Sebuah Kebenaran

1112 Kata
Tahun 2016 Di sebuah dapur panti asuhan, terlihat dua orang gadis tengah berdiri tenang di ujung ruangan. Bukannya membantu yang lain, dua gadis itu malah asik menikmati makanan yang ada. Tidak peduli dengan beberapa orang yang keluar-masuk dapur untuk menyiapkan makanan. Mereka kelelahan. Sudah seharian ini mereka banyak membantu kegiatan di panti asuhan. Jika bukan karena hukuman mungkin mereka tidak akan berakhir di tempat ini. Andai saja mereka tidak kabur di jam pelajaran mungkin kepala sekolah tidak akan mengirim mereka ke panti asuhan untuk melakukan pekerjaan sosial sebagai hukuman. "Lo mau tambah?" tanya Febi. "Gue mau yang keju," jawab Cia. Belum sempat mengambil potongan kuenya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk dan tersenyum pada mereka. "Kalian laper ya? Pasti capek." Cia dan Febi hanya bisa tersenyum canggung. Dengan segera mereka mengelap bibirnya, takut jika ada sisa makanan yang tersisa di sana. "Kalau kalian sudah selesai, bisa tolong ibu? Kayaknya Dedek Satria popoknya sudah penuh. Tolong gantiin ya? Ibuk mau siapin makan siang anak-anak." Wanita paruh baya yang bernama Suci itu merupakan ibu panti di sini. Wanita hebat yang mau memberikan waktunya secara penuh untuk mengurus anak-anak yang kurang beruntung. "Lo denger, Cia? Kita dusuruh ganti popok bayi!" ucap Febi panik setelah Bu Suci pergi. "Lo bisa?" tanya Cia meringis. "Enggak, mending gue disuruh cuci piring." Cia dan Febi masih sibuk berpikir sampai akhirnya Bu Suci kembali memanggil mereka. Dengan cepat Cia dan Febi bergegas ke kamar bayi, di mana bayi-bayi mungil tak berdosa itu beristirahat. "Ini Dedek Satria," ucap Febi menunjuk bayi menggemaskan itu setelah membaca nama yang tertera. "Lo ambil popok baru," perintah Cia. Dengan hati-hati Cia mulai menyentuh bayi itu. Senyumnya merekah saat tangan mungil Satria langsung menggapai tangannya. Tubuh bayi itu begitu mungil membuat Cia gemas sendiri. "Ganteng banget kamu, Dek. Kenapa bisa ada di sini?" tanya Cia sedih. "Ini popoknya." Febi datang dengan popok di tangannya. "Gimana caranya, Feb?" tanya Cia bingung. "Nggak tau, lo aja. Gue takut kenapa-napa nanti." Febi mendorongnya. Cia berdecak dan mulai menatap Satria. Dia tidak memiliki banyak pengalaman tentang bayi. Menjadi anak tunggal membuatnya tidak pernah berhubungan dengan bayi. Yang Cia tahu, bayi memiliki hobi paten, yaitu menangis. "Hati-hati," ucap Febi saat Cia mulai melepas celana Satria. Untungnya bayi mungil itu tidak menangis. Seolah mengerti di mana dirinya saat ini dan tak ingin merepotkan banyak orang. "Anjir, Feb. Satria pup!" Cia meringis saat melihat popok Satria. "Aduh, Satria.. bilang dong kalau pup." Febi ikut bingung. "Gue panggil Bu Suci dulu." Cia mengangguk dan masih berdiri dengan bingung. Dia menatap Satria yang malah tersenyum padanya. "Lo ngerjain gue, ya?" tanya Cia menyentuh pipi bulat Satria gemas, "Dasar bayik!" "Kamu ambil air bersih." Suara berat tiba-tiba terdengar membuat Cia menegakkan tubuhnya. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di sampingnya. Pria itu mulai fokus pada Satria yang tertawa saat melihat kedatangannya. Siapa dia? "Kamu nggak denger? Cepat, ambil air." "Eh, iya, Kak." Dengan cepat Cia mengambil air bersih dan kembali ke kamar. Di sana, Cia hanya diam memperhatikan bagaimana cekatannya pria itu dalam membersihkan Satria dan mengganti popoknya. Bagi Cia, pemandangan di hadapannya adalah pemandangan yang indah. Melihat seorang pria tampan yang dengan sangat baik merawat bayi adalah poin tambah. Bahkan Satria tidak menangis dibuatnya, berbeda dengan banyak bayi yang Cia tahu hobi menangis. "Kamu harus hati-hati. Usia Satria baru satu bulan," ucap pria itu tiba-tiba. "Kenapa Satria bisa ada di sini, Kak?" "Karena dia tidak beruntung," jawab pria itu singkat. "Hah?" Pria itu menatapnya membuat suasana menjadi canggung. Entah kenapa Cia mulai bergidik melihat tatapan itu. Namun anehnya dadanya mulai berdegup kencang. "Satria tidak beruntung karena dilahirkan dari orang tua yang tidak bertanggung jawab." Mendengar itu Cia mendadak merasa sedih. Dia menatap Satria yang masih tersenyum dengan tatapan sendu. Merasa kasihan dengan nasib anak-anak di tempat ini. "Oleh karena itu, kamu harus bersyukur," lanjut pria itu. Cia menatapnya bingung. "Maksudnya?" "Sekolah yang bener, belajar yang serius. Jangan buat orang tua kamu sedih karena kenakalan kamu. Mereka sudah banyak berjuang buat kamu." Kalimat yang terdengar seperti nasehat itu menjadi penutup. Pria itu pergi meninggalkan Cia yang terdiam seribu bahasa. Perlahan senyum lebar mulai merekah di wajah Cia. Dia menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Sepertinya dia jatuh cinta. *** Malam ini, Cia memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Dia akan menjaga Dika selagi besok masih hari libur. Selain karena panggilan hati, Cia juga sedang menghindar dari Agam. Semoga pria itu tidak kembali memanggilnya besok dan mengganggu hari liburnya. Setelah menyadari perasaannya, Cia semakin menyesal karena bersedia bekerja dengan Agam. Namun jika ia tidak bekerja untuk Agam pun mereka akan bertemu karena Dika. Entah kenapa jalan apapun yang Cia pilih, takdir akan kembali mempertemukan mereka. "Cia?" panggil Dika. Cia tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Dika. "Ada apa, Kak? Mau apa?" "Bantu saya duduk." Cia mengangguk dan segera membantu Dika untuk menaikkan posisi ranjang agar pria itu bisa duduk. Mungkin Dika mulai lelah karena terlalu sering berbaring. "Mau nonton TV?" tawar Cia. "Boleh." Keheningan kembali terjadi. Meskipun televisi menyala tetapi fokus Cia dan Dika tidak pada layar pipih itu. Cia kembali melamun, meratapi nasib perasaannya dan Dika yang ternyata memperhatikannya. "Berat ya?" tanya Dika tiba-tiba. "Kenapa, Kak?" "Berat kerja sama Pak Agam?" Cia tersenyum tipis mendengar itu. Tidak mungkin dia berkata yang sejujurnya di depan Dika. Pria itu adalah bawahan Agam yang paling setia. Setidaknya itu yang Ridho katakan padanya. "Cuma belum biasa aja, Kak." Akhirnya Cia menemukan jawaban yang cukup bijak. "Pasti berat. Saya akui kerja sama Pak Agam itu berat." "Kenapa Kak Dika bisa betah?" tanya Cia penasaran. "Diluar sikap tegas dan dinginnya, Pak Agam itu atasan yang baik. Saya nggak pernah diperlakukan sebaik ini selama kerja sama orang." Cia mengerucutkan bibirnya kesal, "Tapi Pak Agam sering bikin saya kesel, Kak." Dika tertawa sebentar dan meringis. Dia menyentuh dadanya yang nyeri. "Kalau Pak Agak bikin kamu kesel artinya perasaan Pak Agam sedang baik." "Maksudnya?" Dika tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum dan kembali menatap televisi. Membiarkan Cia yang kebingungan akan maksud ucapannya. "Kak, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Cia hati-hati. "Tentang?" "Pak Agam." "Tentang pekerjaan atau pribadi?" tanya Dika memastikan. "Dua-duanya boleh?" Dika menggeleng. "Saya hanya menjawab tentang pekerjaan." Cia mengembungkan pipinya kesal. "Oke, tentang pekerjaan." "Apa itu?" "Kak Dika tau Nadira Santoso?" Dika tampak berpikir dan mengangguk pelan, "Tau, dia anak Pak Dandung." "Nadira Santoso itu siapa?" tanya Cia mulai mengorek informasi. Dika menaikkan alisnya bingung, "Nadira Santoso ya anaknya Pak Dandung Santoso." "Ih, bukan gitu maksudnya!" "Terus?" "Kata Febi Nadira itu mantannya Pak Agam, apa bener?" "Itu bukan pertanyaan tentang pekerjaan." Dika kembali menatap televisi. "Ih, merepet dikit kan nggak apa-apa!" Dika terkekeh melihat reaksi Cia. Dia menatap gadis itu lekat dan mengangguk. "Bukan, Nadira Santoso bukan mantannya Pak Agam." *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN