Hanya per sekian detik, kami terengah untuk pengalaman intens pertama kali. Aku bahkan merasa sesak dan hampir tidak bisa bernapas. Zain melepaskan sesapannya. Dia lantas menyatukan dahi kami. Sesaat dengan dahi yang saling beradu, kami saling diam dengan napas yang memburu, menenangkan hati dan perasaan masing-masing. Aku terus menunduk, menyembunyikan wajah yang entah bagaimana rupanya saat ini. "Ay," panggil Zain pelan setengah berbisik. Dia mengangkat wajahku yang menunduk dengan satu tangannya, memaksaku untuk melihat padanya. Meski napasnya masih memburu, bibirnya tampak menguntai senyum bahagia. "Hmm?" sahutku tidak kalah pelan. Bahkan nyaris tidak terdengar. "Ayo sarapan," ucapnya masih setengah berbisik. Entah mengapa aku sedikit kecewa dengan jawabannya yang tidak sesuai e

