Bab.6 Pertunangan Yang Menggetarkan Hati

1263 Kata
Lima hari berlalu dengan cepat. Hari-hari itu Nayla isi dengan memperkuat hati dan memperbaiki diri. Ia mulai rutin mengikuti kajian online, memperbanyak tilawah, dan menenangkan diri dengan doa. Luka hatinya mulai sembuh, berganti dengan tekad yang bulat: ia ingin menjadi perempuan yang Allah cintai, bukan hanya manusia cintai. Pagi itu, matahari bersinar hangat. Di langit, awan putih berarak pelan. Angin semilir membawa aroma bunga melati yang ditanam ibunya Nayla di halaman depan. Hari yang ditunggu akhirnya tiba, hari pertunangan Nayla dan Ustadz Rafa. Di kamar, Nayla duduk di depan cermin dengan hati berdebar. Ia mengenakan gamis putih tulang dengan kerudung senada, dihiasi renda sederhana di tepinya. Riasannya tipis, sekadar menonjolkan keanggunan alami. Tangannya dingin, namun wajahnya berseri. “Ya Allah… hari ini bukan tentang pesta. Bukan tentang kemewahan. Tapi tentang janji suci yang akan kami ikat karena-Mu,” bisiknya lirih. Ibunya masuk ke kamar dengan mata berkaca. “Nak… kamu cantik sekali hari ini,” ucapnya sambil membenarkan kerudung Nayla. Nayla tersenyum malu. “Mah… doakan Nayla ya. Biar bisa jadi perempuan yang bisa mendampingi Rafa dengan baik.” Ibunya menarik Nayla ke dalam pelukan. “InsyaAllah, Mama selalu mendoakanmu, Nak. Mama percaya, Allah tidak akan mempertemukan kamu dengan seseorang yang salah. Kalau Rafa datang dengan niat baik dan kamu menyambutnya dengan iman… insyaAllah Allah akan menjaga.” Pelukan itu menghangatkan hati Nayla. Ia mengusap air matanya pelan, mencoba menjaga riasan. Di luar, tamu-tamu mulai berdatangan. Beberapa ustadz dan keluarga dekat hadir dengan pakaian sopan dan rapi. Suasana rumah berubah menjadi teduh dan sakral. Di sisi lain, Rafa berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan koko putih bersih, sarung tenun khas daerah, dan peci hitam. Wajahnya tenang tapi matanya menunjukkan campuran gugup dan bahagia. Hari ini bukan hanya hari pertunangan, tapi juga awal tanggung jawab besar sebagai calon pemimpin rumah tangga. “Ibu…” panggilnya pelan dari luar kamar. Sang ibu angkat muncul. Ia mengenakan kebaya muslimah hijau zamrud dengan kerudung rapi. Tatapannya lembut, kali ini tatapan Ibu angkatnya tidak lagi setajam malam itu. Dalam lima hari terakhir, hatinya banyak merenung. Kata-kata Rafa waktu itu menyentuh nuraninya. Ia menyadari, mungkin dirinya terlalu cepat menghakimi Nayla hanya karena standar kesempurnaan masa lalu. “Rafa…” katanya dengan suara pelan. “Ibu… sudah pikirkan banyak hal.” Rafa menatap ibunya hati-hati. “Ibu…” “Maafkan Ibu,” ucapnya lirih, menatap mata Rafa. “Ibu terlalu keras waktu itu. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Nak. Tapi Ibu lupa… yang menilai hati manusia hanya Allah. Kalau Nayla pilihan kamu dan kamu yakin dengan imanmu, Ibu akan belajar menerima.” Mata Rafa berkaca. Ia memeluk ibunya erat. “Terima kasih, Bu… ini berarti banyak untuk Rafa.” Sang ibu tersenyum tipis. “Ayo, kita temui calon menantu Ibu. Ibu ingin melihatnya bukan dengan prasangka… tapi dengan doa.” Menjelang dzuhur, rombongan keluarga Rafa tiba di rumah Nayla. Di halaman, bunga-bunga melati dan mawar disusun rapi. Tidak ada dekorasi mewah, hanya nuansa putih dan hijau pastel yang menenangkan mata. Acara pertunangan ini memang disepakati sederhana, sesuai ajaran Islam, menghindari kemegahan berlebihan, dan mengutamakan keberkahan. Nayla berdiri di dalam rumah, menunggu. Saat melihat mobil hitam Rafa berhenti di depan, jantungnya berdegup semakin cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Rafa turun dengan langkah tenang, membawa kotak perhiasan kecil dan sebuah sajadah kedua berwarna biru tua sebagai tanda keseriusan, sajadah cinta pertama berwarna merah yang sebelumnya ia berikan sebagai tanda pendekatan. Di belakangnya, sang ibu angkat membawa nampan berisi cincin pertunangan. Ketika pintu dibuka, pandangan mereka bertemu. Seketika dunia terasa melambat. Senyum lembut Rafa, tatapan penuh doa Nayla, dan bisikan hati mereka bertemu dalam diam. “Assalamu’alaikum,” ucap Rafa dengan suara mantap. “Wa’alaikumussalam,” jawab keluarga Nayla serempak. Acara dimulai dengan pembacaan doa oleh seorang ustadz sepuh yang dihormati di lingkungan mereka. Suaranya tenang dan penuh hikmah. “Pertunangan ini bukan sekadar ikatan dua insan,” katanya dalam tausiyah singkat. “Ini adalah janji dua hati untuk saling menjaga dalam ketaatan. Jika cinta kalian bertumpu pada Allah, maka ujian sebesar apa pun akan terasa ringan. Tapi jika cinta kalian bertumpu pada dunia, maka hal kecil pun akan menjadi duri.” Nayla menunduk, meresapi setiap kata. Rafa menatapnya dengan mata teduh, seolah berkata tanpa suara: “Kita jalani ini sama-sama, karena Allah.” Setelah tausiyah, tibalah saatnya prosesi pertunangan. Ibunda Rafa maju membawa cincin dan kotak perhiasan. Langkahnya pelan namun pasti. Semua mata memperhatikan. Nayla sempat menahan napas saat sang ibu berdiri di depannya. Ada sedikit ketegangan, mengingat luka malam itu belum sepenuhnya hilang. Namun, sang ibu kemudian menatap Nayla dengan mata berbeda — kali ini bukan penilaian, melainkan ketulusan. “Ibu…” ucap Nayla pelan, hampir bergetar. Sang ibu tersenyum lembut. “Nayla… maafkan Ibu atas perkataan Ibu waktu itu. Ibu terlalu cepat menilai. Hari ini, Ibu ingin kamu tahu… kalau kamu diterima sebagai bagian dari keluarga kami. Bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu mau berusaha dan mencintai Rafa dengan cara yang Allah ridai.” Air mata Nayla meleleh tanpa bisa ditahan. Ia langsung mencium tangan sang ibu dengan haru. “Terima kasih, Ibu…” Sang ibu kemudian memasangkan cincin pertunangan di jari manis Nayla. Suasana seketika haru. Tepuk tangan kecil terdengar dari para tamu. Rafa menunduk syukur, hatinya bergetar. Ia tidak menyangka Allah memberikan akhir seindah ini untuk ujian pertama mereka. Setelah cincin terpasang, Rafa maju membawa sajadah biru tua. Ia menyerahkannya kepada Nayla dengan kedua tangan. “Nayla… ini sajadah kedua saya bawakan sebagai tanda keseriusan. Hari ini, saya bawakan kembali… sebagai pengingat, bahwa cinta ini bukan hanya antara kita, tapi juga antara kita dan Allah. Saya ingin kita belajar saling menuntun, saling menguatkan… bukan saling menuntut.” Nayla menerima dengan air mata haru. “InsyaAllah, Ustadz. Saya akan berusaha menjadi perempuan yang bisa mendampingi Ustadz, bukan dengan kesempurnaan… tapi dengan ketulusan.” Tepuk tangan lembut kembali terdengar. Beberapa tamu ikut menitikkan air mata, menyaksikan keindahan cinta yang dibingkai iman. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Meja sederhana di halaman belakang dipenuhi hidangan rumahan, nasi kebuli, ayam bakar, sambal kurma, salad, dan kue-kue kecil. Suasananya hangat dan akrab. Nayla duduk di samping ibunda Rafa, yang kini banyak mengajak Nayla berbicara dengan nada lembut. “Ibu dengar kamu sekarang rajin ikut kajian?” tanya sang ibu dengan senyum kecil. Nayla tersipu. “Iya, Bu… Nayla ingin lebih banyak belajar. Masih banyak yang harus Nayla perbaiki.” Sang ibu menepuk lembut punggung tangan Nayla. “Ibu tidak butuh kamu jadi Melody. Ibu hanya ingin Rafa bahagia dengan perempuan yang mau bertumbuh bersama. Dan sepertinya… kamu memang perempuan itu.” Ucapan itu membuat Nayla nyaris menangis lagi. Ia menunduk, bersyukur dalam hati. Rafa yang duduk tak jauh memperhatikan momen itu dengan mata berkaca, hatinya dipenuhi rasa syukur. Menjelang sore, acara pertunangan ditutup dengan doa bersama. Semua tamu mengangkat tangan, memohon kepada Allah agar hubungan ini diberkahi, dilindungi dari fitnah, dan dimudahkan menuju akad nikah. “Ya Allah, satukanlah dua hati ini dalam ketaatan kepada-Mu. Jadikanlah mereka pasangan yang saling mencintai karena-Mu, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan bersama menuju surga-Mu…” suara ustadz menggetarkan hati semua yang hadir. Amin bergema pelan namun penuh makna. Nayla menatap cincin di jarinya, lalu memandang Rafa yang juga menatapnya dengan senyum hangat. Dalam hati mereka sama-sama berdoa: “Ya Allah… bimbing kami.” Sore itu, langit memerah keemasan seperti menyambut doa mereka. Angin bertiup lembut. Burung-burung kembali ke sarang, dan di halaman rumah sederhana itu, dua insan yang pernah diuji kini berdiri tegak dan ingin memulai perjalanan baru dengan niat lillahi ta’ala. Bukan kisah cinta yang mulus tanpa ujian, tapi kisah cinta yang dipeluk doa, dibingkai iman, dan dipandu oleh Allah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN