Lembaran Baru

1032 Kata
Aku mengikuti langkah Ibrahim memasuki sebuat motel. Langkahnya terhenti tepat di depan meja resepsionis. Langkahku terhenti ketika aku berhenti tepat di samping Ibrahim. “Kami memasan satu kamar,”kata Ibrahim sambil menyodorkan kartu identitasnya. “Kalian suami istri?” tanya pegawai motel. “Iya,” jawabku sebelum Ibrahim sempat menjawabnya. “Bisa menunjukkan buku nikah kalian?” tanya pegawai hotel yang langsung membuatku terbelalak. “Kau tidak percaya kami?” tanyaku lagi. “Tetapi dikartu identitas, statusnya masih lajang,” kata pegawai motel kemudian menunjukkan kartu identitas Ibrahim. “Kami baru menikah tadi pagi,” kataku dengan wajah panas. “Maaf, jika anda tidak bisa membuktikan bahwa kalian sepasang suami istri. Maka kami hanya bisa menyarankan agar anda memesan dua kamar,” tegas sang pegawai. “Mana-“ kalimatku tergantung saat Ibrahim langsung menyelaku. “Berikan saja kami dua kamar,” kata Ibrahim kemudian meraih dua kunci kamar yang diberikan oleh pegawai motel. Aku masih mematung, aku merasa harus menjelaskan masalah ini. “Apa segitu inginnya kau tidur denganku malam ini?” bisik Ibrahim tepat di daun telingaku, membuatku merinding sekaligus merasa malu. “Berikan padaku,” kataku kemudian merebut satu kunci lalu berlari meninggalkannya.***&&&*** Tok..tok..tok... Sebuah ketukan terdengar ketika aku baru saja menjatuhkan tubuhku diatas kasur empuk motel ini. Dengan malas-malasan aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu motel. Aku terpengerangah saat melihat Ibrahim ada di depan mataku. Aku ingin menutup pintu kamar namun terlambat karena tubuhnya begitu gesit masuk ke kamar. Meletakkan tas jinjit diatas meja kemudian masuk ke kamar mandi. Aku menatapnya heran. Celingukan ke arah kamar mandi dan penasaran dengan tingkahnya. Ibrahim keluar kamar mandi dengan piyama tidurnya. Bukannya tidur dia malah duduk di sofa, membuka tas jinjitnya kemudian mengeluar laptop dan tidak butuh waktu lama, Ibrahim tenggelam dalam laptonya seakan disekitarnya tidak memberikan efek apapun. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Mengetik rancangan pembelajaran,Kenapa?” tanya Ibrahim tanpa mengalih pandangannya dari laptopnya. Jemarinya menari indah diatas tuts keyboard. “Kau bisa mengerjakannya di kamarmu,” kataku. “Kenapa? Apa ini menganggumu?” tanya Ibrahim kemudian menghentikan aksinya lalu menatapku. “Berisik,” kataku ketus kemudian ke tempat tidur, berbaring dan menyelimuti tubuhku. Tidak terdengar lama suara ketukan diatas keyboard. Aku membuka sedikit selimutku dan menemukan dia sedang membaca. “Tidur saja,” katanya. Sontak langsung ku tutup kembali tubuhku dengan selimut. “Bagaimana bisa tidur dengan tenang kalau kau ada disini,” kataku dari balik selimut. “Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu. Jadi tidur saja yang tenang,” kata Ibrahim. Meski aku ragu tetapi rasa kantuk ini mengalahkanku dan akhirnya aku tertidur lelap.***&&&&**** Mentari tentu saja tidak mampu menyusup masuk ke kamar motel. Tirainya cukup tebal untuk menghalau sinar mentari pagi masuk ke kamar kami. aku menggeliat. Karena terbiasa bangun pagi, aku tahu sekarang waktunya bangun meski mentari tidak menyilaukan wajahku, namun saat aku berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan, aku menyadari bahwa kepalaku yang besar tengah bertumpu pada lengan kokoh. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku tidak mampu menarik nafas. Waktu ikut berhenti. Dan ini untuk pertama kalinya aku tidur dengan lelaki. Seorang lelaki. Dan harusnya aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pemeran utama wanita yang sedang menemukan dirinya tidur bersama seorang pria. Dia akan teriak dan memukuli sang pria seperti orang kesetanan. Alih-alih berbuat demikian. Aku bahkan merasa nyaman dalam dekapan lengan kokoh milik Ibrahim. Tetapi aku tidak ingin merasa malu. Aku tidak mau Ibrahim menyadari hal tersebut. karena itu aku memutuskan untuk memejamkan mataku. Kembali tidur seorang tidak terjadi apa-apa. Aku merasa Ibrahim terbangun, dengan lembut dia mengangkat kepalaku dan meletakkannya diatas batal. Lalu dia mengenakan jubah dan bergegas keluar kamar. Aku tahu pasti kemana dia akan pergi. Kemana lagi kalau bukan untuk sholat berjamaah di mesjid. Aku menarik nafas berat lalu bangun dari tidurku. Memegang dadaku yang sempat sesak karena kehadiran Ibrahim. Dan sepertinya aku mulai mencintai lelaki yang baru kemarin menikahi itu.***&&&*** Mobil melaju pelan diatas aspal menuju kota. Sesekali aku melirik Ibrahim yang fokus menatap ke depan. Aku merasa aneh namun mungkin ini efek dari jatuh cinta sehingga aku ingin selalu menatap wajahnya. “Ada apa?” tanya Ibrahim yang masih fokus menatap ke depan. Aku salah tingkah. Tidak tahu harus menjawab apa. “Kau gugup?” pertanyaan Ibrahim membuatku bisa bernafas lega. Aku mengangguk untuk bisa menyembunyikan perasaanku. “Mungkin karena selama ini kau hanya tinggal di kampung. Tinggal bersama orang tuamu. Sehingga kau gugup saat keluar dari zona nyaman,” kata Ibrahim aku mengangguk. Dan bernafas lega. “Aku pernah dengar bahwa seorang wanita sangat sulit meninggalkan tempat yang sudah dianggapnya nyaman, bayangan membentuk lingkungan baru, silaturahmi dan bahkan beradaptasi dengan rumah baru selalu menghantui perempuan. Tetapi yakinlah. Bahwa sebagai seorang suami, aku sangat menghargai pengorbananmu. Aku akan menjagamu dan berusaha untuk memberikan kebahagian untukmu di tempat baru itu,” kata Ibrahim aku tersenyum dan menatapnya dengan kagum, Ibrahim ikut tersenyum.***&&&*** Mobil yang Ibrahim kendarai memasuki kompleks perumahan. Mobil berhenti tepat di dalam garasi sebuah rumah sederhana. Namun aku yakin rumah dan kendaraan ini adalah hasil dari kerja kerasnya. “Maaf jika hanya bisa memberikan rumah sederhana ini. Memang tidak sehebat rumahmu di kampung-“ “Aku suka,” kataku memotong perkataan Ibrahim kemudian memandangi seluruh ruangan tersebut. ruang tamu, dua kamar tidur, ruang keluarga sekaligus ruang makan sebab disana diletakkan meja makan lalu dapur. Aku tersenyum melihatnya. “Alhamdulillah kalau kau suka,” kata Ibrahim kemudian membawa barang bawaan kami ke kamar. “Ini kamarmu,” kata Ibrahim. Aku sontak kaget mendengarnya. “Kita beda kamar?” tanyaku. “Sampai kau menginginkan kita satu kamar. Aku akan menunggu kau jatuh cinta padaku. Aku akan menunggu kau ikhlaskan pernikahan ini. Sampai kau yakin bahwa aku adalah jodohmu,” kata Ibrahim sok bijaksana namun membuat aku jadi kecewa. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta sejak terbangun dalam dekapannya. “Tapi kau tidur bersamaku tadi,” gumamku. Dan aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku, memukul lembut bibirku yang mempermalukan diriku sendiri. “Semalam kau demam dan memintaku untuk tidur di sampingmu sampai kau tidak menggigil lagi karena demam. “Benarkah?” tanyaku ragu. Ibrahim tersenyum kemudian mengangguk. “Atau kau sudah siap untuk tidur sekamar denganku?” tanya Ibrahim dengan tatapan jahil. “Tidak,” teriakku kemudian mendorong tubuh Ibrahim agar keluar dari kamarku dan menutup pintu kamarku dengan kasar. Aku bersandar dibalik pintu kamar merasa sangat malu. “Aku akan melaksanakan kewajibanku memberikan nafkah lahir dan batin. Aku akan menunggu kau siap untuk nafkah batin,” kata Ibrahim dengan disertai tawa mengejek. Aku sendiri menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku malu. Sangat malu.***&&&
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN