Terjawab Sudah

1238 Kata

Saat ini, punggung Cia terasa sangat panas. Seperti ada laser yang bergerak cepat menembusnya. Dia berbalik dan langsung menahan napas. Pantas saja dia merasa tidak enak sedari tadi. Ternyata Agam berdiri tepat di belakangnya, bersandar pada meja dapur tanpa suara. Menatapnya lekat tanpa melakukan apapun. Bahkan sinar laser sepertinya akan kalah dengan tatapan tajam pria itu. Cia mendekat dan meletakkan kopi instan buatannya di samping Agam. "Jadi, saya harus cari restoran baru atau gimana, Pak?" tanya Cia mencoba untuk profesional. Bukankah memang ini tujuan Agam menemuinya? "Nggak perlu." "Terus?" Cia menggaruk pelipisnya bingung. Mulai merasa tidak nyaman. "Ada yang lebih penting dari itu." Agam mulai mendekat. Dengan cepat Cia mengalihkan pandangannya dan berbalu menuju sofa rua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN