Langkah kaki Sinta tidak lebar dan perlu usaha yang lumayan untuk masuk ke rumah. Melihat perut kakak iparnya yang membundar itu, hati Marisa serasa teriris sakit. Pasalnya tidak ada yang memberitahu dirinya tentang kabar bahagia itu. Divan, Sinta, dan Rika sengaja menyembunyikan kabar kehamilan Sinta dari Marisa. Mereka takut jika gadis itu malah sedih dengan kabar kehamilan anak kedua kakak iparnya. Terlebih lagi, saat Marisa keguguran, saat itu pula Sinta mengetahui hasil tes kehamilannya positif. “Sudah berapa bulan, Kak?” tanyanya. “Lima, Sa,” jawab Sinta dengan penuh kecanggungan. Marisa mendekat dan mengusap perut Sinta. “Kok nggak bilang-bilang? Takut aku iri atau Kakak tidak enak sama aku, ya, karena tidak kunjung hamil?” Dalam binar tatapan matanya, Marisa menyimpan cairan yan

