"Kau ingin resign?" Edzard bergeming. Dan pemandangan indah berupa lampu hias atau lampion yang menyala-nyala tidak lagi mampu menarik minat Helena. Beruntung, es krim tadi sudah habis. Jadi dia tidak merasa mual. Atau merasakan dorongan ingin melempar satu cup es krim ke wajah sang bos. "Bukankah, kau seharusnya senang?" "Tidak." Helena mengerutkan alis, berpikir pantaskah dia bicara tentang keputusan sang bos yang sangat mendadak. "Tiba-tiba aku mulas. Aku tidak tahu apa alasanmu mundur. Apa anak-anak tahu?" Kepala Edzard menggeleng singkat. "Apa mereka sudah memberi persetujuan?" Lagi-lagi menggeleng. "Apa alasannya?" "Aku bisa leluasa berkencan denganmu? Dan kau yang kekanakkan tidak perlu lagi cemas akan kebersamaan kita hanya karena peraturan sialan itu," balas Edzard muram.

