BAB 1

1017 Kata
"Kau terlambat sepuluh menit, Aruna Ayudya. Di perusahaanku, sepuluh menit adalah waktu yang cukup untuk kehilangan satu miliar." Suara bariton itu menyambar tepat saat Aruna baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu ruangan luas yang menghadap langsung ke jantung kota Viance. Aruna berdiri mematung. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Rambutnya sedikit acak-acakan karena ia terpaksa berlari lima blok dari stasiun bawah tanah setelah bus yang ditumpanginya mogok total. "Maaf, Tuan. Ada kendala teknis di Viance Bawah…" Aruna membela diri. "Aku tidak menggajimu untuk menjelaskan masalah teknis distrik kumuh," potong Leonardi tanpa menoleh. Pria itu berdiri membelakanginya, menatap deretan gedung pencakar langit melalui dinding kaca raksasa. Jas hitamnya tampak sempurna tanpa lipatan sedikit pun, kontras dengan penampilan Aruna yang berantakan karena keringat dan air hujan yang mulai menetes dari ujung pakaiannya. "Duduk. Atau silakan keluar sekarang dan biarkan penagih hutang itu menyeret ayahmu." Langkah Aruna yang tadinya ragu seketika tercekat. Dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke tengkuk. "Bagaimana Anda?" Leonardi akhirnya berbalik. Ia tidak terlihat seperti CEO muda berumur 30 tahun yang ramah seperti di sampul majalah bisnis. "Duduk," perintahnya lagi. Kali ini suaranya lebih rendah, lebih berat, dan jauh lebih mengancam. Aruna berjalan mendekat dengan lutut yang lemas. Ia duduk di kursi kulit yang dingin, mencoba mengatur napasnya. Namun, aroma sandalwood dan parfum maskulin yang tajam dari arah Leonardi justru membuatnya makin tertekan. Ruangan ini terlalu kedap suara, terlalu sunyi, seolah-olah jeritan paling keras pun tidak akan bisa keluar dari sini. "Aku sudah mempelajari riwayat hidupmu," ucap Leonardi sembari menyandarkan tubuh di pinggiran meja, tepat di depan Aruna. "Lulusan terbaik Universitas Eldoria, fasih tiga bahasa, jenius dalam analisis data." Aruna menelan ludah. "Terima kasih, Tuan. Saya yakin kemampuan saya bisa memajukan divisi…" "Tapi semua itu tidak berguna jika kau tidak punya uang untuk membayar transplantasi ginjal ibumu bulan depan, bukan?" Kalimat itu bagai hantaman godam di d**a Aruna. Ia mengepalkan tangan di atas pangkuannya. "Saya datang untuk melamar posisi analis senior, Tuan. Saya bisa bekerja lembur, saya bisa melakukan apa pun yang perusahaan minta." "Aku tidak butuh analis," Leonardi mencondongkan tubuhnya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Aruna bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat di manik mata hitam Leonardi. "Perusahaanku punya ribuan analis. Aku butuh sesuatu yang lain." "Maksud Anda?" "Aku butuh seseorang yang bisa masuk ke sebuah ruangan di rumahku. Seseorang yang tidak akan bertanya, tidak akan membantah, dan bersedia membuang harga dirinya demi keselamatan keluarganya." Aruna mengerutkan kening, jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk yang mulai merayapi akal sehatnya. "Pekerjaan macam apa itu?" Leonardi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengambil map hitam bertuliskan Obsidian dan membukanya. Di dalamnya bukan deskripsi pekerjaan kantor, melainkan daftar angka-angka yang sangat besar. "Rumah sakit terbaik di Viance untuk ibumu. Tim dokter spesialis sudah kusiapkan. Beasiswa penuh untuk adikmu, Renata, hingga ia lulus perguruan tinggi. Dan semua catatan hutang judi ayahmu pada sindikat Viance akan terhapus dalam satu jam jika kau menandatangani ini." Aruna merasa udara di sekitarnya mendadak hilang. "Syaratnya?" "Sederhana," Leonardi mengeluarkan sebuah kontrak dengan sampul hitam elegan. "Kau akan tinggal bersamaku di Obsidian Manor. Kau akan mematuhi setiap kata-kataku, mengikuti setiap aturanku. Tidak ada protes, tidak ada penolakan." Aruna merasa seluruh tubuhnya gemetar. Ia bukan wanita bodoh. Ia tahu persis apa yang sedang ditawarkan pria di depannya ini. Ini bukan kontrak kerja, ini adalah kontrak kepemilikan. "Anda ingin, membeli saya?" bisik Aruna dengan suara nyaris hilang. Leonardi tersenyum tipis "Aku tidak membelimu, Aruna. Aku sedang menawarkan pertukaran. Aku memberikan kebebasan untuk keluargamu, dengan imbalan kebebasanmu sendiri. Kau yang memutuskan apakah harga dirimu lebih mahal daripada nyawa ibumu dan masa depan adikmu." Leonardi menggeser sebuah pulpen emas berat ke hadapan Aruna. Suasana mendadak hening. Aruna hanya terpaku menatap dokumen itu sambil mencerna ucapan pria yang ada di depannya itu. Sementara Leonardi mengamati Aruna yang sibuk berperang dalam pikirannya. Sebelah bibir Leonardi terangkat sekilas. "Sepuluh menitmu sudah habis, Aruna.” ucap Leonardi memecah keheningan yang bertahan beberapa saat. “Pilihannya sekarang adalah tanda tangani ini dan jadilah 'asisten pribadiku', atau keluar dari pintu itu dan biarkan penagih hutang itu mematahkan kaki ayahmu sebelum mereka mematikan mesin penyambung nyawa ibumu." Aruna menatap pulpen itu, lalu menatap mata Leonardi. Tidak ada kehangatan di sana, hanya obsesi yang gelap dan keinginan untuk mengendalikan. Tangan Aruna gemetar saat ia meraih pulpen emas itu. Pikirannya melayang pada wajah ibunya yang pucat di ranjang rumah sakit dan ketakutan di mata adiknya setiap kali pintu rumah mereka digedor preman. "Hanya... asisten pribadi?" tanya Aruna, mencoba mencari sisa harga diri yang tersisa. Leonardi berdiri tegak, merapikan kancing jasnya dengan tenang seolah kemenangan sudah ada di tangannya. "Di depan publik, ya. Tapi di balik pintu Obsidian Manor, kau adalah milikku sepenuhnya. Kau akan melakukan apa pun yang aku perintahkan, Aruna. Apa pun." Aruna memejamkan mata. Air mata setetes jatuh ke atas kertas kontrak itu, otaknya masih berpikir apakah ia harus melakukan ini? “Tidak.” Aruna menggelengkan kepalanya keras. “Aku tidak akan mau dibeli dengan cara seperti ini.” tegas Aruna. Leonardi bergeming untuk beberapa detik. Aruna sempat menangkap sorot mata terkejut dalam manik matanya yang hitam. Hening. Tidak ada respons. Aruna menggeser map itu dengan keras setengah melepar ke arah Leonardi. Membuat pria itu tertegun. Aruna lalu mendorong mundur kursinya dan berdiri. Ia berbalik menuju pintu keluar ruangan dengan langkah panjang. Sementara Leonardi menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil menatap punggung Aruna yang menjauh. Tangannya terkepal di bawah meja lalu dihentakkan di atas meja hingga menimbulkan suara yang menggema di ruangan yang hening itu. Aruna melangkah keluar dari lobi marmer Wiratama Corp. dengan jemari yang masih gemetar. Udara Viance yang dingin dan lembap menerpa wajahnya. Hujan turun lebih deras sekarang, menciptakan tirai abu-abu yang mengaburkan pandangan. Aruna baru saja hendak melangkah menuju stasiun bawah tanah ketika sebuah mobil van hitam tua berhenti mendecit tepat di depannya, mencipratkan air genangan ke rok kerjanya. Tiga pria berbadan besar dengan jaket kulit lusuh keluar dari mobil. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di pelipis yang Aruna kenal sebagai anggota geng penagih hutang kelas teri di Viance Bawah, menyeringai lebar. "Mau lari ke mana, Nona Cantik?" suara parau pria itu membelah suara hujan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN