Bagian 2. Aku Akan Menikahimu

1201 Kata
“Aku akan menikahimu,” ucap Zain ketika aku menceritakan semua padanya. Dia adalah sahabat terbaikku sejak SMA hingga kuliah. Dia selalu membantuku dalam segala urusan. Bahkan dia pula yang selama ini membantu menyiapkan pernak pernik pernikahanku. “Ini pernikahan Zain, bukan seperti kamu menggantikanku saat bolos kuliah. Ini bukan permainan,” sahutku kesal. Aku dan Zain kuliah pada fakultas yang sama, tetapi beda jurusan. Dulu, ketika aku malas kuliah dan jadwalnya sedang kosong, maka dia akan hadir di kelas dengan membawa kartu daftar hadir kuliahku. Lalu memastikan ada paraf dosen di sana. “Aku tidak pernah berniat m*****i sebuah ikatan suci, Cahaya. Percayalah lama-lama kita akan terbiasa. Aku akan membuatmu nyaman sehingga kelak kamu akan mencintaiku,” balasnya. Tidak ada mimik gurauan di wajahnya. Dia terlalu serius. “Kamu ingin membuatku mencintaimu? Lalu bagaimana caramu membuat dirimu sendiri mencintaiku?” tanyaku dengan senyum sinis. “Aku bahkan sudah mencintaimu sejak pertama kita bertemu, ujarnya, "Sejak kita masih SMA. Masih ingat ketika kamu mendaftar, mengisi formulir dan lupa membawa pulpen?” Ia bertanya dengan raut tenang sambil menarik kedua ujung bibirnya. “Kamu pikir aku percaya?” tanyaku sambil melengos. Bagiku dia terlalu mengada-ada. “Memangnya mengapa tidak percaya?" tanyanya. Ia menatapku dengan kening mengernyit. “Bukankah selama ini kamu selalu mengatakan bahwa sedang menunggu seseorang yang sudah lama ada di hatimu?” sahutku dengan tatapan menantang. “Seseorang itu kamu!” tegasnya. Saat itu dia terlihat penuh wibawa. Kharisma terpancar nyata dan semua itu menyirapku untuk menerima 'lamarannya'. Akan tetap, kini hatiku bimbang. Dia mencintaiku, tetapi aku tidak. Aku begitu tidak enak hati jika harus menyakitinya. Dia terlalu baik. Aku begitu takut tidak bisa mengubah cara memperlakukannya, dari seorang sahabat tempat bersenda gurau secara lepas menjadi suami yang harus dihormati. *** Setelah puas menikmati segarnya tetesan banyu, aku segera menyudahi ritual mandiku. Aku melangkah keluar dengan handuk putih membalut sedada hingga bawah lutut. Sedangkan handuk kecil melilit kepala untuk mengeringkan rambut panjangku. Aku memilih gamis rumahan untuk dikenakan. Kemudian kembali duduk di depan meja rias untuk merapikan rambut basahku. Knop pintu berputar. Dia muncul masih dengan pakaian adat melayu, busana pengantin terakhir yang kami pakai di acara resepsi tadi. Tanjak bertengger gagah dikepalanya. Ia melangkah pelan ke arahku, tangannya terangkat melepas tanjak dan diletakkan di meja rias. Sudut-sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum manis. Aku menatapnya kikuk. Sejenak pandangan kami beradu. Kemudian cepat aku menunduk. Ilahi Robbi, aku ingin adegan ini seperti drama-drama romantis di mana kami berdua akan jadi salah tingkah. Aku ingin ada sesuatu yang terasa berdegup kencang di dalam d**a. Kemudian tak sadar tanganku terangkat dan menekannya, menenangkan debaran yang tiba-tiba merajai jiwa raga. Namun, kenyataannya semua biasa saja. Yang ada aku justru takut untuk berdua dengannya. Aku justru ingin dia berlama-lama bicara dengan kedua orang tuaku di luar sana. Tidak ada yang berbeda. Semua masih sama seperti sebelumnya. Rasa ini biasa-biasa saja. Jujur, aku ingin mengutuk diri sendiri. Tidak bisakah cinta tumbuh seketika sebagai apresiasi untuk ketulusannya menyelamatkan kehormatan keluargaku? “Assalamualaikum, Humaira,” sapanya lembut. Aku mengangkat kepala menatapnya. Ia tersenyum demikian manis. Sangat manis. Bibirnya sedikit terbuka menampilkan giginya yang rapi. Tatapannya teduh menenangkan. Namun, semua itu tak juga membuat hatiku bergetar. “Waalaikumsalam,” sahutku gugup. Bukan karena aku salah tingkah, melainkan karena rasa tak enak hati. “Sudah mandi?” tanyanya. Aku tahu pertanyaan itu hanya basa basi untuk sekadar menegaskan. Sebab tangannya terangkat ke atas kepalaku. Jarinya menyisir rambut basahku. Allahu .... Aku mengeluh dalam hati. Adegan ini pernah kusaksikan di drama romantis kesukaanku. Saat itu, melihat adegan ini mampu membuatku bawa perasaan. Namun, kenapa saat ini ketika yang melakukannya adalah suamiku, semua terasa biasa saja? Justru aku merasa risih. Seharusnya semua ini bisa membuatku klepek-klepek. Bisa membuat sekujur tubuhku menggigil, bergetar oleh lompatan-lompatan setrum rasa yang ia alirkan. Atau bisa membuat jantungku berdegup kencang, menciptakan rasa hangat yang menjalar bersama aliran darah, menimbulkan suatu rasa aneh yang menjelma dalam bentuk suka cita, riuh bahagia kemudian aku akan menginginkannya, lagi dan lagi. Aku memejamkan mata sambil menarik napas perlahan, menenangkan kebingungan rasa yang baru saja kualami. Kemudian aku menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya. “Sudah sholat?” tanyanya lagi. Ia menghentikan aktivitas jarinya menyisir rambutku. Aku menggeleng. “Mau jamaah?” ia bertanya kembali dan kali ini aku mengangguk. Entah mengapa, bibir ini yang biasa selalu cap cis cus bersamanya, kini terasa lengket. Lidah terasa kelu. “Tunggu, ya. Aku mandi dulu,” pintanya sambil mencari sesuatu. Aku segera beranjak, mengambil handuk dari lemari dan menyerahkan padanya. “Terima kasih,” balasnya kemudian melangkah ke kamar mandi. Aku menatap punggungnya yang hilang di balik pintu. Mengapa tiba-tiba bersamanya terasa asing? Hahh! Desahku kasar sambil mengibaskan tangan di udara. Aku segera menyiapkan perlengkapan sholat, mengenakan mukena kemudian menggelar sajadah untuknya dan untukku. Aku berniat mengambilkannya baju ganti, tetapi ternyata bajunya masih di dalam tas. Masih rapi. Baginya pernikahan ini dadakan. Iya, dia mendadak harus menjadi pengantinku karena ulah si Andra. Jadi perlengkapan yang dia bawa itu hanya seadanya. Aku berdiri terpaku menatap tasnya, berpikir apakah akan membukanya atau tidak. Sopankah jika aku membukanya meskipun dia sekarang suamiku? Tapi jika tidak kubuka, aku tidak bisa menyiapkan pakaiannya. Walaupun aku belum bisa mencintainya, tapi menjalankan peran istri itu harus. Mencari ridho suami itu harus. Diantaranya dengan melayani segala kebutuhannya. Pintu kamar mandi terbuka, dia keluar dengan wajah lebih segar. Masih terdapat satu dua titik air di tubuhnya. Pria itu hanya mengenakan handuk di pinggang. Kulitnya bersih, seperti yang kuduga, tidak terlalu six pack tapi cukup kekar. “Zain ... eh, Bang bajunya ....” Ya Allah .... Aku mengusak rambut frustasi. Ribet amat, sih? Biasa memanggil dia sekenanya. Paling sopan juga kupanggil namanya utuh, Zain. Bahkan kadang kupelesetkan menjadi Zin. Namun, sekarang dia suamiku. Jadi aku harus memanggilnya dengan sebutan yang sopan dan menghormati, Abang! Ternyata mengubah sapaan itu terasa begitu canggung. “Santai saja, Cahaya. Tidak usah terlalu kikuk. Tidak usah buru-buru berubah. Pelan-pelan saja,” ucapnya serius, tapi menenangkan. Dia seolah mengerti kegundahanku. Jika sudah serius dia selalu berubah bijaksana. Eh, dia selalu bijaksana, sih. Hanya sesekali saja suka menggoda. Berbeda denganku yang selalu mengolok, bahkan tak jarang menjurus menjadi bully walau sekedar kelakar. Aku sedikit lega. Tidak merasa terlalu dituntut lagi. Padahal memang tidak ada yang menuntut. Hanya perasaan sendiri saja. “Bajunya biar Abang ambil sendiri aja. Nanti tolong kamu rapikan, ya. Dikeluarkan dari tas. Simpan di mana, gitu,” lanjutnya sambil jongkok membuka tas. Mengambil baju koko dan sarung dari dalam sana. Dia begitu luwes bicara lembut padaku. Apakah karena dia mencintaiku? Duh, apakah aku akan bisa demikian? Malam itu, pertama kali aku sholat diimami suami. Rasanya berbeda. Ada semacam haru menyeruak di d**a. Sebuah rasa yang mengingatkan diri bahwa sekarang aku seorang istri. Yang tindak tanduknya menurut pada sosok imam di depanku. Imamku itu, ternyata suaranya sangat merdu. Bacaannya juga tartil. Setelah selesai, dia berbalik ke arahku. Namun, tidak mengulurkan tangannya untuk kucium seperti bayanganku. “Cahaya, sekalian dua rakaat ya,” pintanya. Glek! Aku menelan saliva. Dua rakaat? Amalan di malam pertama! Tiba-tiba badanku serasa kaku. Aku terpaku. Tegang, tubuhku tidak bisa digerakkan. “Malam pertama?” desisku. Tadi aku belum sempat memikirkannya. Ya Robbi, akan bagaimana aku melewatinya? Tolong ...! Tolong ...! Adakah yang mau mengganggu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN