Belinda menutup wajahnya dengan tubuh bergetar hebat. Tidak ada satupun seorang putri di dunia ini yang rela dan siap ditinggalkan oleh cinta pertamanya, begitupun dengan Belinda. Sekujur tubuhnya lemas dan nyaris saja pingsan kala mendengar suara nyaring mesin EKG. Suara menyeramkan itu seperti lonceng kematian yang seolah-olah memberinya peringatan.
Disamping Belinda, ada Rebecca yang juga tengah menangis tersedu-sedu. Perempuan itu langsung menjerit histeris sembari mengguncang tubuh Exel tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya. Bagi Rebecca, Exel adalah dunianya. Exel juga merupakan pria pertama dan masih menjadi satu-satunya yang memberinya segenap cinta dan kasih sayang tanpa rekayasa.
Sementara Sandra hanya mampu menatap kosong pintu ruangan yang tertutup rapat. Wanita itu seperti baru saja dihadapkan dengan lembah kematian, dimana ia bisa melihat secara gamblang sosok Exel berdiri di dalamnya dan menggaungkan kata selamat tinggal padanya. Kondisi tubuhnya yang jauh kata sempurna membuat Sandra semakin terlihat buruk. Yang bisa ia lakukan hanyalah duduk di atas kursi roda dengan keadaan tak berdaya sambil menangis seperti orang bodoh.
"Apa Papa akan baik-baik saja, Kak?" Suara Rebecca tersendat-sendat. Hatinya begitu sakit kala menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tubuh Exel mendingin dengan mata terpejam erat.
Gelengan kepala Belinda menandakan ia tidak senang dengan pertanyaan Rebecca. Belinda meremas dadanya sendiri. "Tidak, Papa tidak mungkin meninggalkan aku. Tidak boleh." Gumamnya putus asa.
Melihat kondisi Belinda yang terlihat lebih hancur, Rebecca sontak memeluknya. Ada rasa iba dan sakit yang menyayat hati lantaran harus menyaksikan pernikahan Belinda diselimuti oleh duka.
Bukan hanya mereka saja yang menghadapi situasi ini. Setelah diminta keluar oleh tim dokter, keluarga besar Alexander pun berbondong-bondong menuju ruang operasi. Operasi Shara dan Robert yang dinyatakan gagal membuat keadaan semakin kacau balau.
Duka yang mereka lalui seolah membungkus rapat pernikahan yang baru saja berlangsung. Kepergian Shara dan Robert menjadi awal bagaimana hari pernikahan yang seharusnya dihiasi air mata bahagia kini harus berganti dengan air mata duka.
Entah apa maksud Tuhan memberikan cobaan sedahsyat ini pada Belinda dan Thomas. Tidak ada ciuman setelah pernikahan. Bahkan, Senyum dan riuhnya suara tepuk tangan pun seketika berganti jeritan histeris yang saling bersahutan.
Belinda menyeka air matanya. Dengan susah payah ia mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri meski kenyataannya sangat sulit. Melihat Sandra yang hanya diam dengan tatapan kosong membuatnya sadar bahwa ada yang lebih merasakan sakit dibandingkan dirinya.
Dengan tubuh bergetar, Belinda berdiri menghampiri Sandra yang duduk diam di atas kursi roda. Belinda berjongkok persis di depan kedua kaki Sandra. "Mah.."
Sandra tidak merespon. Sebagian jiwanya seakan melayang pergi, raganya pun lemah seakan tak memiliki kekuatan lagi. Sandra seolah tengah bersiap menantikan ketukan palu hakim yang memiliki kekuasaan tertinggi di atas langit.
Tidak mendapatkan respon apapun dari Sandra mmbuat tangisan Belinda terdengar semakin memilukan. "Mah, Papa pasti akan baik-baik saja."
Sandra menatap Belinda nanar seraya mengangguk cepat, berharap apa yang dikatakan Belinda adalah kenyataan. "Kau benar, Papa pasti akan baik-baik saja." Tangan Sandra gemetar sewaktu menangkup pipi Belinda. "Jangan menangis, sayang. Papa tidak mungkin pergi meninggalkan kita, hmm."
Kepala Belinda jatuh di pangkuan Sandra, menumpahkan segala kemelutnya di sana. Sementara, Rebecca memeluk Sandra dari belakang.
Di lorong lain, di waktu yang sama.
"Apa kau puas?" Barron mencengkram erat kemeja Devan. Emosinya kembali memuncak begitu Martin mengatakan bahwa operasi Shara dan Robert dinyatakan gagal. Dan yang lebih menyakitkan, Shara dan Robert dinyatakan meninggal diwaktu bersamaan.
"Kau pikir aku menginginkan hal ini?" Devan menyentak kuat lengan Barron hingga cengkraman pria itu terlepas. "Kau pikir hanya kau yang merasa kehilangan, huh?" Sentaknya dengan mata memerah karena air mata yang terus mengalir. "Mereka orangtuaku, sialan! Aku jauh lebih kehilangan dibandingkan dengan dirimu!" Jeritnya kuat-kuat.
Barron terkekeh sumbang seraya menantang tatapan Devan dengan kilatan amarah yang bgitu besar. "Kehilangan?" Tanyanya dengan intonasi mencemooh. "Kau lebih mengutamakan pernikahan konyol itu dibandingkan mengawasi keadaan mereka!" Bentaknya, keras.
"Apa kalian tidak bisa diam?" Cecilia menjerit kuat sembari menutup kedua telinganya. Hatinya yang sudah sakit bertambah sakit karena harus menyaksikan pertikaian Devan dan Barron.
Kepergian Shara dan Robert merupakan pukulan telak baginya. Berada dan menjadi bagian keluarga Alexander membuat Cecilia dapat merasakan kehangatan keluarga sesungguhnya. Shara dan Robert adalah dua insan yang pertama kali mengenalkan rasa itu padanya. Rasa dimana ia merasa dianggap, disayangi, dihargai dan diinginkan. Sampai kapanpun Cecilia tidak akan pernah melupakan pertemuan pertama mereka.
"Kau bisa melewati ini semua, Dude." Charlie mengusap lengan Thomas, prihatin. Terlebih, sahabatnya itu harus menyaksikan pertengkaran antara Devan dan Barron yang membuat keadaan semakin kacau.
"Kita akan membalas semuanya. Aku akan membantumu mencari dalang dibalik semua kekacauan ini." Edward berjanji dalam hatinya akan mengawal kasus ini hingga tuntas.
Thomas hanya diam. Otaknya seperti gumpalan benang kusut. Ini masih seperti mimpi baginya, lebih tepatnya mimpi buruk. Thomas masih belum percaya jikalau Robert dan Shara telah kembali ke sisi Tuhan dan benar-benar meninggalkannya di dunia yang penuh kebohongan.
Seketika ingatan membawanya kembali pada kenangan saat Thomas bertemu untuk yang pertama kalinya dengan Devan, Shara dan Robert. Saat itu, Thomas mengalami kecelakaan karena ingin menolong Belinda dan ketika membuka mata ia dikejutkan dengan kehadiran sosok Devan yang mengaku sebagai Daddy-nya. Tidak hanya sampai di sana, keesokan harinya ia kembali dikejutkan dengan kedatangan Shara dan Robert yang ternyata adalah Grandpa dan Grandma-nya. Bagi Thomas kecelakaan itu adalah awal mula dimana kebahagiaan menjemputnya karena pada akhirnya impian yang pernah membayangi isi kepalanya pun terwujud. Dan pada akhirnya Thomas benar-benar memiliki keluarga utuh. Devan yang begitu menyayanginya, Robert dan Shara yang selalu memenuhi keinginannya. Tidak ada satupun benda berharga di dunia ini yang mampu menukar kebahagiaannya kala itu.
Tidak ada yang pernah mengetahui takdir seseorang, begitupun waktu yang tak terasa berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Thomas mencoba cheese cake buatan Shara dan rasanya baru kemarin juga ia menemani Robert bermain golf. Seluruh kenangan manis itu seolah berlomba-lomba mendesak masuk, memutar memori yang pernah terbina. Dan kini Thomas seolah dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa Shara dan Robert telah benar-benar pergi meninggalkannya.
Entah harus seperti apa Thomas menyingkapi pernikahannya sendiri. Haruskah ia bahagia di atas duka yang sedang membelenggu jiwanya atau sebaliknya? Thomas benar-benar tak mengerti.
"Dan sekarang kau lihat bagaimana kondisi putramu!" Bentak Barron, lebih keras.
Pundak Barron naik turun, gejolak emosinya kian meroket. Sejak awal dirinya lah yang paling vokal menyuarakan penolakan karena menurutnya pernikahan Thomas dan Belinda terlalu dipaksakan. Sangat disayangkan karena semestinya Devan bisa memahami bahwa ada yang lebih penting dan menjadi prioritas pria itu selain menikahkan Thomas dan Belinda. Bukannya Barron tidak menyetujui pernikahan ini, hanya saja waktu dan situasi yang menurutnya tidak tepat. Kondisi yang belum stabil serta dalang yang masih berkeliaran bebas diluar sana menjadikan Barron tidak satu suara dengan Devan.
Kalimat menohok itu berhasil mengalihkan pandangan Devan pada Thomas yang sedang duduk dengan kepala menunduk dalam. Sesungguhnya ini sudah menjadi konsekuensi yang harus Devan terima. Sementara itu mengambil keputusan ditengah-tengah keadaan yang sangat kacau bukanlah hal yang mudah untuknya. Devan juga sudah berupaya menekan seluruh egonya sedalam mungkin, karena pada hakekatnya Devan yakin segala sesuatu yang telah terjadi merupakan garis takdir. Meskipun ia tau keputusan yang diambilnya akan meninggalkan jejak kenangan pahit dalam ingatannya dan mungkin juga dalam ingatan Thomas.
Tarikan nafas Devan terdengar berat. Dengan tubuh gontai, ia menghampiri Thomas, lalu mengambil duduk disebelahnya. "Daddy minta maaf jika semua ini membuatmu merasa terbebani." Ia tepuk pundak Thomas beberapa kali sebagai bentuk penyesalannya.
Andai saja bisa terlihat dengan mata telanjang mungkin saat ini semua orang bisa menyaksikan bagaimana rupa hatinya saat ini. Bukan lagi hancur tapi sudah tak berwujud lantaran ia harus kehilangan Shara dan Robert dengan cara tragis seperti ini. Devan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Rasa sakit itu menjalar semakin jauh, menimbulkan amarah dan dendam yang tak terelakkan.
Thomas menggeleng lemah, "Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan, Dad. Rasanya begitu asing." Ungkapnya, jujur.
Cecilia ikut duduk di samping Thomas. Dengan lembut, ia elus rambut putranya penuh kasih sayang. "Kau tau, Son? Diantara kita semua, Daddy adalah orang yang paling terpukul disini. Tapi, Daddy masih berbesar hati dan mau mengenyampingkan perasaannya demi membuat orang disekitarnya bahagia. Disaat semua orang fokus pada kesedihan, Daddy justru harus mengambil keputusan berat. Jadi, Mom minta jangan pernah menyalahkan Daddy dalam hal ini, hmm?"
Tangis Devan semakin keras karena perkataan Cecilia mewakili isi hatinya. Shara dan Robert adalah sosok orang tua paling sempurna. Berbagai macam kesalahan yang ia perbuat selalu mendapatkan maaf dari mereka. Bahkan, ia pernah menentang keinginan mereka dan menyiasati agar mereka menerima keputusannya dengan lapang d**a.
Seumur hidup, Shara tidak pernah lelah memberinya perhatian. Menegurnya kala ia menyimpang. Memarahinya ketika ia salah. Tak sekalipun Shara meninggalkannya dalam keadaan apapun.
Sama halnya dengan Robert. Daddy-nya tidak pernah bosan memberikan nasehat, membagi pengalaman hidup sebagai sesama pria. Membimbingnya dalam segala hal, hingga ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri dengan kokoh.
Tidak ada satu orang pun yang bisa mengganti posisi Shara dan Robert di hati Devan.
Cecilia menghampiri Devan kemudian memeluk tubuhnya yang bergetar hebat. Tangisan pilu Devan membuat jantungnya seakan tercabik-cabik. Tidak ada kata-kata yang bisa ia keluarkan, karena ia yakin sebanyak apapun kata penghiburan yang ia lontarkan tidak akan mampu membalut jiwa Devan yang sedang hancur.
Dalam pelukan Ruby, Gabrielle merasakan luka yang sama. Sebagai cucu perempuan satu-satunya, sudah tak terhitung besarnya Shara dan Robert memberinya cinta. Mereka adalah tempatnya bersembunyi saat Devan atau Cecilia sedang memarahinya. Dibalik ketiak Shara dan Robert, Gabrielle mendapatkan pembelaan dan pembenaran atas apapun kesalahan yang telah ia perbuat.
Tanpa menghiraukan kemurkaan Devan, Gabrielle akan berlari ke balik punggung Shara dan Robert, meminta perlindungan. Lalu, kemana ia harus mencari perlindungan itu, jika Shara dan Robert meninggalkannya tanpa pesan yang berarti. Ketika semua orang berbeda pendapat dengannya, hanya Shara dan Robert yang satu pendapat dengannya. Kasih sayang yang mereka berikan tak ternilai harganya, bahkan melebihi apapun di dunia ini. Dan, Gabrielle tidak akan pernah bisa mendapatkan rasa itu lagi dari orang lain.
Di ujung lorong, Belinda berdiri sembari meremas gaunnya. Exel sudah ditangani oleh dokter dan dinyatakan berhasil melewati masa kritisnya. Meski Exel belum mendapatkan kesadarannya, akan tetapi Belinda bersyukur karena Exel tidak pergi meninggalkannya.
Dari tempatnya berdiri Belinda bisa melihat wajah orang-orang yang sedang diselimuti duka, dan hal itu membuat hatinya ikut remuk. Tadi, Sandra memintanya untuk menghampiri Thomas sebab pria itu telah resmi menjadi suaminya. Sandra memintanya agar datang untuk memberikan dukungan dan penghiburan. Pertanyannya, apakah ia sanggup? Menyaksikan hancurnya keluarga besar itu berhasil memicu perasaan bersalahnya kian memuncak. Andai saja Exel tidak meminta Thomas untuk menikahinya, mungkin sejak tadi pria itu bisa lebih fokus pada kondisi Shara dan Robert.
Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Belinda tidak bisa mengembalikan waktu yang telah terlewati. Apakah ia harus menyesali segala yang telah terjadi? Entahlah, Belinda pun dibuat dilema oleh keadaan.
Pantaskah ia bersyukur atas pernikahannya disaat duka tengah menimpa Thomas? Kehilangan orang-orang tersayang adalah hal yang paling menyakitkan. Meskipun ia belum pernah merasakannya, tapi Belinda tau bagaimana prosesnya. Hal itu juga ia rasakan kala mendengar suara mesin EKG berbunyi nyaring. Bahkan rasa takut itu masih hinggap di dadanya.
Dengan pelan, tungkainya mulai mengayun. Reaksi Thomas dan keluarga besar Alexander padanya akan ia pasrahkan seluruhnya pada takdir. Belinda tidak akan mengelak jika seluruh kebencian disalurkan kepadanya.
Belinda menarik nafas kuat-kuat. Cengkraman pada gaunnya semakin mengerat begitu langkahnya semakin mendekat. Charlie adalah orang yang pertama menyadari kehadirannya. Pria itu tersenyum tipis, gestur tubuhnya seolah mengatakan kehadirannya diterima.
Thomas masih menunduk, meresapi setiap rasa sakit yang menghantam jiwanya tanpa belas kasih. Wajahnya terangkat ketika mendapati sepasang sepatu putih berada dibawah tatapannya yang berembun. Di depan matanya ia melihat Belinda berdiri sembari membekap mulutnya sendiri. Tanpa kata, kedua tangan Thomas terulur meraih pinggang wanita itu, merengkuhnya kuat. Menyembunyikan wajah putus asanya, meredam suara tangis yang mampu menggetarkan tiap jiwa.
Dalam diam, Belinda membiarkan Thomas menuangkan seluruh kemelut hatinya. Ia akan tetap berdiri di samping pria itu sebagai penghibur, pelipur dari segala lara yang mendera. Tidak ada yang dapat Belinda lakukan selain mendampingi Thomas melewati masa-masa sulitnya. Membiarkan jiwanya yang rapuh ikut menyelami rasa sakit yang sama.
"Aku yakin kau bisa melewati semua ini." Belinda mengusap rambut Thomas, membelainya lembut, menyalurkan ketenangan.
Dalam dekapan Belinda, Thomas mengangguk samar sembari mengeratkan pelukannya. Suara deru nafas yang terdengar mulai teratur menandakan ia sudah cukup puas meluapkan segala kecamuk yang menghimpit dadanya.
Edward memberikan botol berisi air mineral pada Belinda. "Berikan padanya."
Belinda mengangguk seraya tersenyum tipis, "Thanks." Ia lalu meletakkan botol tersebut di atas kursi. Susah payah Belinda menangkup pipi Thomas, berniat menjauhkan sejenak wajah pria itu dari perutnya. "Minum dulu, apa kau tidak haus?"
Gelengan Thomas membuat Belinda menghentikan gerakan tangannya. Siapa sangka pria itu justru menolaknya? Pada akhirnya Belinda hanya bisa pasrah dan membiarkan Thomas berbuat sesuka hatinya.
"Cih, apa kau yakin itu Thomas, Dude?" Charlie tak tahan untuk berkomentar. Kelakuan kekanak-kanakan Thomas benar-benar membuatnya geli.
Edward terkekeh tanpa suara seraya mengangkat kedua bahunya. "Seperti yang kau lihat. Aku rasa dia telah menemukan wanita yang tepat."
"Wow.." Charlie menatap takjub Edward. "Seorang casanova berbicara seperti itu? Tak bisa 'ku percaya." Cemooh nya seraya geleng-geleng kepala.
Edward mendelik. "Suatu hari nanti, aku pun akan mencari wanita yang tepat untuk mendampingiku, oke!"
Charlie tersenyum sinis. "Kau hanya membutuhkan lubang untuk kau jelajahi, Dude. Jangan mengatakan omong kosong. Itu hanya membuatku mual."
"Sialan!" Edward mengumpat karena harus membenarkan ucapan Charlie.
Dalam senyap Belinda mendengar semua ocehan tak bermutu yang keluar dari mulut Charlie dan Edward. Dan Belinda lebih memilih untuk memfokuskan diri pada kondisi mental Thomas. Setidaknya itu lebih baik daripada pikirannya terhasut dan berakhir membayangkan hal yang seharusnya tidak perlu ia bayangkan.
Dan lagi, Belinda meragukan ocehan kedua pria itu. Membenarkan anggapan mereka adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin Thomas menganggap dirinya adalah wanita yang tepat. Belinda yakin, Thomas memiliki tujuan tertentu yang belum ia ketahui secara pasti.
Dari tempatnya berdiri, Belinda juga melihat wajah-wajah sendu yang diliputi duka yang mendalam. Terutama, Devan. Pria yang ia ketahui selalu berwibawa, kini terlihat rapuh karena keadaaan.
Suara tangisan Gabrielle membuat Belinda mampu meraba rasa sesak yang sama. Sejauh ini, yang Belinda ketahui Gabrielle banyak menggantungkan harapan pada Robert dan Shara. Dan sekarang gadis itu pasti kehilangan arah, kehilangan rumah sesungguhnya.