus memakai pakaian baru untuk pergi ke suatu acara. Karena menurut saya, apapun yang kamu pakai akan terlihat indah ketika kamu nyaman menggunakannya. Jangan karena mengikuti fashion, lalu kamu nggak nyaman, yang ada tampilanmu terkesan memaksa." "Wah, benar banget tuh. Emang beda ya tanggapan model dunia." Renata kini tertawa lebar mendengar tanggapan dari pembawa acara itu. "Cantik itu relatif. Tapi inner beauty yang membuatnya berbeda." "Setuju," sahutnya cepat. "Tapi... Tapi, kok datangnya sendirian aja. Gosip-gosip yang lagi heboh itu benar nggak sih?" "Saya datang bertiga kok. Sama asisten saya dan supir saya. Jadi saya nggak merasa sendirian," tanggapan dari Renata itu menghentikan pertanyaan lanjutan. Karena di belakang Renata, artis-artis lain sudah mengantri untuk di wawancarai juga. "Terima kasih atas kedatangannya, Renata Iris." Renata mengangguk sopan. Kemudian dia berjalan kembali menuju ke dalam tempat di mana acara akan di mulai. Dina yang sudah menunggunya, terus mengikuti langkah Renata. Dia sudah diberitahu, sebelah mana Renata akan duduk. Tentu saja undangan spesial yang Renata dapatkan membuat posisi duduknya dibarisan orang-orang penting. Tepat ketika Renata mendudukan dirinya, matanya melotot lebar melihat ada Billy John yang berada di barisan kedua dari depan. Dia mengipas-kipaskan tangannya di depan wajah. Jujur saja dia belum siap jika harus melawan Billy John saat ini. Apalagi kondisi acara yang ramai membuat Renata malas untuk mencari perhatian. "Din, nggak ada kursi kosong di belakang. Di barisan lo sana?" Dina terlihat khawatir. "Nggak ada. Nanti gue tanya dulu ke panitianya ya? Kenapa emangnya? Lo nggak nyaman?" "Lo lihat dong itu di depan ada siapa. Ada... " Belum selesai Renata menjelaskan, rombongan orang penting memasuki tempat itu. Bibirnya terbuka lebar saat tahu siapakah orang penting itu. Leandro Baldwin. Presiden itu datang bersama istrinya dan juga rombongannya. Dia dipandu oleh pemilik dari stasiun televisi ini yang berjalan di sampingnya. "Lo kenapa nggak bilang kalau tamunya ada presiden juga?" "Mereka nggak bilang apapun ke gue. Terus gimana?" tanya Dina panik. Renata menutup kedua matanya sejenak. Ternyata inilah maksud kenapa dirinya juga diundang. Seakan acara ini sengaja mencari kemeriahan lain, dengan cara gosip hangat yang kini sedang meledak. "Dasar manusia, selalu mencari kesempatan yang ada." "Terus gimana? Jadi mau pindah ke kursi belakang?" Renata membalas tatapan khawatir Dina. "Nggak perlu. Mereka yang sengaja membuat kondisi ini, jadi gue coba untuk menyelesaikannya secantik mungkin." Dina mengangguk paham. Cukup lama dia hidup di sisi Renata Iris, dia tahu betul seperti apa karakter wanita ini. Renata seperti kucing liar. Meski bisa didekati ketika diberi makan, kucing liar juga punya pertahanan yang kuat. Mereka akan mencakar jika posisinya terdesak. Apalagi jika sampai ekornya diinjak. "Good luck." Dengan anggun Renata mengangguk. Menatap ke arah panggung dengan santai. Beberapa tamu penting lainnya yang duduk sebaris dengan dirinya nampak tersenyum penuh kepalsuan. Renata tahu apa maksud dari senyuman itu. Mungkin mereka pikir Renata diundang karena ada dua pria penting di sini yang ikut menikmati acara tersebut. Baru saja 4 MC membuka acaranya, mulut gosip mereka langsung menyerang Renata yang sedang duduk dengan tenang. Seperti sudah dikonsep dari awal, Renata di datangi oleh salah satu MC pria. Hingga ia menjadi perhatian semua orang dalam ballroom tersebut. "Renata Iris, luar biasa. Cantik banget. Kayaknya memang selalu tampil cantik ya." Renata mengangguk, "terima kasih." "Tapi kok, duduknya jauh-jauhan gitu. Gimana sih panitia. Itu di depan kan ada si... " kode si MC itu dengan lirikannya. Bukan hanya Billy John yang terpanah melirik Renata tampil cantik malam ini, tapi juga Leon tak berkedip menatapnya. "Di depan emangnya siapa sih?" tanya Renata balik. Suara riuh mulai bergema. Entah haters ataupun pendukung Renata semuanya mulai bersuara. "Tinggal pilih itu. Yang duduk di depan. Kan ada dua gitu," goda si MC. "Duh, mulai julid kan gue. Tapi gemes sih sama gosip itu. Secara yang ngejar Renata Iris orang-orang terkenal semua. Coba tuh yang ngejar si pesek di depan, cuma tukang bubur. Karena belum bayar abis makan bubur," sambungnya berkomentar. Memberikan perbandingan Renata dengan MC wanita malam itu. "Siapapun yang mengejar disyukuri aja, karena takdir seorang wanita memang untuk dikejar. Bukan maksud kurang ajar, tapi wanita pun berhak untuk menolak jika nggak sesuai pilihan." Renata menatap Billy John dan Leon yang duduk di baris paling depan. Ketika tatapannya dia alihkan ke arah Bu Rini, ada senyum kemenangan di sana. Statement yang Renata berikan cukup mewakili, bila semua gosip tersebut muncul karena para pria itulah yang mencoba mengejar-ngejar dia meski telah ia tolak. "Ampuuunn... " sahut MC tersebut. "Cuma Renata yang bisa nolak karisma Presiden ganteng kita." _______ continue Udah taplovenya belum?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN