"Kenyang ya makan itu doang?" Tegur Henry ketika Mika lebih dulu selesai makan. "Hah?" Mika menyeruput teh es tawarnya. "Ya terserah aku dong." Katanya, agak sewot karena tidak suka Henry menegur porsi makan siangnya yang terlalu sedikit. Henry mendengus lalu menggeleng-gelengkan kepala. Menyuap lebar-lebar makan siang porsi jumbonya dengan gerakan berlebihan, seperti ingin memamerkan betapa nikmatnya ia makan kepada Mika. Mika meringis melihat isi piring Henry. Nasi yang digoreng dengan minyak. Wah, luar biasa. Henry memang anak ajaib. Makan karbohidrat seberapa banyak pun tubuh Henry tetap sempurna. Bahkan makanan berminyak tidak akan mampu menumbuhkan jerawat di wajah pria itu. "Kamu pulang ke rumah itu lagi ya?" Tanya Henry. Mika merasa Henry sengaja makan dengan lambat, sementara

