Keesokan paginya, Alex berkata pelan,
“Jadi, kapan kita memulai rencana?”
Pria itu menoleh, matanya tajam.
“Tunggu sampai kabar kematian semakin menyebar. Sekarang tugasmu satu—bunuh mereka tanpa ketahuan. Paham?”
Alex mengangguk singkat.
“Ya.”
Alex kemudian berkeliling area kartel. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah tempat tersembunyi—bengkel pembuatan senjata. Di dalamnya, seorang pria paruh baya berdiri dengan rantai menggantung di lehernya.
Wajah itu terasa familiar.
Alex baru sadar—orang ini adalah perakit senjata legendaris, terkenal bisa membuat apa pun dari nol.
Tanpa basa-basi, Alex berkata,
“Paman, ajari aku membuat senjata.”
Pria itu tidak tahu siapa Alex sebenarnya. Ia hanya melihat seorang pemuda bertopeng. Tanpa curiga, ia mengajarkan segalanya—pembuatan pistol, senjata laras panjang, hingga granat dengan daya ledak besar.
Satu minggu berlalu.
Alex menguasai semuanya.
Ia memahami jenis peluru—mana yang efektif untuk manusia, mana yang mampu menghancurkan benda keras. Dari tangannya sendiri, lahirlah sebuah pistol rakitan sepanjang tiga puluh sentimeter.
Akurasi tinggi. Jarak dekat mematikan. Jarak jauh tetap stabil.
Alex menamainya “Destruction”, disingkat “Des”.
Nama itu ia ambil dari bahasa Prancis—kehancuran.
Malam itu, Alex kembali menemui pria yang mengajaknya bekerja sama. Mereka membahas rencana.
Malam ini adalah malam pemeriksaan besar—seluruh pasukan kartel akan dikumpulkan untuk mencari pengkhianat.
Ruangan besar dipenuhi orang.
Ketua kartel berdiri di depan, suaranya menggema,
“Siapa di antara kalian yang berkhianat?”
Tak ada yang menjawab. Hawa membunuh membuat semua membisu.
Satu per satu penutup wajah dibuka.
Hanya Alex yang tetap bertopeng.
Ketua menunjuknya.
“Kau. Naik ke depan.”
Saat Alex melangkah ke panggung dan membuka topengnya, seluruh ruangan gempar. Senjata langsung diarahkan ke arahnya.
Namun Alex bergerak lebih cepat.
Ia melompat ke belakang ketua kartel dan menjadikannya tameng hidup.
“Suruh mereka turunkan senjata.”
Ketua tertawa kecil.
“Berani sekali.”
Tiba-tiba—
DOR! DOR!
Tembakan membabi-buta dari belakang. Pria yang mengajak Alex bekerja sama mulai menembaki pasukan kartel.
“Apa kalian bodoh?! Bunuh mereka berdua! TEMBAK!”
Alex menggeram,
“b******n…”
Ia melepaskan tembakan dari balik tubuh ketua kartel. Ketua itu tewas seketika.
Alex menoleh cepat. Di setiap sudut ruangan, ada tong berisi bensin—semua sudah disiapkan.
Di saku celana ketua kartel, Alex menemukan sepuluh granat.
Tanpa ragu, granat-granat itu dilemparkan.
Ledakan mengguncang ruangan. Jeritan memenuhi udara. Mereka yang selamat pun terluka parah.
Alex menghampiri pria yang kini tergeletak, tubuhnya hancur.
Dengan suara lemah, pria itu berkata,
“Tolong… bantu aku. Kita kan masih bekerja sama.”
Alex tertawa pelan.
“Kau pikir aku bodoh?”
Ia menunduk.
“Bukankah kau bilang aku bukan sesuatu yang perlu ditakuti?”
Alex mengangkat pistol Des.
“Kau bahkan sudah kehilangan tangan dan kakimu. Kau hanya boneka sekarang.”
Tawa Alex pecah.
DOR. DOR.
Namun ia tidak langsung menghabisinya.
Setelah bosan, Alex meninggalkannya sekarat.
Alex naik ke panggung. Ia mengambil kepala ketua kartel, mengawetkannya dengan formalin.
Di ruangan yang terbakar, Alex berkata lirih,
“Aku akan membebaskan rasa sakit kalian… dengan caraku sendiri.”
Ia menembak tong-tong bensin di setiap sudut.
“Semoga kalian tahu rasanya kebebasan.”
Alex kini duduk di atas atap.
Di sekelilingnya—mayat-mayat tersalib, tubuh terkuliti, kepala menjadi tengkorak.
Api membara di bawah.
Alex terdiam, menatap matahari terbit.
Seluruh kerja kerasnya selesai.
Namun di dalam dadanya…
yang tersisa hanyalah kehampaan.
Pukul 05.30 pagi.
Langit masih berwarna abu-abu, asap tipis menggantung di udara. Di atas atap sebuah gedung yang telah hangus terbakar, seorang remaja berusia lima belas tahun duduk diam. Kakinya menggantung di tepi atap, tubuhnya kotor oleh debu dan jelaga, matanya kosong menatap cakrawala.
Seharusnya, di usia seperti ini, ia menikmati masa mudanya.
Sekolah. Teman. Tawa.
Bukan darah.
Bukan mayat.
Namun hidup tidak memberinya pilihan itu.
Alex telah membunuh banyak orang. Orang-orang yang bahkan tidak ia kenal namanya. Wajah-wajah asing yang kini hanya tersisa sebagai bayangan dalam ingatannya. Setiap nyawa yang jatuh menambah beban di dadanya—beban yang terlalu berat untuk tubuh remaja seusianya.
Dan anehnya…
Alex tetap tenang.
Bukan karena ia kuat.
Melainkan karena ia sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.
Ia sadar, dosa yang ia bawa terlalu besar. Masa lalu yang terus menghantuinya seperti bayangan busuk yang tak bisa dihapus. Tapi Alex tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam ratapan. Ia belajar bertahan. Ia belajar menjadi tangguh—bahkan sebelum tahu bagaimana caranya menjadi dewasa.
Ia bahkan sudah lupa…
bagaimana caranya menangis.
Alex menginginkan kesempurnaan. Dunia yang rapi. Hidup yang lurus.
Namun ia tahu, ia sudah terlalu jauh tersesat.
Bayangan masa lalu kembali muncul di kepalanya—masa lalu yang menjijikkan. Saat ia tidak mendengarkan perkataan orang tuanya. Saat ia durhaka kepada ayah dan ibunya. Saat ia menghancurkan dirinya sendiri sedikit demi sedikit.
Ia menunduk.
Cahaya pagi memantul di reruntuhan bangunan, menyerupai kilauan pahit di antara puing-puing kenangan.
Ia masih dihantui semuanya.
Ia bahkan tidak sempat meminta maaf.
Ibu.
Ayah.
Kakaknya.
Dulu, hidupnya masih normal. Ia bisa tidur dengan nyaman. Bangun tanpa rasa takut. Tanpa beban.
Lalu kenapa…
kenapa hidupnya berubah menjadi sekejam ini?
“Apakah aku yang terlalu kejam pada dunia…”
“atau dunia yang tak lagi peduli padaku…?”
Pertanyaan itu berputar tanpa jawaban.
Ia ingat bagaimana dirinya jarang pulang ke rumah. Tangan kanannya sering menggenggam botol bir, padahal usianya baru sebelas tahun. Usia di mana seorang anak seharusnya masih membutuhkan bimbingan orang tua—bukan gelapnya malam.
Namun Alex memilih dunia lain.
Judi game.
Diskotik.
Wanita-wanita palsu yang hanya tersenyum demi uang.
Di usia itu…
ia sudah menanggung utang sepuluh juta.
Jumlah yang tidak kecil. Terlalu besar untuk seorang anak yang bahkan belum mengerti arti tanggung jawab. Ia pulang ke rumah dalam ketakutan, dikejar penagih utang. Hingga suatu hari, ayahnya—orang yang seharusnya melindunginya—menatapnya dengan mata penuh amarah.
Saat itu Alex yakin…
ayahnya lebih memilih membunuhnya daripada terus menanggung malu.
“Kenapa…?”
“Bukankah aku ini anakmu…?”
Tubuh Alex gemetar. Ia bangkit, lalu tanpa sadar membenturkan kepalanya ke lantai. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Hingga darah mengalir dan membentuk genangan merah gelap.
Ia menatap genangan itu.
Dan di sana…
ia melihat dirinya yang dulu.
Menyedihkan. Rusak. Tak berguna.
Ia menyamakan dirinya dengan kotoran—sesuatu yang tidak pantas hidup di dunia ini.
Ia terus membenturkan kepalanya, seakan berkelahi dengan masa lalu. Namun semakin ia melawan, semakin ia lelah.
“Aku harus bersandar ke siapa…?”
Ibunya—yang selalu melindunginya dari amarah ayah—sudah tidak ada di hadapannya.
Kakaknya—tegas, cantik, dan kuat—juga tidak di sini.
Dan ayahnya…
bersandar padanya sama saja dengan menunggu kematian.
“Apakah aku harus bersandar kepada Tuhan…?”
“Atau Tuhan pun sudah muak dengan anak durhaka sepertiku?”
“Tuhan mungkin bingung…”
“harus menganggapku manusia atau iblis.”
“Bahkan iblis pun mungkin menolakku…”
“takut harga diri mereka hancur karena disamakan denganku.”
Lalu…
apakah ia manusia?
Manusia adalah makhluk sosial. Manusia saling menolong.
Sedangkan dirinya…
Ia teringat seorang nenek yang ingin menyeberang jalan.
Alih-alih membantu, ia malah menendang dan menghina wanita tua itu, menyebutnya tidak berguna.
“Kalau begitu…”
“aku ini apa…?”
Teriakan keluar dari tenggorokannya.
“AAAAAA—!!!”
Air mata tak keluar. Hanya kelelahan.
“Bisakah Tuhan memberiku kesempatan kedua…?”
Ia mencoba menerima masa lalunya. Namun semuanya terasa sia-sia. Misi yang ia kira akan berjalan sempurna justru menghancurkan segalanya. Ia terjebak—bukan hanya di tempat ini, tapi di dalam pikirannya sendiri.
Dan akhirnya…
ia mengambil keputusan.
“Aku akan membuangnya…”
“Masa laluku.”
“Emosiku.”
“Semuanya.”
Alex duduk mematung. Matanya tak berkedip selama satu jam penuh. Darah dari kepalanya terus mengalir, seperti air mata yang tak pernah ia keluarkan—indah, tapi menyakitkan.
Tiba-tiba…
sebuah suara lembut terdengar dari belakang.
“Anakku…”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Tubuh Alex menegang.
Sepasang tangan memeluknya dari belakang.
“Ibu…?”
Ia gemetar.
“Kenapa ibu ada di sini…?”
“Sudahlah,” jawab suara itu lembut.
“Kamu anak laki-laki yang kuat. Kamu mirip ayahmu.”
“Jangan hancurkan dirimu sendiri. Jadilah dirimu apa adanya.”
“Tapi, Bu—”
“Tidak,” potong ibunya lembut.
“Jangan salahkan dirimu sendiri.”
“Ini kesalahan kami… karena gagal membimbingmu.”
“Bu…”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Alex menangis.
Tangis yang keras. Pecah. Seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan merasa lemah.
“Kamu anak terkuat ibu,” bisik ibunya.
“Jangan menangis lagi, ya…”
Alex mengusap air matanya. Ia berdiri. Tatapannya berubah—tidak lagi kosong.
“Aku…”
“Aku akan kembali.”
Dan dengan suara dingin, ia berkata:
“Aku akan membalas dendam.”