Setelah bangun dari istirahat siangnya, Christa langsung ke dapur. Dia memerhatikan wajah Darren yang masih tidur pulas sambil tersenyum. Gadis itu mulai merasa lapar tetapi tidak ada makanan yang sudah masak. Yang ada, hanyalah bahan mentah yang ada di kulkas. Christa menghela napas sambil mengambil beberapa sayuran untuk di masak. Dia sebenarnya tidak bisa memasak, tapi dia ingin mencobanya. Padahal dia lapar dan ingin langsung makan. Pengennya mesan langsung, tapi David bilang kalau Christa beli apapun, maka dipotong dengan gajinya.
“Dasar tega!” gumamnya sambil memotong-motong sayuran.
“Kakak cantik?” panggil Darren sambil mengucek-ucek matanya khas bocah yang baru bangun tidur.
“Udah bangun? Ayo duduk dimeja makan ya. Kakak akan masak makan malam buat kita.” Sahut Christa sambil tersenyum memandangi bocah ganteng itu.
“Abang udah pulang?” tanya Darren lagi.
“Belum. Kita tunggu aja, ya.” Jawab Christa sambil memasak. Sebenarnya gadis itu ragu dengan masakannya sendiri, tapi dia tetap perlu makan juga. Setelah selesai memasak, Christa langsung menyajikan makanannya di meja makan.
“Ini apa kakak cantik?” tanya Darren.
“Ini adalah capcai buatan kakak Christa yang cantik!” jawab Christa PD aja. Darren hanya mengangguk-angguk lalu mengambil sesendok dari sayuran yang dimasak oleh Christa. Setelah mencicipinya, Darren langsung mengeluarkan lidahnya sambil berkata,” Kak… ini kenapa asin banget?”.
“Keasinan ya? Masa sih?” Christa tidak percaya dan mencicipi sayuran hasil masakannya. Setelah mencicipinya, Christa langsung memuntahkannya di wastafel. “Uweeekk!” Christa memuntahkan makanan buatannya sendiri.
Darren kemudian tertawa geli melihat reaksi Christa terhadap masakannya sendiri. “AHAHAHAHA! Kakak cantik kalah dong sama Bang Dave!”. Mendengar dia dibanding-bandingkan dengan seorang pria, membuat Christa kesal sendiri. Christa langsung saja mengambil jalan pintas dengan memasak mie instan. Melihat Christa membeli mie instan di warung membuat Darren langsung berujar,” Kakak cantik, abang Dave bilang kita gak boleh makan yang begituan.”
Mendengar ujaran anak kecil itu, Christa memutar bola matanya lalu berkata,” Ini enak lho, Darren sayang! Nanti kamu rasain deh!”. Mendengar itu Darren membalas,” Kata abang, itu banyak micinnya”.
“Enggak juga! Sesekali gak masalah kok!” Christa menjelaskan lagi.
Darren mah cuma anak kecil, dia hanya bisa mengangguk dan menuruti Christa saja. Setelah itu, Christa memasak mie instan dengan cepat dan wanginya memang sangat menggoda. Darren yang disajikan mie instan langsung menyantapnya dengan lahap. Begitu pula dengan Christa yang akhirnya bisa langsung makan sore dengan tenang.
“Aku pulang!” suara David terdengar dari luar.
“Abang!” teriak Darren setelah menghabiskan mie instannya. Dia turun dari kursinya dan datang menyamperin David seperti seorang anak yang menyambut kepulangan papanya.
“Darren? Kamu baru makan?” tanya David melihat pipi dan sudut bibir adik kecilnya itu comengan. Sontak, dia langsung berjongkok dan mengambil tisu basah di tasnya. Dia membersihkan comengan yang ada di muka adiknya itu.
“Kalian masak apa? Kak Christa bisa masak, ya? Syukurlah.” Tanya David lega mengetahui adiknya sudah makan. Tadinya, dia sengaja pulang cepat untuk memastikan adiknya memang sudah makan atau belum. “Iya bang! Kakak cantik masak mie! Lasanya enakk!”. Seketika jawaban Darren membuat David langsung merasa seperti tersambar petir. Mie instan adalah makanan paling pantang dalam lingkup kehidupan seorang dr.David.
Langsung saja, dia berdiri dan berjalan ke dapur. Dia bisa melihat Christa sedang mencuci piring yang menandakan bahwa gadis itu baru saja selesai makan. Dengan santainya, gadis itu bersenandung ria melakukan pekerjaannya. Langsung saja, David memanggilnya dengan nada menakutkan, “Christa!”.
“Ah iya! Apaan Pak? Eh Dave?” Christa menyahut dengan agak terkejut.
“Masak apa tadi?” tanya David dengan nada mengintimidasi dan ekspresi menakutkan. Christa jadi agak gemetaran sambil menjawab, “M-mie instan”.
Mendengar itu, David langsung berjalan mendekati Christa dan memukul meja makan. ‘BRAK!’ dan tentu saja hal itu membuat Christa terkejut bukan main. Wajah gadis cantik itu langsung pucat melihat kali ini David benar-benar marah. Catat guys, benar-benar marah. “A-ampun Pak Dave.” Christa mencicit.
“Kamu tahu apa saja yang terkandung di dalam mie instan, hah?! Banyak pengawet dan penguat rasa berbahan kimia! Kalau kamu gak bisa masak, lain kali take away aja! Mengerti!” jelas David dengan kesal dan dengan nada marah pada Christa.
Lalu, pria itu memasak makan malamnya sendiri, setelah itu dia memanggil adiknya, “Darren! Ayo makan lagi! Kamu harus meminimalisir kadar racun dari mie instan itu.”
“Lebay amat, sih! Sekali doang gak separah itu!” sosor Christa tak terima dengan sikap David yang terlalu berlebihan menurutnya.
“Dayen kenyang, bang!” Darren menggeleng tidak mau makan lagi. Mendengar adiknya sudah tidak mau makan lagi, David hanya menghela napas sambil memakan masakannya.
Sejak kecil, David suka membantu mamanya memasak. Dia sudah dibiasakan dengan budaya hidup sehat dan lebih banyak mengonsumsi sayuran. Apalagi, setelah masuk kuliah kedokteran, dia jadi tahu makanan yang layak konsumsi dan tidak layak menurutnya. Dia sangat anti dengan makanan seperti bakso, mie instan ataupun jajanan yang banyak micin dan pewarnanya. Dia sudah belajar betapa berbahayanya kandungan pengawet dan perasa yang banyak dicampur dengan bahan kimia bagi tubuh.
Tetapi Christa malah sebaliknya. Sejak kecil, papanya selalu memanjakannya. Christa tidak pernah mengenal seorang ibu sejak dia lahir, karena ibunya sudah meninggal saat melahirkannya. Tentu saja, gadis itu sangat bebas dan tidak peduli soal apapun yang dia konsumsi asalkan enak dimulut. Dia paling suka bakso dan beberapa jenis jajanan pinggiran. Dia juga hobi masak mie instan karena rasanya sedap dan masaknya gampang.
“Baiklah kalau begitu, hari ini Darren cepat tidur! Christa, temani Darren tidur lalu setelah itu datang ke hadapan saya.” Suruh David pada Christa. Gadis itu hanya mengangguk sambil mengajak si balita ganteng itu tidur malam.
“Kakak cantik, Dayen belum mau bobo.” Darren masih belum mengantuk.
“Kakak bacain dongeng ya?” tawar Christa sambil mengambil beberapa buku dongeng di lemari kamar Darren. Tapi bocah itu malah menggeleng keras.
“Jadi kamu mau ngapain?” tanya Christa bingung dengan sikap bocah satu ini.
“Nonton, yuk!” ajak David langsung diangguki oleh Christa. Mereka ke ruang tamu lalu menghidupkan TV LED dan memasang siaran kartun untuk anak-anak.
“Ganti!” suruh Darren dan Christa langsung mengganti ke siaran lainnya. Kini ada siaran untuk mengedukasi anak-anak, tapi Darren berujar lagi,” Ganti!”.
Mendengar itu, Christa hanya memutar bola matanya bosan. Dia terus mengganti siaran di TV tapi tidak ada yang pas untuk si balita ini. Sampai setelah beberapa kali mengganti, akhirnya pilihan Darren jatuh pada sebuah sinetron.
“Ini dia! Ikatan cinta!” Darren menunjuk siaran pilihannya. Mendengar itu, Christa terbelalak karena terkejut dengan tontonan pilihan bocah itu. “Kok nonton ginian, sih?” protes Christa.
“Iya kak! Disini ada selingkuhan Dayen. Namanya Leyna! Kakak cantik jangan cembulu ya!” jawab Darren membuat Christa langsung sweetdrop dan menepuk jidatnya sendiri.
‘Dari mana bocah lima tahun mengerti soal pacaran dan selingkuhan? Bocah milenial zaman sekarang sangat meresahkan ya, bun.’ Batin Christa sambil geleng-geleng kepala.
Akhirnya, Christa juga ikutan menonton juga. Dia yang baru nonton sinetron itu malah ikutan baper. Dia gemas dengan cowok tsundere seperti mas Al dan dengan Andin yang sangat agresif. Dia jadi sama aja dengan Darren yang menjadikan sinetron sebagai tontonan. Padahal sebelumnya, Christa banyaknya sih nonton Drakor. Setelah sinetronnya abis, Darren sudah terlelap tanpa Christa sadari.
“Woahh! Baru ini aku nonton sinetron yang baperin kayak drakor. Besok ikutin lagi ah! Okay Darren! Ayo kita bobo!” ujar Christa sambil melihat Darren yang sudah tertidur pulas di sofa. Christa hanya tersenyum gemas melihat bocah kecil itu lalu menggendongnya kekamarnya. Gadis itu menyelimuti Darren dan mengusap pelan kepala anak itu.
“Selamat tidur, Darren.” Bisik Christa lalu langsung keluar dari kamar Darren. Baru saja menutup pintu, Christa sudah disuguhi pemandangan David yang duduk dengan gaya bossy di sofa sambil menatapnya kesal. Ini sih bukan pemandangan kali ya?
‘Ternyata dia masih kesal.’ Batin Christa mulai was-was.
“Ta-tadi kami baru nonton Dave, eh Pak. Ta-tapi sekarang Darren sudah tidur, kok.” Ujar Christa agak gugup melihat ekspresi wajah David yang agak menyeramkan.
“Ini!” David menyerahkan sebuah kertas dan langsung di terima oleh Christa.
“Apaan nih?” tanya gadis itu sambil membuka isinya. Matanya langsung terbelalak melihat isi kertas itu yang adalah daftar pekerjaan yang harus dia lakukan. Juga ada peraturan yang tidak boleh dia lakukan.
“Kok kerjaan aku jadi banyak banget gini? Perjanjiannya kan, kerjaan rumah kamu yang bantu.” Protes Christa tak terima.
“Kalau gak mau juga tak apa. Aku bisa cari ART dan babysitter baru.” David berujar santai.
“Ishh! Gak boleh gitu dong! Aku cuma gak masak, tapi menyapu, mencuci, mengepel, membersihkan debu, dan belanja jadi kerjaanku? Aku kan cuma babysitter!” Christa masih gak terima dan berusaha membela haknya.
“Begini ya, ternyata setelah kuperiksa, jadwal praktekku sangat padat sampai lima hari kerja. Mana ada waktu untuk melakukan pekerjaan rumah. Kalau soal memasak, kalian bisa take away, aku yang akan pesankan. Toh juga kamu gak ngapa-ngapain disini. Kalau Darren tidur, kamu malah ikutan tidur. Kayak nyonya aja.” Jelas David.
“Ka-kalau begini, gajiku harus tambah!” pinta Christa membuat David menyeringai,” kamu aja masih ada hutang sama saya. Enak aja main tambah-tambah gaji! Kalau kamu gak mau ya sudah, cabut saja sana!”. Dengan mudahnya David membuat Christa membatu.
“Ba-baiklah.” Cicit Christa pelan sebagai persetujuan.
Dia juga berpikir kalau seandainya dia pergi, maka ayahnya akan menemukannya dan tanpa pikir panjang menikahkannya dengan sembarang pria. Dia masih mau hidup bebas walau sekarang malah jadi ART plus babysitter. Tapi disisi lain, Christa bersyukur juga. Karena David gak pernah macam-macam dengannya selama 2 hari ini.
‘Bukan gak pernah sih, tapi belum.’ Christa membatin meluruskan pemikirannya.
“Kalau begitu, kamu bisa langsung tanda tangani kontrak ini. Saya akan pekerjakan kamu selama 3 bulan dulu. Nanti kalau cocok, saya akan tambah kontraknya.” Kata David sambil menyerahkan secarik kertas yang adalah kontrak kerja. Gadis itu mengambil pulpen dan menanda tangani kontrak itu.
“Ini, pak! Tapi, saya bisa menuntut Bapak kalau seandainya terjadi apa-apa pada saya, ya!” ucap Christa setelah menanda tangani kontrak itu membuat David mengernyit bingung, “Maksud kamu terjadi apa-apa gimana?”.
“Bapak gak boleh bertindak asusila! Kalau saya sakit, wajib dirawat! Tidak boleh ada penyiksaan atau p********n!” Christa menjelaskan maksudnya membuat David menepuk jidatnya sendiri.
“Christa, jangan mimpi ya kalau saya selera sama kamu. Soal kamu sakit, tenang saja! Saya ini dokter dan lagi, saya ini tahu kok batasan kemanusiaan! Jangan ajari saya! Yang penting, lakukan pekerjaan kamu dan saya akan gaji kamu.” Jawab David dengan remeh.
“Masa iya? Berarti bapak gak normal dong kalau gak tertarik sama perempuan. Apalagi setiap hari bertemu. Saya jujur aja ya, Bapak itu bukan tipe saya! Cerewet, sok pintar, tukang ngatur, marah-marah, pokoknya ngeselin deh!” ujar Christa gak terima David meremehkannya. Lalu David memicing pada gadis itu dan berjalan mendekatinya. Dia kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga gadis itu dan berkata,”Ada masalah kalau saya tidak tertarik pada wanita?”.
Setelah itu David beranjak menjauhi Christa dan masuk ke kamarnya. Gadis itu masih membatu setelah mendengar kalau David ternyata tidak tertarik pada wanita. “Apa dia itu… homo?” gumam Christa mencicit.