Soni membatu beberapa saat, bibirnya terbuka sedikit dengan mata yang enggan berkedip. Bibirnya terlalu kaku untuk berbicara saat itu, degup jantungnya lebih cepat dari biasanya. "Mbak Kila?" Akhirnya pemilik kafe itu bersuara, menyapa wanita yang kini sudah berdiri tepat di depan hadapannya. Lusi menoleh pada kekasihnya, tatapannya tak lagi sama. Gadis itu merasa cemburu seketika. Kalau ada yang tanya seberapa besar ia cemburu saat itu, itu adalah perasaan cemburu yang paling besar yang pernah ia rasakan. Melihat kekasihnya saling bertukar tatap dengan wanita yang pernah dicintai, tentu saja sudah melukai perasaannya. Aji memperhatikan suasana yang terlihat canggung itu dengan diam. Sementara pria tampan dengan pakaian kasual yang didominasi dengan warna putih tulang itu masih setia

