Pram meletakkan alat makannya kasar hingga denting sendok dengan piring membuat Gita sadar ia telah salah ucap. Tanpa mengatakan apa pun lagi Pram segera bangkit. Ia mendorong kursinya kasar dengan bagian dalam lutut lalu melangkah meninggalkan Gita. Wajah gadis itu memucat. "Sayang!" Ia berusaha menghentikan langkah Pram dengan meraih pergelangan tangannya. "Jangan sentuh saya!" Pram menggeram sembari menghempaskan genggaman tangan itu. Tatapannya kembali dingin laksana sebongkah es balok. Gita terkejut bukan main. Ia sama sekali tidak menyangka akan reaksi Pram. Tanpa bisa dicegah, kelopak mata gadis itu memanas dengan tiba-tiba. "Tolong jangan salah paham. Maksud aku ...." "Kamu pulang lah!" usir Pram datar. Ucapan yang seketika membuat hati Gita porak-poranda. "Maaf." Bia

