12 Foreplay

2192 Kata
Layaknya pengantin baru pada umumnya, Belinda pun diserang rasa gugup dikarenakan malam ini adalah malam pertamanya bersama Thomas. Pertanyaannya, apakah mereka akan melakukan ritual wajib yang biasanya dilakukan pasangan pengantin pada umumnya? Belinda tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk memikirkannya. Jangankan memikirkan hal yang menjurus ke arah sana, saat ini saja ia tengah sibuk menentramkan jantungnya yang berdebar-debar tak karuan. Belinda hanya memiliki keberanian untuk memikirkan posisi tidurnya, itu saja sudah mampu membuat kepala Belinda pening. Rasa-rasanya, ia ingin menghilang saja dari situasi awkward ini. Tidur bersama Thomas sepanjang malam? Bahkan saat tadi mengistirahatkan tubuhnya sebentar saja ia sudah dibuat mati kutu dengan perlakuan Thomas yang seenaknya. Belum lagi disaat pria itu tadi menciumnya, untuk membayangkannya kembali saja ia bergidik sendiri. Thomas sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kali ini, Belinda tidak menyiapkan pakaian ganti Thomas sebab ia tidak mengetahui secara pasti pakaian seperti apa yang akan Thomas kenakan ketika hendak tidur. Ngomong-ngomong soal pakaian ganti, Ia juga dibuat kebingungan, tidak tau harus menggenakan apa. Belinda tidak membawa sehelai baju pun, dan Gabrielle hanya memberikan beberapa potong gaun serta beberapa set pakaian dalam. Belinda menghela nafas frustasi. Tidak mungkin ia akan menggunakan gaun untuk tidur seperti siang tadi, bukan? Suara pintu terbuka membuatnya terperanjat. Belinda mendelik saat mendapati Thomas keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Mata sucinya lagi-lagi ternodai akibat pemandangan yang sialnya indah, d**a bidang serta tonjolan otot perut yang terbentuk sempurna berhasil menyebabkan otak polosnya traveling hingga ke Mancanegara. Pria itu memang terlihat jauh lebih dewasa dengan bentuk tubuh yang semakin sempurna. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Thomas dibuat heran sebab Belinda memperhatikannya sedemikian rupa. "Kau tidak membersihkan tubuhmu?" Sambil menggosok rambutnya, ia mendekati Belinda yang masih setia memandanginya. "Aku tidak memiliki pakaian untuk tidur." Suara Belinda mencicit pelan, merasa malu dengan pengakuannya sendiri. Belinda lalu memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap Thomas lebih lama lagi. Hell, baru disajikan pemandangan seperti ini sebentar saja sudah mampu membuat jantungnya berdentum secara gila-gilaan. Bagaimana jika ia harus menghadapinya setiap hari? Cepat-cepat Belinda menggelengkan kepalanya, mengusir fantasi liar yang baru saja mencoba mempengaruhi pikirannya. "Ahh... Begitu rupanya." Thomas mengangguk paham. "Kau bisa mengenakan kaos atau kemejaku jika kau menginginkannya. Sebentar aku akan mengambilkannya untukmu." Dengan langkah santai, Thomas memasuki walk in closet. Belinda menyentak nafas pasrah sekaligus lega. Ide yang Thomas berikan terdengar lebih baik dari pada ia harus tidur menggunakan dress seperti siang tadi. Kaos atau kemeja bukan ide yang buruk. Thomas kembali hanya dengan menggunakan boxer tanpa melapisi tubuh bagian atasnya. "Kau bisa memakai salah satunya." Ia kemudian menyerahkan kaos oblong dan kemeja putih pada Belinda. Belinda meraihnya, lantas menunduk, menatap keduanya dalam diam. Menimang-nimang yang paling cocok digunakan untuk tidur, setidaknya untuk malam ini. "Sebaiknya kau bersihkan tubuhmu sekarang karena malam semakin larut." Belinda mengangguk dan membawa langkah kakinya secepat yang ia bisa ke dalam kamar mandi, lantas menutup pintunya rapat-rapat. Setibanya di dalam kamar mandi, Belinda langsung menyandarkan tubuhnya pada daun pintu seraya memejamkan mata. Dalam hati ia mengutuk kelakuan Thomas yang berpenampilan seenak jidatnya. Pria itu bukan bayi lagi, oke?! Yang akan terlihat lucu saat berkeliaran hanya dengan memakai boxer saja. Belinda melepas seluruh pakaiannya, menyalakan shower dan membiarkan aliran air hangat membasahi tubuhnya. Helaan nafasnya kembali mengudara, sepertinya akan banyak kejutan yang Thomas tunjukkan kepadanya. Belinda memang mengenal pria itu sejak kecil, namun tidak sepenuhnya. Dan mungkin mulai malam ini, ia akan menemukan satu-persatu tabiat Thomas yang belum pernah ia temui sebelumnya. Setelah merasa lebih segar, Belinda mematikan shower. Meraih handuk dan membungkus tubuh telanjangnya. Ia berjalan keluar dari bilik kaca menuju pintu yang berhadapan langsung dengan cermin. Netranya sibuk mengamati pakaian yang tergantung pada daun pintu. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan benar, Belinda pun memakai pakaian dalamnya . Kemudian, ia mengambil kedua pakaian yang Thomas berikan tadi lalu mencocokkan dengan tubuhnya di depan cermin. Keningnya berkerut-kerut seraya mengamati penampilannya sendiri. Kedua pakaian itu terlihat sama dimatanya karena keduanya sama-sama menutupi sebagian pahanya yang putih. Dan pada akhirnya Belinda memutuskan untuk menggunakan kaos saja. Selain lebih simple, ia juga merasa lebih nyaman saat memakainya. Belinda kembali mematut tubuhnya di depan cermin. Kaos Thomas terlihat besar untuknya sehingga sebagian tubuh mungilnya tenggelam. Setelah merasa penampilannya sudah cukup baik, Belinda membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Kepalanya menyembul ke luar, ada desiran lega begitu melihat Thomas sudah berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Ia pun memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi dan menutup kembali pintunya se-pelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Dengan mengendap-endap, Belinda berderap menuju ranjang. Secara perlahan-lahan ia mendaratkan bokongnya, lalu mengangkat kedua kakinya masuk ke dalam selimut. Dengan gerakan hati-hati Belinda membaringkan tubuhnya memunggungi Thomas kemudian menarik selimut hingga ke dadanya. Awalnya Belinda bisa memejamkan matanya dengan perasaan lega karena ia merasa seluruh upayanya berjalan lancar dan mulus tanpa hambatan. Sayangnya prediksinya meleset, Belinda reflek mencengkram selimut begitu merasakan pergerakan di belakang tubuhnya. Thomas yang memang belum tidur diam-diam mengamati gerak gerik Belinda. Dalam hati ia menertawakan kelakuan wanita itu. Bisa-bisanya Belinda berjalan mengendap-endap seperti maling. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Secara perlahan Thomas memutar tubuhnya menyamping dan dalam satu tarikan, ia berhasil membawa tubuh Belinda masuk ke dalam rengkuhannya. Kakinya menyelinap di sela paha, satu lengannya masuk ke bawah leher untuk dijadikan bantalan, sementara lengan lainnya membelit perut ramping wanita itu. Belinda mulai merasa kesulitan bernafas, bukan karena sesak namun, karena perlakuan Thomas yang begitu mengejutkannya. Pria itu benar-benar seperti ular yang sedang melilit mangsanya. Tanpa dikomando, jantungnya berdentum keras. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa tubuhmu sangat tegang?" Bisik Thomas tepat di telinga Belinda. Aroma manis yang menerobos indra penciumannya membuatnya terlena. Belinda menggeleng kaku kemudian menoleh seraya menunjukkan ekspresi memelas. "Bisakah kau melepas pelukannya?" Bulu kuduknya berdiri saat satu tangan Thomas menyelinap masuk ke dalam kaosnya lalu mengusap perutnya dengan gerakan memutar dan naik turun. "Kenapa? Bukankah kau sudah pernah merasakan sentuhanku sebelumnya?" Thomas mengabaikan permintaan Belinda. Secara naluriah tangannya mulai menggerayangi tubuh wanita itu, seolah apa yang ia perbuat adalah hal yang biasa mereka lakukan. Memang tidak ada yang salah dengan ucapan Thomas. Kejadian itu masih terekam jelas dalam ingatannya, saat dimana pertama kali Thomas menyentuhnya. Saat itu, Thomas sedang berada dibawah pengaruh alkohol dan Belinda tidak memiliki kekuatan lebih untuk melawannya. Meski sudah berusaha menolak namun pada akhirnya Belinda kalah oleh keadaan sehingga kesucian yang selama ini ia jaga terenggut begitu saja. Bukan hanya sekali Thomas melakukannya karena setelah membuatnya kelelahan semalaman, keesokan harinya pria itu kembali mengulanginya dalam keadaan sadar. Pada saat itu, Belinda sama sekali tidak menyesalinya. Bagi Belinda menyerahkan apa yang telah ia jaga merupakan bukti rasa cintanya yang teramat besar pada Thomas. Naif memang, karena saat itu Belinda pikir setelah ia menyerahkan miliknya yang paling berharga hubungan mereka bisa berkembang ke tahap yang lebih serius. Nyatanya, itu hanya khayalannya saja karena pada kenyataannya Thomas tetap menganggap dirinya adik sama seperti Gabrielle. Menyesakkan bukan? Kenyataan pahit itu bukan hanya berhasil mengubur angannya akan tetapi seluruh rasa cintanya juga ikut terkubur bersama kekecewaan yang mendalam. Dan ketika penyesalan itu datang, Belinda sudah tidak bisa mengembalikan waktu. Yang ia bisa lakukan hanya menjauh, menjaga jarak agar hatinya tidak semakin terluka. Dan, kini ia harus kembali terjebak dalam situasi yang lebih rumit. Situasi yang telah mengubah statusnya, mengubah hubungan mereka, mengubah semua rencana yang telah ia susun dengan baik. Takdir memang selucu itu, disaat ia telah berhasil mengalahkan perasaannya sendiri takdir seolah sedang mengajaknya bercanda, mempermainkan hidupnya dan membalik garis tangan dengan mudahnya. "Kau bukan pembohong yang baik, Bel. Tubuhmu bereaksi saat aku menyentuhnya." Bisik Thomas sebelum menyerbu batang leher Belinda dengan kecupan-kecupan ringan kemudian menghisapnya. Lidahnya pun ikut berperan serta, memberikan jilatan lembut. Thomas terus melakukannya berulang-ulang karena terlena dengan aroma manis serta lembutnya kulit Belinda. Apa yang Thomas lakukan membuat Belinda secara spontan menahan nafasnya seraya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Setengah mati ia menahan lidahnya agar tidak berkhianat juga padanya. Kepalanya mulai pening, tubuhnya menggeliat pelan ketika merasakan sensasi geli dibarengi rasa nikmat yang mulai mengambil alih akal sehatnya. "Thom.." Susah payah Belinda menyebut nama pria itu ketika ia merasakan sentuhan primitif yang menjalar di sepanjang punggungnya. Akal sehatnya yang masih tersisa mengajaknya untuk menolak mentah-mentah sentuhan primitif itu, namun reaksi tubuhnya justru mengatakan sebaliknya. Belinda tidak kuasa menahan serangan nikmat yang Thomas ciptakan sehingga ia hanya mampu memejamkan matanya pasrah sewaktu merasakan kaitan bra nya terlepas. "Hum?" Thomas bergumam pelan sebab bibir dan lidahnya sedang sibuk menjelajahi batang leher lembut itu. Gila! Ini benar-benar gila. Lembutnya kulit itu, aroma tubuhnya dan respon tubuh Belinda berhasil menenggelamkan akal sehatnya, menyisakan gairah yang melambung tinggi. Thomas tidak pernah mengira hasratnya akan terpancing dengan mudahnya. Selama ini pertahanannya cukup baik dan ia selalu sukses mengendalikan dirinya dari hal-hal seperti ini. Gerakan Thomas sangat cepat sewaktu ia menarik lengan Belinda hingga wanita itu terlentang di bawah kuasanya. Tanpa menghiraukan ekspresi terkejut Belinda, Thomas mereguk rasa manis dari bibir wanita itu. "Emhh..." Tanpa sadar Belinda mengerang sewaktu tangan besar Thomas menangkup salah satu dadanya, meremasnya lembut dan memainkan pucuknya. Seakan tidak ingin membuat iri d**a yang satunya, tangannya yang bebas pun turut memberikan treatment, meremasnya tak lupa memainkan pucuk d**a yang mulai menegang. Thomas dibuat mabuk kepayang dengan sensasi yang ia ciptakan sendiri. Ini gila! Belinda sama sekali tidak menyangka respon tubuhnya akan selemah ini. Setiap sentuhan yang Thomas berikan direspon dengan baik oleh tubuhnya. Seluruh sarafnya menegang bersamaan dengan reaksi diluar akal sehatnya. Secepat kilat Thomas melepas ciumannya, secepat itu juga kaos yang melekat pada tubuh Belinda terlepas. Kini bibir Thomas mendarat di atas pucuk d**a yang terlihat menantangnya, melahapnya dengan rakus layaknya bayi yang kehausan. "Eughh..." Punggung Belinda melengkung seperti busur panah. Rasa nikmat bercampur geli itu menyulut gairahnya kian bergejolak. Belinda meremas seprai disisi tubuhnya, meluapkan rasa nikmat yang membuatnya melayang. Lidah Thomas terus menari-nari di atas pucuk d**a Belinda kemudian menghisapnya dengan rakus. Thomas masih betah berada di posisinya, hanya mulutnya saja yang berpindah dari d**a yang sebelah kiri ke d**a yang sebelah kanan. Suara erangan lirih Belinda seperti percikan bara yang memantik gairahnya ke puncak tertinggi. Thomas berada diambang batasnya, dorongan hawa nafsu telah mengikis habis seluruh akal sehatnya. Kedua kaki Belinda bergerak gelisah sebab ia merasakan pusat tubuhnya semakin basah oleh cairannya sendiri. Nafasnya pun kian memburu hebat, Belinda tidak mampu mengelak rasa puas yang kian merajalela. Ia lalu dibuat tersentak hebat kala tangan Thomas mulai menjalar turun, menyentuh bagian dari tubuhnya yang paling sensitif. Meski masih terhalang kain, Belinda bisa merasakan jari-jari besar itu mencoba untuk menekannya. Kepala Belinda semakin dibuat pusing ketika Thomas perlahan-lahan melepas satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya. Dan tubuhnya menggelinjang hebat saat merasakan ada sesuatu menyentuh bagian sensitifnya. Wajah Thomas terangkat kemudian tersenyum puas saat menyaksikan gairah telah menguasai tubuh Belinda sepenuhnya hanya karena permainan jarinya. Tubuh wanita itu menggeliat tak terkendali saat jarinya bergerak cepat dan semakin cepat di bawah sana. Yang paling ia sukai saat netra coklat terang itu terlihat lebih pekat akibat kabut hasrat. "Thomas, ohh..." Tubuh Belinda kembali menggelinjang saat dirinya merasakan lidah Thomas bermain di dadanya. Pria itu memutar lidahnya dengan lihai, menjilatnya serta menghisapnya dengan rakus. Thomas menyeringai senang, suara deru nafas Belinda membuatnya menyimpulkan bahwa wanita itu sedang mendaki puncak gairahnya. Jemarinya bergerak semakin cepat, jempolnya pun ikut menggesek pusat paling sensitif dari tubuh wanita itu. Belinda merasakan sesuatu menggelitik perutnya, sesuatu yang mendesak ingin keluar dan rasanya semakin nyata saat jempol Thomas bergerak semakin intens. Matanya terpejam, kedua tangannya mengepal kuat. "Thomas, achh..." Lenguhannya terdengar panjang. Belinda mengejang, nafasnya tersendat-sendat. Tubuhnya terangkat begitu saja hingga ia merasakan lengan kokoh yang menyanggah pinggulnya. Kesadarannya dilindas habis, Belinda tidak merasakan apapun selain rasa nikmat dan seluruh otot tubuhnya melemas begitu saja. Belinda masih mengatur nafasnya yang memburu hebat. Jantungnya bertalu-talu seolah habis dipaksa berlari marathon. Matanya terpejam erat. Posisinya masih sama, memeluk Thomas, menyembunyikan seluruh rasa puasnya dibalik punggung tegap pria itu. "Kau sangat basah, Belinda." Thomas mengurai pelukan mereka lalu tersenyum puas saat melihat wajah merah merona yang berpaling darinya. "Kau merasakannya?" Ia dengan sengaja menggesekkan miliknya yang masih bersembunyi di balik boxer. Kelopak mata Thomas turun saat merasakan kenikmatan begitu miliknya yang sudah mengeras bergesekan dengan lembah basah yang terbuka. "Aku tidak dapat menahannya lebih lama lagi." Erangnya frustasi, dadanya naik turun kala sensasi nikmat itu merasuki jiwa dan raganya. Mendengar kalimat itu, Belinda memberanikan diri menatap tepat di manik yang memancarkan kabut gairah. Tanpa sadar Belinda menggigit bibirnya, terlebih ketika pria itu menjauh hanya untuk melepas boxernya. Sontak saja mata Belinda melebar begitu Thomas menanggalkan boxernya mempertontonkan benda perkasa yang pernah mengobrak abrik tubuhnya. Apa itu anaconda? Belinda masih syok ditempatnya. Dan kini, nafas Belinda sukses dibuat tercekat saat Thomas mulai bergerak mendekatinya sebab ia bisa menyaksikan secara detail gagahnya milik Thomas yang berdiri tegak seolah menantang gravitasi. Di tambah lagi, tubuh pria itu terlihat jauh lebih jantan karena dipenuhi banyak otot. Kepala Belinda pening seketika. Bahkan ia tidak berani membayangkan benda besar nan perkasa itu menerobos pusat tubuhnya. Apakah mungkin benda sebesar itu masuk ke dalam pusat tubuhnya yang mungil? Apakah itu muat? Atau akan terasa menyakitkan? Melihatnya saja sudah membuatnya ngeri. "Sepertinya kau mengaguminya?" Thomas menyeringai puas saat menyadari tatapan Belinda hanya tertuju pada junior kebanggaannya. Wajah yang memucat serta sorot takut dari wanita itu menimbulkan rasa bangga yang tak terkira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN