19

1635 Kata

--  Kesempurnaan itu dikacaukan dengan kruk. Sebenarnya Mika tidak mempermasalahkannya dari pada ia berjalan timpang tanpa pegangan. Namun Ina menggerutu karena penampilan Mika seharusnya sempurna seandainya tidak ada kruk.  Ina menggandeng Mika menuju ke rumah induk. Semakin mereka mendekati rumah itu, semakin nyali Mika menciut. Ia teringat dengan pertemuannya dengan Faisal, pria yang bagaikan tengkorak hidup, berteriak mengusirnya.  Mika tidak cukup siap namun malam ini ia harus hadir dalam pertemuan keluarga. Mereka berdua berdiri di depan pintu Rumah Induk yang tertutup. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum pukul delapan tepat, rasanya Mika ingin balik badan dan kabur dari depan pintu itu. "Ayo, Non." Bisik Ina. "Non Mika pasti bisa!" Mika bersyukur karena ada Ina di sampingnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN