Penampilan Indra dan Marisa yang semula berantakan kini sudah rapi kembali. Bekas pemanasan pergulatan tadi sudah dirapikan juga. Marisa duduk manis di sofa dan Indra bersiap membuka pintu. "Ada aja gangguan, sih, Yah.” Marisa menyilangkan tangan di depan da-da. Hasrat yang semula memuncak harus dipendam karena tempatnya juga tidak memungkinkan. Bagian-bagian tubuh yang sudah terangsang kini harus ditenangkan agar tidak lagi membuat ulah. "Sabar Bunda. Kita lanjut nanti malam, ya.” Tangan Indra sudah siap memutar kunci. Ini ruangan direktur rumah sakit. Pasti akan ada banyak karyawan yang keluar masuk untuk menyerahkan laporan atau meminta tanda tangan. Pintu dibuka perlahan. Indra melihat seorang gadis yang ia kenal memakai jas dokter dan tertempel name tag di bagian kanan. Sepertinya

