Bunker itu sempit, pengap, dan berbau besi berkarat bercampur aroma darah. Di atas mereka, getaran ledakan villa masih terasa, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit beton. Cahaya merah dari lampu darurat berkedip-kedip, menyinari wajah Dante yang sepucat mayat namun tetap terlihat mengancam.
Rania duduk bersandar pada dinding dingin, tangan kirinya masih terborgol menyatu dengan tangan kanan Dante. Rantai besi itu pendek, memaksa mereka duduk sangat dekat—jarak yang membuat Rania terus beristighfar dalam hati.
"Tuan... Anda harus melepaskan ini," bisik Rania, suaranya parau karena menghirup asap. "Anda butuh pengobatan, dan saya butuh ruang untuk bernapas."
Dante tidak menjawab. Matanya terpejam, tapi cengkeraman tangannya pada borgol itu sangat kuat. Ia bernapas pendek-pendek, menahan nyeri hebat dari luka tusukan Bianca di perutnya.
Tiba-tiba, Dante membuka mata. Kilat amarah di matanya belum padam. Dengan gerakan kasar, ia menarik rantai itu, memaksa Rania mendekat.
"Ambil... kotak medis di bawah kursi itu," perintah Dante, suaranya parau namun tetap penuh penekanan.
Rania terpaksa merangkak mengikuti tarikan tangan Dante. Ia menemukan sebuah tas medis militer. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya ada stapler medis, morfin, dan cairan disinfektan.
"Jahit lukaku," titah Dante dingin.
Rania tersentak. "Saya bukan dokter! Saya tidak bisa melakukannya!"
Dante menyeringai kejam, meski ia merintih setelahnya. "Kau cerdas, Rania. Kau tahu cara menggunakan uap panas di gudang tempo hari. Sekarang, gunakan kecerdasanmu untuk memastikan 'tiket' pulangmu ini tidak mati kehabisan darah. Jika aku mati di sini, borgol ini tidak akan pernah terbuka."
Rania menarik napas panjang. Ia teringat pelajaran P3K di Madrasah, namun menjahit perut seorang bos mafia adalah hal yang berbeda. Dengan tangan yang masih terikat pada Dante, ia mulai merobek kemeja pria itu.
Ia menuangkan cairan disinfektan ke luka Dante. Pria itu menggeram, otot-otot lengannya mengeras, menarik rantai borgol hingga pergelangan tangan Rania memerah. Rania tidak peduli. Ia fokus pada satu tujuan: bertahan hidup agar bisa sampai ke Jeddah.
"Jangan berpikir untuk menusukkan jarum ini ke jantungku, Rania," bisik Dante di tengah rasa sakitnya. "Karena sebelum jantungku berhenti, aku akan memastikan kepalamu pecah di dinding ini."
"Simpan ancaman Anda, Tuan Dante," jawab Rania tajam sambil menekan luka itu dengan kain kasa. "Saya menyelamatkan Anda bukan karena saya peduli, tapi karena saya tidak ingin mengotori tangan saya dengan kematian manusia seperti Anda."
Setelah luka itu tertutup secara darurat, Dante bersandar lemas. Ia mengambil sebuah radio komunikasi tua dari rak bunker dan mulai memutar frekuensi dengan tangan yang berlumuran darah.
"Ke mana kita akan pergi setelah ini?" tanya Rania pelan.
Dante menatap layar monitor kecil yang menampilkan rekaman CCTV luar yang masih aktif secara ajaib. Di sana, terlihat Bianca sedang berdiri di depan helikopter, tersenyum puas menatap villa yang hangus.
"Kita tidak akan lari, Rania," ucap Dante dengan suara yang tiba-tiba tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya. "Kita akan membiarkan mereka berpesta. Kita akan membiarkan dunia mengubur nama Dante Moretti malam ini."
Dante menoleh ke arah Rania, sebuah rencana licik terpancar dari matanya. "Dan besok, kau akan membantuku menyusup ke Milan. Kita akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku, dimulai dari nyawa Bianca."
Rania tertegun. Ia menyadari satu hal: perjalanannya menuju Umroh justru semakin jauh, karena ia kini baru saja membuat aliansi dengan iblis yang baru saja bangkit dari kuburnya.
Dante tidak membuang waktu. Meski tubuhnya masih gemetar akibat kehilangan banyak darah, ia memaksa dirinya berdiri, menyeret Rania yang masih terborgol dengannya. Ia menekan sebuah tuas tersembunyi di balik rak senjata, dan sebuah lubang sempit terbuka di lantai beton—sebuah jalur tikus yang menuju ke sistem drainase kuno di bawah pegunungan.
"Lompat," perintah Dante singkat.
"Tuan, itu gelap dan..."
"Lompat atau aku akan melemparmu ke dalam," potong Dante tanpa belas kasihan.
Rania tidak punya pilihan. Dengan tangan yang terikat pada sang Mafia, ia melompat ke dalam kegelapan. Mereka mendarat di air setinggi mata kaki yang sedingin es. Bau lumut dan air payau menusuk hidung, namun bagi Dante, ini adalah jalan menuju tahtanya yang hilang.
Langkah mereka menggema di lorong sempit tersebut. Dante berjalan di depan, menggunakan cahaya kecil dari ponsel satelitnya. Rania harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah Dante yang lebar dan terburu-buru.
"Kenapa kita lewat sini? Bukankah mobil Anda ada di gerbang depan?" tanya Rania sambil berusaha menyeimbangkan diri agar tidak jatuh di atas lantai yang licin.
"Mobil di depan hanyalah umpan," desis Dante. "Bianca pasti sudah memasang pelacak di sana. Kita akan keluar melalui terowongan pembuangan yang menuju ke sebuah pondok tua milik keluarga Moretti di lembah sebelah. Di sana, aku punya kendaraan yang tidak diketahui siapa pun."
Tiba-tiba, suara derap sepatu bot terdengar dari arah belakang mereka. Senter-senter mulai menyapu dinding terowongan.
"Mereka menemukan pintu bunkernya!" bisik Rania panik.
Dante berhenti mendadak. Ia mematikan cahaya ponselnya, membuat mereka terjebak dalam kegelapan total. "Diam," bisiknya dingin. Ia menarik Rania ke dalam sebuah celah sempit di dinding terowongan, menekan tubuhnya ke arah gadis itu agar mereka tidak terlihat.
Rania memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Ia bisa merasakan napas Dante yang panas di keningnya, kontras dengan udara bawah tanah yang membeku.
"Jika mereka mendekat, aku akan menggunakanmu sebagai perisai," bisik Dante tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Ingat itu, Rania. Hidupmu hanya berharga selama kau bisa membantuku bergerak."
Rania menggigit bibirnya. Pria ini benar-benar tidak punya hati, batinnya. Namun, ia menyadari sesuatu. Di dalam kegelapan ini, ia bisa merasakan tangan Dante yang memegang borgol itu sedikit gemetar. Pria itu sudah mencapai batas kekuatannya.
Begitu suara para pengejar menjauh, Dante kembali menyeret Rania. Mereka merangkak keluar dari lubang pembuangan yang tertutup salju tebal beberapa kilometer dari villa. Di sana, di sebuah gubuk kayu yang nyaris roboh, terparkir sebuah mobil SUV tua yang tertutup jerami.
Dante melempar kunci pada Rania. "Kau yang menyetir."
"Saya tidak tahu jalan di Italia, Tuan! Dan tangan saya..." Rania mengangkat tangannya yang masih terborgol pada Dante.
"Gunakan tangan kananmu untuk kemudi, tangan kirimu terikat padaku di tuas transmisi. Jangan berani-berani mencoba menabrakkan mobil ini, karena jika aku mati, borgol ini akan meledak secara otomatis setelah jantungku berhenti berdetak."
Lagi-lagi, sebuah kebohongan atau ancaman nyata? Rania tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa ia harus menyalakan mesin itu jika ingin melihat matahari esok hari.
Oke, ini masuk akal. Dante itu profesional, luka parah pun dia pasti masih punya insting untuk memegang kendali penuh, apalagi dia tidak percaya pada kemampuan Rania. Kita buat situasinya lebih menekan secara fisik karena posisi borgol itu.
Bab 5: Kebangkitan dari Balik Abu
Bagian 2: Pelarian yang Mustahil
Begitu mereka merangkak keluar dari lubang pembuangan yang tertutup salju, Dante menyeret Rania menuju gubuk kayu yang nyaris roboh. Di dalamnya, sebuah SUV tua berwarna gelap terparkir di bawah tumpukan jerami.
Dante terbatuk, darah segar mengotori salju putih di bawah kakinya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kunci mobil. Ia menatap kursi kemudi, lalu menatap Rania.
"Kau bisa menyetir?" tanya Dante pendek, napasnya memburu.
Rania menggeleng cepat dengan wajah pucat. "Tidak, Tuan. Saya tidak pernah belajar."
Dante mendengus sinis, seolah sudah menduga jawaban itu. "Tentu saja tidak. Kau hanya gadis yang terbiasa dengan doa, bukan peluru."
Dante memaksakan diri masuk ke kursi pengemudi. Namun, masalah besar muncul: Tangan kirinya terborgol dengan tangan kiri Rania. Agar Dante bisa bergerak bebas mengendalikan kemudi dan tuas persneling, Rania terpaksa harus duduk sangat rapat, hampir menempel di sisi kiri Dante, karena rantai borgol itu tidak cukup panjang.
"Masuk! Lebih dekat lagi!" bentak Dante saat Rania ragu-ragu.
Rania duduk di pinggir kursi penumpang, tubuhnya condong ke arah Dante. Jarak mereka begitu dekat hingga Rania bisa merasakan panas tubuh Dante yang sedang demam dan bau anyir darah yang semakin menyengat.
Dante mencengkeram kemudi dengan tangan kanannya. Tangan kirinya yang terborgol—yang menyatu dengan tangan Rania—terpaksa ia gunakan untuk mengoper tuas persneling. Setiap kali Dante memindahkan gigi, tangan Rania ikut tersentak maju-mundur mengikuti gerakan tangan kekar pria itu.
"Tanganmu... jangan kaku," geram Dante saat mobil mulai melaju kasar di atas jalanan bersalju. "Ikuti saja gerakan tanganku, atau pergelangan tanganmu akan patah."
Mobil SUV itu meraung, mendaki jalanan setapak yang licin. Dante mengemudi dengan brutal. Tangan kanannya memutar kemudi dengan lihai meski hanya satu tangan, sementara tangan kirinya yang terikat dengan Rania terus bekerja keras memindahkan gigi setiap kali medan berubah.
Rania hanya bisa memegang pegangan di atas pintu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya "dipaksa" menjadi bagian dari mekanisme mobil oleh Dante.
"Tuan, pelan-pelan! Di depan ada tikungan tajam!" teriak Rania saat melihat sorot lampu mobil mereka menyapu jurang yang dalam.
"Diam! Aku butuh kecepatan untuk melewati tanjakan ini sebelum mereka mengepung jalan utama!" Dante menginjak gas lebih dalam.
Tiba-tiba, sebuah peluru menghantam kaca spion samping, hancur berkeping-keping. Anak buah Bianca sudah berada di belakang mereka dengan mobil-mobil yang lebih tangguh.
"Pegang kemudinya!" perintah Dante tiba-tiba.
"Apa?! Tadi Anda bilang saya tidak boleh—"
"Hanya pegang agar tetap lurus! Aku harus membalas mereka!" Dante melepaskan tangan kanannya dari kemudi, meraih pistol di saku pintunya, dan mulai menembak ke arah belakang sambil tetap mengoper gigi dengan tangan kirinya yang terborgol bersama Rania.