BAB 4 Posesif Pertama

930 Kata
Tasya berdiri membeku di tengah ruang tamu Oasis Residences. Tangan Om Bram masih memegang dagunya dengan tegas, mata pria itu menatap tajam seolah bisa membaca setiap kebohongan yang akan keluar dari mulutnya. “Siapa cowok itu, Tasya?” tanya Om Bram lagi, suaranya rendah dan dingin. “Om lihat kalian berpelukan di Omega Luxe Pavilion siang tadi. Jangan bilang itu hanya teman kelompok.” Tasya menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. “Itu… teman kuliah, Om. Kami cuma diskusi tugas presentasi. Tidak ada apa-apa.” Om Bram melepaskan dagu Tasya, tapi tangannya langsung berpindah ke pinggangnya, menarik tubuh Tasya mendekat hingga d**a mereka hampir bersentuhan. “Om tidak suka berbagi, Gadis kecilku. Apalagi dengan cowok muda yang memelukmu seperti itu. Badan ini sekarang milik Om. Om yang bayar apartemen ini, Om yang beri uangmu. Mengerti?” Tasya mengangguk pelan, suaranya hampir hilang. “Mengerti, Om.” Tanpa kata lagi, Om Bram mencium Tasya dengan keras. Ciuman itu bukan lagi godaan lembut seperti malam-malam sebelumnya. Ini ciuman posesif, lidahnya menyerbu masuk, menguasai setiap inci mulut Tasya. Tangan Om Bram meremas pinggang Tasya kuat, lalu naik ke punggung dan membuka resleting dress-nya dengan satu gerakan cepat. Dress hitam itu jatuh ke lantai marmer. Tasya berdiri hanya dengan bra dan celana dalam tipis di depan pria yang usianya hampir dua kali lipat dirinya. Om Bram mundur selangkah, matanya menelusuri tubuh Tasya dari atas ke bawah. “Kamu milik Om,” gumamnya. “Dan Om akan ingatkan kamu malam ini.” Om Bram menarik Tasya ke dinding kaca besar yang menghadap lampu kota Kota Kembang. Punggung Tasya menempel dingin ke kaca sementara tubuh hangat Om Bram menindihnya dari depan. Dia membuka kaitan bra Tasya, melemparnya sembarangan, lalu mulutnya langsung turun ke p******a Tasya. Lidahnya menyentuh p****g yang sudah mengeras, menghisap kuat hingga Tasya mengerang. “Ahh… Om…” Tangan Om Bram turun ke bawah, menyelinap ke dalam celana dalam Tasya. Jarinya langsung menemukan titik basah dan mengusapnya dengan gerakan cepat dan tegas. Tasya menggeliat, lututnya lemas. Om Bram memasukkan dua jari sekaligus, menggerakkannya keluar-masuk sambil ibu jarinya menekan k******s Tasya. “Kamu basah sekali,” bisik Om Bram di telinga Tasya. “Apakah karena Om atau karena cowok tadi?” “Karena Om…” jawab Tasya terengah. “Hanya Om…” Om Bram tersenyum puas. Dia menarik celana dalam Tasya turun hingga jatuh ke lantai, lalu membalik tubuh Tasya menghadap jendela kaca. p******a Tasya menempel dingin ke kaca sementara bokongnya terangkat ke belakang. Om Bram membuka celananya sendiri. Kejantanan yang sudah keras dan panas langsung menempel di celah Tasya. Tanpa aba-aba, Om Bram mendorong masuk dalam satu gerakan kuat. Tasya menjerit pelan, sensasi penuh membuat kepalanya pusing. Om Bram memegang pinggang Tasya dengan kedua tangan, mulai bergerak cepat dan dalam. Setiap dorongan menghantam titik paling sensitif, membuat Tasya hampir tidak bisa bernapas. “Lihat kota ini,” kata Om Bram sambil terus bergerak. “Semua ini bisa jadi milikmu. Tapi kamu harus jadi milik Om sepenuhnya. Jangan berani dekat cowok lain lagi.” Tasya hanya bisa mengerang. Tubuhnya bergoyang mengikuti ritme kasar Om Bram. Payudaranya bergesekan dengan kaca setiap kali Om Bram mendorong dari belakang. Om Bram menarik rambut Tasya pelan, memaksa kepalanya mendongak. “Katakan kamu milik Om,” perintahnya. “Aku… milik Om…” desah Tasya. Om Bram mempercepat gerakannya. Tangannya meraih ke depan, memainkan k******s Tasya sambil terus menghantam dari belakang. Tasya o*****e pertama datang dengan hebat, tubuhnya mengejang kuat, cairannya membasahi kejantanan Om Bram. Tapi Om Bram tidak berhenti. Dia terus bergerak, membawa Tasya ke puncak kedua sebelum akhirnya mengerang rendah dan melepaskan panasnya di dalam Tasya. Mereka terengah-engah. Om Bram mencium pundak Tasya dari belakang, kali ini lebih lembut. “Bagus,” bisiknya. “Kamu belajar cepat.” Om Bram membawa Tasya ke kamar utama. Mereka berbaring di ranjang king size yang mewah. Om Bram memeluk Tasya dari samping, tangannya masih menyentuh p******a Tasya dengan posesif. “Mulai sekarang, kamu tidur di sini lebih sering,” kata Om Bram. “Om akan transfer rutin setiap minggu. Apartemen ini resmi untukmu. Tapi syaratnya satu: tidak ada cowok lain.” Tasya mengangguk lemah. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya berputar. Kenikmatan yang diberikan Om Bram selalu membuatnya ketagihan, tapi tekanan yang mulai muncul membuatnya takut. Saat Om Bram ke kamar mandi, Tasya mengambil ponselnya. BoomChat meledak dengan pesan dari Roby. Roby: Tasya, kamu di mana? Kenapa lama banget tidak balas? Aku lihat kamu online. Jawab sekarang. Roby: Aku serius. Kalau kamu tidak jawab dalam 30 menit, aku langsung ke kosanmu. Aku mau lihat sendiri apa yang sedang kamu lakukan akhir-akhir ini. Tasya panik. Jarinya gemetar saat mengetik balasan. Tasya: Aku masih di kampus, presentasi molor. Pulang sebentar lagi. Roby langsung balas. Roby: Bohong. Aku tadi lewat kosanmu, lampunya mati. Kamu di mana sebenarnya? Tasya menatap layar ponsel dengan d**a sesak. Om Bram keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk di pinggang. Dia melihat Tasya sibuk dengan ponsel dan mengerutkan kening. “Siapa yang chat?” tanya Om Bram. “Tidak ada, Om. Teman kuliah,” jawab Tasya cepat. Om Bram mendekat, mengambil ponsel dari tangan Tasya sebelum Tasya sempat menyembunyikannya. Untungnya layar sudah mati. Om Bram meletakkan ponsel di meja nakas. “Malam ini kamu menginap di sini,” katanya tegas. “Om tidak mau kamu pulang malam-malam.” Tasya ingin protes, tapi melihat ekspresi Om Bram yang tidak bisa dibantah, dia hanya mengangguk pelan. Di luar sana, Roby masih menunggu balasan. Tasya tahu, rahasianya tidak akan bertahan lama lagi. Dua pria yang berbeda sedang menariknya ke dua arah, dan dia terjebak di tengah-tengah. Permainan yang tak seharusnya dimulai ini mulai terasa semakin berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN