Berbahagialah kamu yang diberikan ujian, karena ujian adalah cara Allah menyayangimu.
?penulis?
♡♡♡♡
Defina menghela nafas lega saat ujian kuliah semester tujuhnya sudah selesai. Defina tersenyum sambil memasukan semua alat tulisnya kedalam tas. Dan rencananya Defina akan pulang ke Garut besok, untuk segera membereskan semua masalahnya dengan keluarganya.
"Ayok Fin." Aisyah sudah berdiri untuk keluar dari kelas.
"Ayok." Balas Defina sambil melangkah pergi bersama Aisyah.
"Aku besok mau ijin pulang duluan Syah."
"Terus libur kuliah kan beberapa hari lagi?"
"Aku udah bilang sama pa Kiyai katanya dia bakalan bilang sama dosennya." Ucap Defina
"Yaudah. Semoga masalah kamu cepet selesai yah." Balas Aisyah sambil menatap sahabatnya itu, ada rasa kasihan bagaimana mungkin wanita sebaik Defina terus menerus mendapatkan ujian seberat itu.
Defina, membereskan barang barangnya, kemungkinan besar liburan semester nya akan ia habiskan di rumah neneknya. Jam tujuh malam Defina sampai di Garut dengan selamat, neneknya menyambut kedatangan Defina dengan antusias.
"Pulang kok gak bilang. Kalau kamu mau pulang kan bisa nenek jemput." Ucap nenek Defina sambil menatap cucunya yang sibuk membereskan tempat tidurnya.
"Kan biar kejutan." Defina, tersenyum menatap balik neneknya. Yang masih terlihat muda di usianya yang sekarang.
Defina menghampiri neneknya,mengajaknya duduk di atas tempat tidur. Defina menarik nafas dalam mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak di tambah kerongkongannya terasa tercekat.
Tapi Defina butuh penjelasan dari semua masalahnya ini.
"Nek, Defina liburan ke sini buat nenek." Ucap Defina meraih tangan neneknya dan menggenggamnya erat. Menatap binar bahagia dari mata neneknya.
"Iyah nenek seneng, nenek mau kamu tinggal di sini sama nenek. Ibu kamu mungkin sudah lupa sama nenek, dia jarang ke sini nengokin nenek." Ada rasa sedih dan kecewa yang Defina tangkap dari sorot mata neneknya.
Mungkinkah ibunya sesibuk itu sampe lupa bahwa sosok orang yang sudah melahirkanya masih ada. Dan sedang membutuhkan kehadiran dirinya di masa masa senjanya.
"Mungkin ibu sibuk nek, Defina usahain yah kalau Defina lulus pasti Defina di sini jagain nenek." ucapan Defina seperti nada penghiburan bagi neneknya.
"Sini peluk nenek sayang." Tanpa diminta kedua kalinya Defina langsung berhambur ke pelukan neneknya.
"Nek Defina mau tanya, tapi nenek jawab jujur yah Defina mohon." Ucap Defina sambil melepaskan dekapan neneknya dan beralih menatap dalam mata sang nenek.
"Kamu mau tanya apa sih sampe serius gitu?"
Ada sesuatu yang membuat nafas Defina sesak, ada rasa sakit yang sulit Defina usir dalam hatinya.
"Apa bener nek, Defina bukan anak kandung ibu sama ayah?" Deg ucapan Defina membuat neneknya bergetar tidak percaya, bagaimana mungkin Defina tahu semuanya. Seketika wajah neneknya berubah pias, kaget itulah yang membuat badannya semakin menengang.
Dengan tingkah neneknya yang seperti itu, Defina yakin kalau ucapan ibunya memang benar.
"Dari mana kamu tau?" Ucap neneknya dengan raut wajah salah tingkah.
"Defina tau dari ibu nek, dia bilang sama Defina kalau Defina itu cuman anak angkat terus nenek minta ibu sama ayah buat rawat Defina." Loloslah sudah air mata yang Defina bendung, seiring ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Nek, Defina mohon sama nenek. Jawab jujur, Defina mau tau di mana orang tua asli Defina nek." Neneknya masih belum bergeming, tatapan nya jatuh pada mata sayu Defina. Ada rasa sakit yang dirasakan saat menatap cucu nya terisak dihadapannya.
"Defina, sini liat nenek." Ucap neneknya, meraih wajah Defina dan mendongkakan kepalanya untuk menatapnya. Mungkin kejujuran sudah saatnya ia bongkar dari sebuah lembaran yang berusaha ia kubur dalam dalam.
"Apa Defina anak haram nek?" Entah opini dari mana Defina takut jika memang ia anak yang tidak di inginkan.
Neneknya menggeleng cepat menepis pikiran buruk Defina yang semakin negatif.
"Kamu itu anak solehah sayang, gak ada anak yang terlahir haram." Ucap neneknya masih dengan tangan yang ia simpan diwajah Defina bersiap jika air mata cucunya keluar kembali ia akan menghapusnya.
"Terus Defina anak siapa nek?" Neneknya melepaskan tangannya dari wajah Defina dan balik merangkul cucunya dan mengusap bahunya pelan. Menyalurkan energi di sana.
"Dulu orang tua kamu nitipin kamu ke nenek, karena kondisi ekonomi mereka yang minim. Dengan tujuh orang anak mereka banting tulang biayain kakak kamu. Waktu itu nenek main ke Bandung, pas di jalan mobil nenek di stop sama ayah kamu. Dia minta tolong sama nenek buat nganterin istrinya lahiran." Air mata Defina tumpah mendangar penjelasan neneknya. Padahal ceritanya belum mencapai inti.
"Akhirnya nenek bantuin mereka, karena mereka gak punya seribu uang pun buat biaya lahiran. Dan akhirnya nenek yang tanggung semua biayanya sampe," ucapannya sempat terhenti. "Sampe kamu lahir." Lanjut neneknya, sedangkan Defina masih terisak dalam dekapan neneknya
"Terus kemana ibu sama ayah sekarang nek?" Rasa penasaran itu muncul. Defina ingin menatap sosok yang telah melahirkannya ke dunia ini. Sosok yang mereka sebut dengan ibu.
"Abis kamu lahiran, ibu sama ayah kamu pamit. Dia nitipin kamu ke nenek, katanya mereka mau pulang buat cari pinjeman bayar biaya lahiran kamu ke nenek. Padahal nenek bilang gak usah, tapi mereka tetep keras kepala buat pulang dan cari pinjeman. Sedangkan kamu di titipin sama nenek di rumah sakit. Mereka pergi ninggalin alamat yang masih nenek simpen. Tapi sayang di perjalan pulang ibu sama ayah kamu kecelakaan. Dan nyawa mereka tidak tertolong." Demi langit dan bumi, Defina ternyata sudah yatim piatu. Dia bahkan tidak tau sosok ibu dan ayahnya seperti apa, sungguh ini diluar dugaannya. Bahkan Defina merasa sakit, hatinya terasa diremas dengan keras. Ada banyak hal yang belum Defina ketahui tentang mereka ada banyak cerita yang ingin Defina sampaikan pada mereka.
"Ja...jadi.. iiibu saama a..ayah udah meninggal." ucapan nya tersenggal karena isakan tangis yang semakin menjadi.
"Iyah sayang, mereka udah gak ada. Mungkin hanya tinggal ketujuh kakak kamu yang masih ada. Entah di mana mereka sekarang, karena nenek gak sempet pergi ke alamat itu karena di sini ibu kamu keguguran. Jadi nenek pulang ke sini dan membawa kamu tinggal di sini." Jelas neneknya panjang lebar.
"Nenek sayang sama kamu, walau nenek ada buay kamu tiap hari dan jauh dari kamu tapi nenek ini tetep sayang sama kamu. Bagi nenek kamu adalah cucu nenek yang Allah titipkan buat nenek." butiran bening mengikuti perkataan yang di lontarkan nenek Defina. Semua beban yang ia simpan dalam kini usai sudah, cerita tentang masa lalu. Pengisaha seorang anak yang di angkat menjadi cucunya, dua puluh dua tahun sudah cerita itu ia simpan dalam diam. Dan semesta tengah menjadi saksi tentang kebenaran yang di ungkap kembali.
♡♡♡
Vote and coment?