012

1004 Kata
Alex menyerang beberapa penjaga dengan pisau dan pistol. Gerakannya brutal, efisien, dan tanpa ragu. Tubuh-tubuh jatuh satu per satu, dan penjaga lain yang menyaksikannya langsung diliputi ketakutan akan kegilaan yang ia tunjukkan. Namun di tengah p*********n itu, Alex menyadari sesuatu. Jika misi ini diselesaikan terlalu cepat… itu tidak akan seru. Beberapa saat kemudian, lima anggota Number berhasil masuk melalui pintu belakang. Begitu mereka tiba, langkah mereka terhenti seketika. Alex duduk santai di atas tumpukan mayat, sebatang rokok terselip di bibirnya, asap mengepul perlahan. “Sepertinya kalian sudah tiba,” katanya datar. “Kalian lama sekali.” “Maafkan kami, Kapten,” jawab salah satu dari mereka. “Musuh yang menghadang cukup banyak.” Alex mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Kalian jaga bagian bawah. Aku ke lantai dua. Paham?” “Siap, Kapten.” Alex menaiki tangga menuju lantai dua. Langkahnya bergema pelan hingga ia tiba di sebuah ruangan besar dengan pintu yang dilapisi emas. Ia menyeringai tipis. “Tak kusangka keluarga pedagang bisa punya uang sebanyak ini.” Dari dalam ruangan terdengar suara balasan. “Aku juga tak menyangka akan ada seseorang yang berani masuk ke wilayah kami.” Alex tertawa pelan. “Wilayah kalian?” “Ini wilayahku. Kalian hanyalah keroco yang kebetulan hidup di dalamnya. Paham?” Seorang pria melangkah maju. “Kalau begitu, biar kuperkenalkan diriku. Namaku Ares. Aku tangan kanan Madam. Aku adalah salah satu ciptaannya yang terkuat.” Alex mendengus. “Orang sok kuat selalu membuatku muak.” “Ingat kata-kataku ini, lalu sampaikan pada Madam bodohmu.” Ia melangkah lebih dekat. “Setiap wilayah punya rajanya sendiri. Raja itu mengatur tanah dan hukumnya. Dan jika ada keroco sepertimu yang berani bersinar di wilayah kami… maka kalian pantas menerima akibatnya.” Wajah Ares mengeras. “Kalau begitu, lihatlah mahakarya Madam,” katanya sambil mengaktifkan armornya. “Armor Spider Legs. Empat lengan laba-laba. Aku akan membunuhmu dengan ini.” Alex langsung menyerang dengan pisau, namun serangannya ditahan dengan mudah oleh lengan-lengan mekanis itu. Ia mundur, lalu menembak bertubi-tubi. Ares membaca gerakannya dengan cepat. Dengan armornya, ia melompat dan bergantung di berbagai sudut ruangan, bergerak lincah seperti laba-laba. Alex mulai kerepotan. Setiap celah yang ia cari tertutup. Setiap serangan diblokir. Ares melihat kesempatan dan menusuk ke arah Alex dengan salah satu lengan spider-nya. Alex melompat menghindar, namun serangan berikutnya datang bertubi-tubi, memaksanya bertahan di udara. Alex menggeram kesal. Namun bukan Alex namanya jika tak punya cara sendiri. Di udara, ia memutar tubuhnya. Serangan Ares hanya mengenai sebagian kecil tubuhnya—tidak fatal. Melihat celah, Alex melempar pisau sebagai pengalihan. Ares menghindarinya dengan mudah, namun— Alex menghilang. Dalam sekejap, Alex sudah berada di belakang Ares. Ia menghantam kepala Ares dengan gagang pistolnya. Bawahan Ares terkejut. “Cih,” gumam Alex. “Kukira kau bisa menemaniku bersenang-senang. Ternyata cuma bersembunyi di balik armor.” Tubuh Ares terhempas. Alex mengangkatnya dan melemparkan mayat itu ke arah bawahannya. Mereka membeku ketakutan. Tanpa peduli, Alex melempar sebuah bom rakitan—bom lama ciptaannya sendiri. Ledakan dahsyat mengguncang gedung. Dalam sekejap, kediaman keluarga Deer Enthusiast hancur. “Kapten! Apa yang kau lakukan?!” “Kenapa kau meledakkan bangunan itu tiba-tiba?!” Alex menjawab santai, “Aku hanya mencari alternatif.” “Kau hampir membunuh kami yang masih di dalam!” Tanpa menjawab lagi, mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap. “Kapten, apa langkah kita selanjutnya?” tanya 01. “Kita tunggu,” jawab Alex. “Kita butuh informasi dari Dark Spotter sebelum bergerak lagi. Kalian istirahat.” Beberapa menit kemudian, pesan masuk. Misi akan dilanjutkan dalam beberapa jam. Paling lambat besok pagi, Kapten. “Sebarkan ke yang lain,” kata Alex. “Siap.” Mengetahui misi berikutnya ditunda, anggota Number akhirnya bersantai, menikmati fasilitas hotel bintang lima itu—liburan singkat di antara p*********n. Di balkon kamarnya, Alex berdiri sendirian. Rokok di tangannya menyala pelan, secangkir kopi hangat di sisi lain. Untuk sesaat, hidup terasa tenang. Walau ia tahu— ketenangan ini tidak akan bertahan lama. Malam berlalu tanpa insiden. Lampu kota Washington terlihat kecil dari balik jendela kamar hotel. Suara lalu lintas terdengar jauh, teredam oleh kaca tebal dan kemewahan yang memisahkan dunia luar dari tempat mereka berada sekarang. Alex duduk di kursi balkon, rokoknya tinggal separuh. Asap tipis naik perlahan, bercampur dengan udara malam yang dingin. Tenang… terlalu tenang. Ketenangan seperti ini selalu berarti satu hal: badai berikutnya sedang menunggu giliran. Ketukan pelan terdengar di pintu. “Masuk.” 01 melangkah masuk dengan wajah serius. “Kapten. Ada update.” Alex tidak menoleh. “Baca.” “Dark Spotter mengonfirmasi. Ledakan tadi berhasil memancing perhatian internal keluarga Deer Enthusiast. Tapi itu bukan markas utama mereka.” Alex tersenyum tipis. “Tentu saja bukan.” “Mereka memindahkan pusat operasi ke Eropa Timur. Madam tidak berada di Washington. Ares hanyalah umpan… dan penjaga pintu.” Rokok Alex padam di asbak. “Nama lokasi.” “Polandia,” jawab 01. “Sebuah kota kecil, tapi terkunci. Mereka menyamar sebagai jaringan logistik legal. Namun di bawahnya—pelelangan organ, transaksi informasi, dan penyimpanan data World’s Dark Transactions.” Alex berdiri. “Bagus.” 01 terdiam sesaat. “Kapten… setelah Ares mati, mereka pasti sudah bersiap.” “Biarkan,” jawab Alex datar. “Aku justru ingin mereka bersiap.” Ia menatap ke arah jendela, ke pantulan bayangannya sendiri di kaca. “Ketika seseorang tahu kematian sedang datang… rasa takutnya lebih manis.” 01 menelan ludah. “Instruksi selanjutnya?” “Kita berangkat besok pagi,” kata Alex. “Kali ini bukan serangan cepat.” Ia menoleh, matanya dingin. “Kita potong satu per satu. Jalur uang. Jalur manusia. Jalur informasi.” “Sampai Madam tak punya tempat untuk bersembunyi.” “Dan jika mereka melawan?” Alex tersenyum—senyum yang sama seperti di medan latihan. “Lebih baik.” 01 memberi hormat. “Siap, Kapten.” Saat pintu tertutup, Alex kembali ke balkon. Ia menuang kopi baru, menyesapnya perlahan. Ares mati dengan cepat. Terlalu cepat. Madam… aku harap kau belajar dari kesalahannya. Karena kali ini, aku tidak datang untuk bersenang-senang. Aku datang untuk menutup sebuah keluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN