Gerimis mengguyur sebagian wilayah pulau sihir Catherine. Airnya yang dingin membuat Quintessa terjaga. Sebab luka yang dia derita terasa cukup perih. Bahkan, cukup untuk membuatnya mengerang kesakitan. "Gallen ... Gallen," panggil Quintessa berulang. Tidak ada nama lain yang dapat gadis itu pikirkan. Hanya ada Gallen seorang. Lelaki yang teramat dia cintai. Udara dingin mulai menusuk tulang. Gadis berambut pirang pun menggigil kedinginan. Dia memaksakan diri untuk meringkuk. Tapi rasanya, luar biasa sakit. "Aargh ... tolong," rintih Quintessa ketika merasa sangat kesakitan untuk menekuk kakinya. Pipi gadis itu kembali basah oleh air mata. Tapi terlihat tak begitu kentara karena gerimis yang turun. Menyapu air mata Quintessa. "Gallen ... dingin," keluhnya untuk yang terakhir kali. Se

