8 - Fine

1150 Kata
(adj.) sesalah-salahnya kita, ucapkan ini untuk menutup debat dengan kesan sebagai pemenang. -(at)commaditya *** Jam pulang kantor tiba. Melody yang sedari tadi kesal, pekerjaannya terbengkalai karena satu orang, Damar. Mantan yang tengah berjuang menjadi 'calon masa depan', katanya. Sejak kedatangannya yang secara tiba-tiba siang tadi, membuat Melody menghela nafas berkali-kali. Banyak sedikit ia tahu bagaimana sikap seorang Damar. Salah satunya, akan terus meneror jika keinginannya tidak terpenuhi. Contohnya seperti pulang kerja bareng. Niatnya Melody ingin pulang sendiri seperti kebiasannya, nyatanya harus pupus saat Damar mengajaknya pulang bersama. Atau lebih tepatnya, memaksa pulang bersama. Sudah banyak cara Melody lakukan agar Damar segera pergi, tapi Damar tetaplah Damar. Bahkan dengan nggak tahu dirinya, ia mengaku sebagai kekasih Melody, tanpa sepengetahuan Melody. Damar dengan segala titahnya. Mutlak. "Dy?" Damar menghampiri Melody yang tengah beberes setelah ia menutup telepon dari bawahannya. Melody tidak menyahut. Entah dia sengaja pura-pura sibuk sehingga tidak mendengar atau tidak. "Ody?" Damar memegang lengan kanan Melody, membuatnya menoleh dan menghentikan kegiatannya sesaat. "Udah?" pertanyaan Damar langsung dipahami oleh Melody. Anggukan kepala Melody sebagai jawaban. "Yuk," Damar menarik dan menggenggam tangan kanan Melody tanpa seizin pemiliknya. Karena terlalu lelah berhadapan dengan Damar, ia biarkan saja. Mereka berdua berjalan keluar dengan bergandengan tangan. Atau lebih tepatnya, Damar yang menggandeng Melody. Karena tidak terlalu memperhatikan, Damar mengajak Melody menuju lift khusus petinggi perusahaannya. "Loh? Kok kesini?" Melody baru tersadar saat berdiri di depan lift khusus petinggi perusahaan. Kedua matanya mengarah ke Damar dengan satu alis terangkat. "Ya nggak apa-apa dong," Damar menjawab dengan santai. Sesekali ibu jarinya mengusap punggung tangan Melody yang ia genggam. "Aku pindah kesana aja," Melody menunjuk lift disebelahnya yang dikhususkan untuk karyawan. Tangan kirinya berusaha melepas genggaman Damar. Sialnya, Damar mengeratkan genggamannya. "Emang kenapa sih?" Damar bertanya pada Melody bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. "Damar," suara bass seseorang dari dalam kotak besi tersebut mengalihkan atensi Damar. "Loh, bang?" Damar menjawab sapaan orang tersebut. "Sore pak," Melody menyapa orang yang sama dengan yang Damar sapa. Kepalanya sedikit menunduk sopan dengan senyum simpul. Sebaliknya, Damar langsung menarik Melody untuk masuk ke dalam lift tanpa mempedulikan Melody yang canggung. "Ngapain lo ke kantor gue?" tanya orang tersebut setelah penglihatannya mendapati genggaman tangan Damar dan Melody. "Jemput pacar gue," Damar tersenyum jumawa sambil menggoyangkan tangannya yang saling menggenggam. "Kamu karyawan saya?" tanya orang yang berdiri disamping Damar. "Iya pak," Melody menjawab dengan santun. "Aelah bang, ya jelas dong dia karyawan disini. Gue aja jemput dia disini," Damar mencibir. "Lagian lo gimana sebagai CEO Nar.B Corp, nggak tahu kalo cewek gue kerja disini," Damar menyindir pemilik sekaligus CEO tempat Melody bekerja. Disisi lain, Melody menyikut perut Damar sampai membuat pemiliknya meringis. "Aww, hon. Apa-" "Maaf Pak Bara," Melody menundukkan kepala dan tersenyum canggung pada CEO perusahaan tempatnya bekerja. Ya, dia adalah Narendra Bara Prayudha. Owner sekaligus CEO Nar.B Corp. Hot daddy karena dari kabar yang beredar, dia adalah duda anak satu. Bara tersenyum mengejek pada Damar yang sibuk mengusap perutnya akibat sikutan Melody. Genggamannya ia lepaskan begitu saja karena merasa kesal dengan Melody. Bibirnya sedikit mengerucut bak anak kecil yang tengah merajuk. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena kembali tangannya berulah. Grep. Melody melotot saat merasakan tangan seseorang merengkuh pinggangnya. Kepalanya menoleh ke samping, melihat Damar. Damar menoleh ke arahnya dan tersenyum. Bisa-bisaan nih playboy kampret, batin Melody kesal. Kepalanya kembali menghadap ke depan dan mengacuhkan orang yang tengah memeluk pinggangnya. Sesekali, tangan Damar mengusap pinggang Melody, membuat Melody menahan kesal karena saat ini tengah ada big boss dan ia tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk. Cup. Melody merasakan kecupan basah mendarat di pelipis sebelah kanan. Dirinya kembali menatap Damar yang menjulang disampingnya. Damar ikut menatap wajah Melody yang kini tengah menatapnya. Satu senyuman Damar muncul dibibirnya. Cup. Sebuah benda kenyal mendarat sempurna dibibir Melody. Melody kembali menoleh dengan mata melotot. Dirinya kesal bukan main akan sikap Damar yang semakin seenaknya. Kedua tangannya mengepal menahan geraman. Cup. Cup. Cup. Kecupan berturut-turut Damar lakukan pada bibir Melody. Melody semakin memelototkan mata dan dibalas kekehan oleh Damar. Tangannya yang bertengger di pinggang Melody sejak tadi memberi usapan dengan agar emosinya mereda. "Ekhem," Deheman Bara membuat Melody semakin malu dan canggung, terlebih dengan aksi Damar selama didalam lift. "Uhuk, uhuk," "Butuh minum bang?" Damar mengejek Bara yang secara terang-terangan mengganggu kebersamaannya dengan Melody. "Nggak perlu," Bara menjawab sinis. Ketiganya masih dengan posisi yang sama sampai tiba di parkiran basement. Setelah pintu lift terbuka, Melody melepas rengkuhan Damar. "Mari pak," pamit Melody dengan kepala menunduk pada Bara, mengabaikan Damar yang melongo. Segera ia meninggalkan keduanya tanpa menunggu sahutan Bara. "Baek-baek lo, banyak rival diluar sana," Bara menepuk bahu Damar sebelum berjalan menuju mobilnya. Tak lama, Damar pun keluar dari kotak besi tersebut untuk menyusul Melody yang ia yakini tengah menunggunya di mobil. Dari kejauhan terlihat Melody yang berdiri tepat disamping mobil Damar dengan tangan bersedekap. Mengetahui derap langkah seseorang yang mendekat ke arahnya, pandangannya langsung tertuju pada orang tersebut dengan sorot mata tajam. Tidak ada lagi raut wajah Melody yang menggemaskan. "Maksud kamu apa?" Melody langsung menodong Damar yang berjarak selangkah di depannya. "Maksudnya?" Damar tidak tahu apa maksud Melody dan bukannya menjawab, ia justru balik bertanya. Melody yang mendengar pertanyaan dari Damar, memutar matanya jengah. "Maksud dari sikap kamu seharian ini," Melody semakin menuntut jawaban pada Damar. Ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti semua aksi Damar seharian ini. "Mending kamu masuk dulu," Damar menarik pelan badan Melody yang membelakangi pintu penumpang agar lebih mudah membukanya. Ia menyuruhnya agar masuk dan memastikan Melody duduk dengan nyaman. Setelahnya, ia menutup pintu tersebut dan berlari menuju kursi kemudi. Tak lama, mobil Damar meninggalkan area basement Nar.B Corp. Selama perjalanan, hanya diisi keheningan. Sesekali Damar mencuri pandang kursi disampingnya. Melody tengah memijat pelipisnya dengan pandangan menatap keluar jendela. Merasa ia perlu bicara dengan perempuan disampingnya, Damar menghentikan mobilnya di depan sebuah toko yang tutup. Setelah mematikan mesin mobilnya, Damar mengubah posisi duduknya mengarah ke Melody. "Let's talk," Damar membuka obrolan diantara mereka. "Kenapa kamu melakukan semua ini?" Melody bicara tanpa menatap Damar. "Karena aku mau," Damar menatap Melody sendu. Namun tetap saja, Melody tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Tatap mata orang yang bicara denganmu," Damar berkata dengan nada dingin dan datar. Deg. Hati Melody mencelos. Seumur-umur ia mengenal Damar, tidak pernah sekali pun mendengar nada bicara Damar seperti itu. Dengan berat hati, ia mengalihkan pandangannya dari jalanan dan menatap Damar. Dia berubah, batin Melody. "Kamu ingat bukan, kalau kamu memberiku kesempatan untuk memperjuangkanmu lagi? Itulah yang aku lakukan," nada bicara Damar kembali melembut. Tangan kanannya memegang pipi kiri Melody dan membelainya. Melody seolah terhipnotis akan tatapan Damar. "Biarkan kali ini aku yang berjuang. Kamu cukup diam dan menunggu," Damar berbicara dengan tangan yang masih membelai pipi Melody. "Tapi tolong jangan seperti tadi. Aku risih," Melody memang seperti itu. Dirinya tidak suka menjadi bahan gosip para lambe di kantornya. "Fine. Kecuali jika terdesak," ucap Damar final. Mau tak mau, Melody menyetujuinya. "So, can I taste your lips now?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN