Cahaya fajar yang merayap masuk melalui tirai tipis apartemen mewah itu terasa seperti alarm yang menyebalkan bagi Kairi. Ia terbangun dengan berat yang familiar di pinggangnya—lengan kokoh Lewis masih melingkar di sana, mengunci tubuhnya dalam dekapan posesif yang tidak memberikan ruang bahkan untuk sekadar bergeser sepuluh sentimeter. Aroma sisa gairah semalam yang bercampur dengan wangi maskulin Lewis memenuhi indra penciumannya, menciptakan rasa kantuk yang memikat namun sekaligus memicu kepanikan saat matanya melirik jam digital di nakas. "Lewis ... lepaskan," bisik Kairi, suaranya serak. Ia mencoba mengurai jemari Lewis yang mengunci perutnya. "Aku ada kelas jam delapan. Profesor botak di mata kuliah Statistik itu tidak akan memberiku toleransi meski aku asisten kesayangan dekan."

