--
Laurie datang bersama Nadia sebelum makan siang ke kamar Mika. Kali ini Laurie memasangkan perban ke pergelangan kaki Mika dengan alasan agar bengkak di kaki Mika tidak bertambah parah.
Sebagaimana seorang dokter yang sudah berpengalaman, Laurie tetap bersikap tenang dan ramah pada pasien dadakannya itu. Sementara Nadia memainkan peran seorang Ibu yang kelewat khawatir pada keadaan putrinya, dan itu memuakkan bagi Mika.
"Sebenarnya aku sudah meminta Gerald untuk datang memeriksa kamu, tapi sepertinya... Yah," dengan terang-terangan Laurie menunjukkan kekecewaan terhadap putra sulungnya yang rupanya juga menempuh studi yang sama dengan sang ayah sebagai dokter.
Tidak heran bagi Mika, meski ia hanya baru pertama kali bertemu dengan Gerald tadi, ia sudah bisa memahami sifat pemuda itu yang angkuh.
"Tidak apa-apa, Mas Laurie..." Nadia berkata lembut, seolah memiliki kesabaran yang luar biasa dalam memaklumi seorang pemuda angkuh sok kaya seperti Gerald. "Gerald mungkin masih kaget dengan kedatangan Mika."
Mika menahan ekspresi muak di wajahnya, yang sangat ingin ia tunjukkan dengan ekspresi muntah. Namun ia berhasil menahan ekspresi datar di wajahnya.
Laurie hanya menghela napas. Ia tampak enggan menyebut putra sulungnya lagi.
"Adik tiri saya juga seorang mahasiswa kedokteran," kata Mika tanpa sadar. Entah mengapa dia menyukai Laurie. Seorang dokter, begitu kebapakan dan tenang, serta berbicara dengan gaya bijak yang tidak merendahkan siapa-siapa. Terbersit pikiran jika ayah kandungnya mungkin mirip dengan Laurie.
Tapi Laurie tidak meninggalkan putra dan putrinya. Laurie hidup sebagaimana seorang laki-laki. Menikah dan punya anak. Kemudian menyekolahkan anak-anaknya.
Sementara Mika, dia ditinggalkan. Dibuang. Lalu dipungut kembali seolah pembagian warisan adalah cara sang ayah kandung dalam menebus dosa kepadanya. Tentu sang ayah kandung yang tidak bertanggung jawab itu tidak seperti Laurie.
"Oh ya?" Laurie tampak tertarik. "Adik tiri?"
"Adik tiri?" Nadia juga mengerutkan dahi, ekspresinya tampak terkejut.
Mika menyadari ia seharusnya tidak menyebut Henry di sini.
"Universitas mana?" Tanya Laurie, masih menunjukkan ketertarikan pada adik tiri Mika.
"Eh... Eum..." Mika tidak yakin harus menjawab.
"Tidak apa-apa," Laurie seperti mengerti apa yang ada di dalam kepala Mika. "Saya hanya ingin tahu. Saya tidak bermaksud apa pun. Semua mahasiswa kedokteran adalah putra bangsa penerus kami di fakultas kedokteran mana saja."
Mika mengangguk ragu. "Namanya Henry. Dia di Universitas Padjajaran."
"Oh!" Laruie tampak terkejut. "UNPAD? Wah, tak disangka ya, adik tirimu satu fakultas dengan Gerald! Siapa namanya tadi? Henry? Oh, aku akan mengeceknya nanti."
Wah. Sebenarnya Mika tidak begitu mempercayai takdir yang bersifat kebetulan ini. Bagaimana bisa Adik tirinya satu fakultas dengan adik sepupu yang baru ia kenal hari ini?
"Wah, sungguh menarik! Sangat menarik!" Kata Laurie yang masih bersemangat mendengar keterkaitan yang ia temukan antara keluarga Angkasa dengan keluarga Mika di luar sana.
Bunyi dering telepon mengejutkan mereka bertiga. Nadia bergegas mengangkat telepon. Entah apakah memang sudah sewajarnya, Mika dan Laurie memutuskan tidak bercakap-cakap lagi dan lebih memilih menunggu Nadia selesai berbicara kepada si penelepon. Nadia hanya menjawab "ya" dan "terima kasih" saja sebelum menutup telepon.
Nadia kembali mendekati ranjang dengan wajah cantiknya yang berseri-seri. "Makan siang sudah siap." Ia memberitahu.
Mika menelan ludah gugup. "Makan siang" yang disebut Nadia bagaikan suatu hal yang mengerikan bagi Mika (meski ia sudah kelaparan sekali). Itu artinya semua orang akan berkumpul di sana. Semua orang asing ini. Penderitaan Mika belum saja selesai sejak dia bangun dengan terburu-buru, tidak sarapan, perjalan jauh yang menggelisahkannya, tidak ada yang menyambutnya di gerbang, hingga ia terperosok masuk ke dalam lubang yang digali untuk pondasi patung ayah kandungnya hingga membuat kakinya terkilir menyakitkan.
"Nah, mari." Laurie segera berdiri lalu mengambil kruk, benda yang akan digunakan Mika untuk membantu Mika dalam berjalan agar seimbang.
Mika memandang horor pada kruk itu. Ia masih belum bergerak dari ranjang.
"Ada apa, Mika?" Tanya Nadia, tampak heran karena Mika malah terdiam.
"Eh, nggak..." Mika tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau bisa, dia ingin menjadikan kakinya yang terkilir sebagai alasan untuk tidak perlu turun dan bergabung dalam "makan siang" itu.
"Semua orang sudah menunggu kamu," kata Nadia. Ia berkata begitu lembut namun bagi Mika, Nadia seperti sedang memberikan ancaman kepadanya, apabila dia tidak turun maka dia akan mengecewakan sekelompok orang asing yang sudah menunggunya di sana.
Mika memaki di dalam hati. Ia tidak mengerti mengapa ia harus menjaga perasaan orang-orang asing itu sementara ia harus berkorban meruntuhkan pertahanan egoisme-nya, menunjukkan diri dalam keadaan terburuknya. Kaki terkilir. Seorang anak buangan yang tidak pernah diakui oleh sang ayah kandung kaya raya kini diundang secara resmi untuk tinggal dan mendapatkan sebagian harta warisan.
"Tidak apa-apa, Mika," Laurie lebih sukses dalam membujuk Mika daripada Nadia. Sifat kebapakan Laurie berhasil membuat Mika bergerak turun dari ranjang. Dengan sigap Nadia sudah membantunya, lalu Mika berdiri dengan sebelah kruk yang disanggakan di bawah ketiak kanannya.
"Bisa nggak, Mika?" Tanya Nadia.
Mika mengangguk. Ia mulai berjalan dan bodohnya ia memaksakan kaki kanannya yang terkilir untuk menginjak lantai. Gerakan dan tumpuan singkat itu berhasil membuat nyeri yang luar biasa di sepanjang syaraf kaki kanannya. Untunglah dia tidak mengerang menunjukkan kebodohannya itu. Ia bertahan dengan menggigit bibir, menahan rintihan yang membuatnya wajahnya panas dan pasti sudah merah membara.
"Jangan dipaksakan," kata Laurie, memahami reaksi Mika dengan baik. "Bertumpulah pada kruknya saja." Sarannya dengan nada bijak.
Mika mengangguk, wajahnya sudah pasti merah padam karena ketahuan bertindak bodoh oleh sang dokter.
"Ayo?" Tanya Nadia, di balik sifatnya yang lembut dan ramah, Mika merasakan dorongan tidak sabar dari wanita yang sebaya dengannya itu.
Mika mengangguk, ia pun berjalan dengan sebelah kaki bertumpu pada kruk.
Mika mengalami masa-masa menyakitkan yang luar biasa panjang. Ia harus menyusuri lorong panjang untuk mencapai dapur. Laurie sudah berjalan lebih dulu setelah bertanya berkali-kali apakah Mika baik-baik saja. Dan berkali-kali pulalah Mika menjawab jika dia baik-baik saja. Nadia pun menjadi sekutunya dan meyakinkan sang dokter akan membantu Mika. Maka sang dokter pun berlalu lebih dulu. Sementara Mika harus berjuang berjalan dengan kruk dan dibantu Nadia.
Karena kedekatan itu, Mika sudah hapal wangi parfum dan aroma lotion yang digunakan Nadia. Aromanya bercampur menciptakan aroma yang manis dan tidak menyengat namun terasa mewah. Mika tidak dapat mendeskripsikannya karena ia tidak pernah menghirup aroma dari produk ini.
Sepanjang lorong diselimuti oleh udara dingin namun Mika berkeringat karena kelelahan. Rasanya ia ingin merengek dan bertanya dimana pintu ruang makan sialan itu kepada Nadia, namun ia menahan dirinya dan menikmati perasaan merana dan muak sepanjang perjalanannya yang timpang.
"Sudah sampai," Nadia memberitahu dan Mika nyaris saja meneteskan air mata karena rasa nyeri yang pedih di pergelangan kakinya. Mika memandang dua daun pinta besar dihadapannya itu dengan menahan napas lega.
Nadia membukakan daun pintu besar berwarna cokelat mengilap berukir tanaman sulur itu dengan gerakan lambat. Lalu Mika pun menginjakkan kaki melewati ambang pintu, memasuki ruang makan yang dimaki-makinya dalam hati sepanjang perjalanannya di lorong. Seandainya ia tidak timpang, mungkin jarak antara kamarnya dan ruang makan ini tidak seberapa.
Mika terpaku ketika memasuki ruangan yang hening itu. Ya, hening, namun sudah ada banyak orang yang duduk di depan meja persegi panjang yang besar itu, di bangku kanan-kiri, saling berhadapan. Dan Mika sudah mengenali sebagian dari wajah-wajah penghuni rumah ini dari pertemuannya di teras rumah tadi.
Keluarga Laurie duduk di sisi kiri. Laurie, Fleur, Gerald dan si kembar Dana dan Dini. Di seberang mereka duduk seorang wanita dewasa yang dikenal oleh Mika karena telah mendatanginya di kos untuk memberikan undangan resmi dari ayah kandungnya yang sudah meninggal, Lenka. Di sebelah Lenka duduk seorang wanita berpenampilan tertutup dengan kerudung dan cadar hitam.
Mika kembali berjalan dengan tertatih-tatih dibantu oleh Nadia sampai akhirnya ia duduk di kursinya. Nadia pun duduk di sebelah Mika. Di sebelah Nadia, Lenka mengamati Mika dengan ekspresi campuran terkejut dan heran.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lenka.
"Mika jatuh, Mbak," Nadia yang menjawab. Entah sejak kapan seperti menyatakan dirinya sebagai juru bicara Mika. Padahal Mika hanya terkilir pada bagian sebelah kaki saja, bukannya mendadak tidak bisa bicara.
"Jatuh ke lubang yang digali buat pondasi patung Mas Louis."
"Hah?" Lenka menunjukkan ekspresi heran dan tidak yakin. Tentu ia tidak mengerti bagaimana Mika bisa sampai berakhir jatuh di dalam lubang. Bagaikan anak rusa yang polos dan sedang keasyikan bermain lalu jatuh masuk ke dalam perangkap pemburu.
"Nanti aja ceritanya," kata Mika segera, berhasil mengeluarkan suara sebelum Nadia akan menjelaskan panjang lebar insiden kesialan Mika. Dan Mika sudah dapat menebak jika Lenka akan marah besar mendengar cerita itu berasal dari mulut si pelaku sendiri. Karena Nadia lah pelakunya. Nadia lah yang tidak cepat respon memahami perintah Lenka jika Mika akan datang sebelum makan siang, Nadia lah yang tidak menyuruh Nata untuk menunggu di gerbang dan malah menyibukkan Nata dengan lubang pondasi dan patung.
Lenka menghela napas, masih memandang Mika lekat-lekat, mengabaikan senyum jelita Nadia. Ia pun mengangguk mengerti, kemudian berpaling pada kakak laki-lakinya yang duduk di seberang mereka. Ia mengangguk memberikan isyarat pada Laurie.
Laurie pun berdiri, ia berdehem sebelum mengeluarkan kata-kata. Gerakannya itu membuat mereka semua yang berada di bangku meja makan memandang penuh perhatian pada Laurie.
"Baiklah," Laurie berkata setelah ia berdehem dua kali. "Aku sangat bersyukur atas Rahmat dan kehadirat Tuhan yang Maha Esa... Kita, sebuah keluarga yang utuh dan berbahagia, telah berkumpul bersama di sini. Seperti yang sudah diketahui jika Putri almarhum kakak saya, Louis, telah datang bergabung dengan kita semua. Mikaila Novelia Angkasa."
Tepuk tangan yang tidak seimbang antara anggota keluarga yang antusias dengan yang tidak menambah canggung suasana. Hanya Nadia yang antusias. Yang lain tidak. Nadia menyenggol bahu Mika, memberi isyarat yang langsung dipahami oleh Mika untuk segera berdiri.
"Halo. Selamat siang semua." Sapa Mika kikuk. Lucu sekali. Di usia ke-dua-puluh-sembilan, ini pertama kalinya ia menyapa keluarga besarnya. Dulu keluarganya hanyalah dirinya dan Ibu. Kemudian di usia ketigabelas, anggota keluarganya bertambah yaitu Ayah tiri dan Henry. Sekarang keluarganya bertambah lagi semakin banyak di mulai hari ini. "Namaku Mika."
"Kampungan," desis Gerald, pelan namun telak sampai di telinga Mika. Tidak ada yang mendengarkannya selain Mika rupanya, karena semua tampak fokus pada Laurie yang kembali bersiap-siap akan berbicara.
"Terima kasih, Mika. Kami bahagia sekali bisa menemukan anggota keluarga yang hilang. Jika seandainya kami tahu keberadaanmu lebih cepat, tentu kami akan segera menemukanmu. Dan mungkin kamu dapat bertemu dengan Ayah kandungmu sebelum beliau menghela napas terakhirnya."
Laurie tampak sangat sedih ketika menyebut kakak sulungnya itu.
"Sebelum kita menyantap makan siang bersama, aku akan memperkenalkanmu pada anggota keluarga Angkasa," lanjut Laurie. "Perkenalan ini akan dimulai dariku sebagai saudara tertua di rumah ini setelah kematian Louis. Nah, namaku Laurie, aku adalah putra kedua dari Angkasa generasi ketiga. Dan ini istriku Fleur. Anak-anak kami Gerald dan si kembar Dana dan Dini. Kami sekeluarga tinggal di rumah sayap kiri." Ia menjelaskan. "Adik bungsu kami dari ibu yang sama, saudara ketiga, adalah Lenka dan tinggal di rumah sayap kanan. Kami juga punya adik paling bungsu, saudara keempat, dari ibu yang berbeda, namanya Leona dan sedang berada di luar negeri. Tak akan lama Leona akan pulang dan bergabung dengan kita. Leona tinggal bersama Lenka di rumah sayap kanan. Sementara rumah utama di sini, ditempati oleh Nadia, istri muda almarhum Louis. Juga Anita saudara Nadia, dan putra Nadia, Ryan yang baru berusia dua tahun. Mika, sebagaimana tempatnya, akan tinggal pula di bangunan rumah utama."
Mika ingin mengerang di dalam hati mendengar penjelasan Laurie. Dia sangat-sangat tidak ingin tinggal satu rumah dengan Nadia sang istri muda! []